lpkpkntb.com – Di dunia bisnis, disrupsi sudah berulang kali terjadi, Nokia terdisrup Android, Blue Bird terdisrup Gojek, dan lain sebaganya.
Semua punya pola serupa. Sesuatu yang besar dan mapan, tergeser oleh entitas baru yang semula tak diperhitungkan.
Nokia maupun Blue Bird merasa memiliki segalanya untuk tetap menjadi raksasa. Mulai dari Infrastruktur masiv hingga formulasi mapan berpuluh tahun yang tak tersentuh para pendatang baru.
Tapi satu yang tak dimiliki keduanya, yaitu kesadaran bahwa dunia kini tak seperti dunia di mana mereka lahir dahulu. Sehingga mereka gagap ketika para anak bawang itu bergerak lincah mengikuti ritme dunia yang tengah berubah.
Perubahan dunia itu bergerak pasti. Mau tak mau, menggilas semua yang berpikir bahwa dunia masih sama seperti dahulu kala.
Dunia dakwah juga demikian. Entitas Dakwah yang besar dan mapan, bergerak lamban dan arogan.
Di saat yang sama, gerakan-gerakan baru bermanuver, tangkas memesona generasi muda yang merasa senada dengan jiwanya.
Begitupun dunia politik. Entitas politik besar, baik parpol ataupun negara, merasa tak tergoyahkan karena telah punya segala hal untuk terus berkuasa.
Tapi disrupsi bisa saja datang tak terduga.
Di level mikro, sosok-sosok besar yang telah lama berdiri kokoh di semua lini, boleh jadi terlupakan dalam sepi jika tak waspada dan jumawa.
Tak ingin terdisrupsi? Bijaklah dan mawas diri.
Oleh: Ustadz Doni Riwayanto

