lpkpkntb.com – Pagi-pagi sekali, Ratna mengetuk pintu rumah ibunya, Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Ratna pasti habis bertengkar lagi dengan suaminya.
Meski heran, karena biasanya Ratna hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya, Ayah Ratna yang juga keheranan, segera menghampirinya dan menanyakan masalahnya. Ratna mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam, Ratna kecewa karena suaminya telah membohongi Ratna selama ini, Ratna menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil. Ratna baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama, Sementara Ratna tahu, uang yang dia terima pun sejumlah uang yang sama.
Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Ratna, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain?
Ayah Ratna hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.
“Ratna…, Yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah melawan Firman Allah, karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu” Ratna kalimat ayah sontak membuat Ratna kebingungan, Ratna mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.
“Yang kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya, Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu, Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga, Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh”. Lanjut ayahnya.
“Suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita, Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama, Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang memilikinya”. Ayah Ratna melanjutkan
“Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu” mata ayah mulai berkaca-kaca.
“Ratna…, kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu, Jika suamimu berkenan padamu, maka Allah pun berkenan, Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya, Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya, Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya. Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibu nya”.
Ayah mengatakan itu dengan tangis, Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.
“Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan, Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja, Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya, Bekerja untuk keluarga barunya, Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya, Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya 1 tahun sekali”. Lanjutnya dengan tetesan air mata
“Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa? Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana, Anak-anakmu pun tidak akan betah disana, Ratna.., mendengar ini ayah sakit sekali. Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana, Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?. Uang itu diberikan untuk ibunya, Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan, Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya”.
Ratna membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Karena Ratna butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah, Ratna juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di SPA. Berjalan-jalan setiap minggu di mall, Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.
Ratna menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. Tukang gorengan yang berhasil, Menjadikan suaminya seorang sarjana, mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang, Berhasil mandiri, hingga Ratna bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.
“Ayaaah, maafkan Ratna”, tangis Ratna meledak, Ibunda Ratna yang sejak tadi duduk di samping Ratna segera memeluk anaknya dengan erat.
“Ratna… kembalilah ke rumah suamimu, Ia orang baik nak… Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya, Bantu suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga”. Ibunda Ratna membisikkan kalimat itu ke telinga Ratna, ia hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.
Ratnapun pulang menghadap suaminya dan sambil menangis memohon maaf kepada suaminya atas prasangka yang salah selama ini. Di lain hari, Ratnapun mengikiti suaminya bersilaturahmi kepada ibu kandung suaminya alias mertua dirinya. Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yang di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya, tetesan air mata suami bukan masalah jumlah liternya, tapi karena perubahan istrinya yang senang dan nampak ikhlas hendak datang kepada orang tuanya alias mertua istrinya.

Seterusnya Ratna berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya. Sesekali waktu, Ratna bukan mengajak suaminya ke Mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya.
Semoga kisah di atas dapat menyadarkan kita bahwa orang tua adalah nomer 1 dalam hidup ini, bukan istri atau anak, karena ridha Allah ada pada ridha orang tua.
