lpkpkntb.com – Beredar di media sosial video bentrokan antara militer dan pasukan paramiliter utama sudan sejak Sabtu (15/4) lalu telah menewaskan sedikitnya 185 orang dan melukai 1.800 lainnya.
Kemudian, Data itu diungkap oleh kepala misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Sudan, Volker Perthes. dilansir cnnindonesia.
Menurut Perthes, saat ini situasi di negara Afrika itu “sangat cair” sehingga sulit untuk mengetahui kondisi pemerintahan yang sebenarnya.
Bentrokan ini pecah ketika dua faksi utama rezim militer Sudan saling berebut kekuasaan di negara itu.
Pertama, ada militer Sudan yang berada di bawah kekuasaan penguasa de facto, Abdel Fattah al-Burhan.
Kubu kedua yaitu pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) ada di bawah kendali mantan panglima perang, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti.
Pihaknya bersama rekan-rekan pelajar lain yang tergabung dalam Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Sudan mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan dasar warga NU di sana dapat terpenuhi. Saat dikonfirmasi lebih lanjut, Danil tidak bisa menjawab karena kondisi daya baterai ponselnya habis. Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha mengungkapkan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan KBRI Khartoum terus memonitor situasi dan menjalin komunikasi dengan para WNI di Sudan.
Seperti yang di lansir dari Kompas.com. Seorang mahasiswa asal Desa Darek, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Danial Alya (33), mengaku terjebak akibat konflik Tentara Sudan dan Paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang terjadi di Khartoum, ibu kota Sudan. Pemuda yang akrab disapa Danil ini mengungkapkan, dirinya dan beberapa rekan mahasiswa belum dapat belajar di kampus. Bahkan, beberapa mahasiswa juga terisolasi karena tidak bisa keluar dari tempat tinggal.
“Di tempat saya tidak ada listrik dan air serta tidak ada suplai bahan makanan, membuat pasokan kebutuhan sehari-hari semakin menipis, bahkan ada beberapa rekan sudah kehabisan stok kebutuhan sehari-harinya,” ujar Danil melalui pesan WhatApp, Selasa (18/4/2023) pagi.
Danil menceritakan, pada Senin (17/4/2023) kemarin suasana di sekitar tempat tinggalnya mencekam. Pesawat tempur terbang melintasi tempat tinggalnya di Sudan.
“Pada tanggal 16 April 2023 telah adakan silaturahmi secara virtual antara Kemlu, KBRI Khartoum bersama para WNI di Sudan.
Pertemuan bertujuan memberikan update situasi keamanan terakhir di Sudan dan langkah-langkah perlindungan WNI,” kata Judha melalui pesan singkat.
Disampaikan Judha, hingga saat ini belum ada korban WNI yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Pihaknya saat ini telah melakukan dropping logistic untuk WNI yang terjebak di daerah tersebut. “Hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban konflik bersenjata di Sudan.
KBRI telah memberikan bantuan logistik kepada WNI yang membutuhkan dan menyediakan layanan hotline KBRI jika ada situasi kegawatdaruratan,” kata Judha.

