lpkpkntb.com – Kata Guru Besar Ilmu Linguistik UGM Prof I Dewa Putu Wijana mengatakan ‘cawe-cawe’ berasal dari bahasa Jawa, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.
“Cawe-cawe itu adalah kata bahasa Jawa yang maknanya ‘ikut serta dalam menangani sesuatu’,” kata Putu Jumat (2/6/2023).
Mengutip dari Detik.com Dia menjelaskan makna ‘cawe-cawe’ itu netral. Penggunaan kata ini biasa digunakan dalam segala aktivitas.
“Maknanya sebenarnya netral, bisa digunakan untuk pengertian apa saja,” katanya.
Baca Juga:
Dampak Dari Politik Etis: Sebuah Kebijakan Balas Budi dari Belanda
Salah Satunya Sombong, 5 Cara Mengetahui Sifat Seseorang Dari Posisi Duduk, Anda yang Mana?
Dia mencontohkan penggunaan kata cawe-cawe, seperti “aku arep cawe-cawe ngewangi ibu neng dapur (aku mau ikut bantu ibu di dapur. aku cawe-cawe melu macul (aku ikut mencangkul),” katanya.
Dalam konteks saat digunakan Jokowi, Putu tidak menampik penggunaan kata ‘cawe-cawe’ yang tadinya netral bisa saja berubah. terutama dalam dunia politik.
Sementara dalam artikel yang di Tulis Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam artikelnya. Mengartikan apa yang dimaksudkan dengan cawe-cawe juga beragam. Begitulah pemaknaan terhadap satu istilah.
Karena ini berasal dari bahasa Jawa, barangkali saudara-saudara kita yang tidak bersuku Jawa mengalami
kesulitan untuk menangkap apa yang Presiden Jokowi maksudkan dengan cawe-cawe itu. Apa yang ingin saya ungkapkan dalam artikel ini
sepenuhnya pandangan dan pendapat saya.
Yang setuju dengan saya monggo, yang tidak setuju tentu saya
hormati. Itulah indahnya konstitusi kita, UUD 1945, yang menjamin dan memproteksi kebebasan berbicara,kebebasan menyampaikan pikiran dan pendapat. Inilah
salah satu nilai demokrasi yang kita anut. Tentu dengan catatan “freedom of speech” harus berdasar pada fakta dan
kebenaran (bukan fitnah atau hoax), dan bukan sebuah ujaran kebencian (hate speech) yang bisa menimbulkan keonaran bahkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan publik. Kebebasan berbicara juga mesti
disampaikan dengan bahasa dan cara yang patut serta bukan sumpah serapah yang bisa merusak jiwa masyarakat
kita.
NASIP PEKASIH DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) KIAN PERIH PENUH KESAKITAN
Hati-hati tidak berarti tidak berani, tidak tegas dan tidak punya sikap. Misalnya dalam pengambilan keputusan yang sangat fundamental dan strategis tak mungkin saya lakukan secara serampangan. Mengapa? Saya tidak ingin keputusan yang sangat penting tersebut salah, atau kalau
tidak kemudian berkali-kali saya ubah.
Bukan begitu kepemimpinan dan manajemen yang saya anut dan jalankan. Sikap seperti itulah, terutama soal kehati-hatian, yang
hendak saya gunakan untuk membedah dan menelaah apakah cawe-cawe yang dilakukan Presiden kita, Pak
Jokowi, itu benar atau salah, serta baik atau buruk.
Berikut Ada 5 hal yang ditulis SBY tentang cawe-cawenya Presiden Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2024.
1. Pak Jokowi, ataupun pihak Istana, mengatakan bahwa beliau memang akan melakukan cawe-cawe dalam Pilpres 2024. Tetapi, itu cawe-cawe yang
baik dan demi kepentingan bangsa dan negara.
2. Dari berbagai sumber yang kredibel didapat informasi bahwa Pak Jokowi hanya menghendaki dua pasangan capres-cawapres. Bukan tiga apalagi
empat pasangan
3. Juga diketahui oleh banyak pihak bahwa Pak Jokowi tidak suka dengan Anies Baswedan, dan tidak ingin
pula yang bersangkutan jadi Capres.
4. Didapatkan berbagai informasi bahwa Pak Jokowi akan memberikan “endorsement” kepada sejumlah
tokoh untuk menjadi Capres atau Cawapres.
5. Menurut pengakuan dan pernyataan sejumlah pimpinan partai politik, baik secara terbuka maupun tertutup, Pak Jokowilah yang akan menentukan
dan memberikan kata akhir siapa pasangan caprescawapres yang mesti diusung oleh partai-partai
politik itu.
Demikian arti dari cawe-cawe yang ditulis Bapak mantan Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
(Sa/ya).

