Skandal Uang Palsu di Kampus Islam: Berikut Profil Prof Hamdan Rektor UIN Alauddin

Avatar of lpkpkntb
Skandal Uang Palsu di Kampus Islam: Berikut Profil Prof Hamdan Rektor UIN Alauddin
Uang Palsu di Kampus Islam: Prof Hamdan Rektor UIN Alauddin. DOK. (Isti).

.Prof. Hamdan Juhannis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, yang dikenal sebagai seorang akademisi, penulis, dan tokoh pendidikan Islam.

Baca:Bongkar Sindikat: Oknum Dosen dan Staf Diduga Terlibat Pabrik Uang Palsu di Kampus UIN Makassar

Ia memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang sosiologi agama, dengan gelar doktor yang diraihnya di Australia. Selama masa kepemimpinannya, Prof. Hamdan berupaya mendorong modernisasi dan inovasi di lingkungan UIN Alauddin, termasuk penguatan kualitas pendidikan dan pengembangan riset.

Screenshot 2024 12 16 07 02 57 89 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122

Namun, UIN Alauddin sempat menjadi sorotan negatif karena kasus dugaan pencetakan uang palsu yang melibatkan oknum di lingkungan kampus tersebut.

Kasus ini menuai kritik keras dari berbagai pihak, termasuk Prof. Qasim Mathar, seorang akademisi senior yang vokal memberikan pandangannya terhadap berbagai isu di dunia pendidikan. Dalam kritiknya, Prof. Qasim menyoroti lemahnya pengawasan dan integritas di kampus, serta mengingatkan pentingnya menjaga nama baik institusi pendidikan Islam.

Insiden ini menjadi tantangan besar bagi Prof. Hamdan sebagai pemimpin UIN Alauddin untuk memulihkan reputasi kampus, memperbaiki tata kelola, dan memperketat pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.

Langkah konkret dalam merespons kritik ini akan menjadi ujian kepemimpinannya di tengah dinamika dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Prof Qasim Mathar menyebut apabila ada hal buruk terjadi di dalam satu rumah, maka itu menandakan kepala rumah tidak melaksanakan fungsi kontrol internal.

“Kontrol internal yang tidak dilakukan, baru tersingkap ketika ada kejadian yang melahirkan berita besar,” ujar Qasim. Dilansir Tribun makassar.

Apalagi seseorang pemimpin akan dikenang dengan peristiwa-peristiwa besar di zamannya, yang baik dan buruk.

Namun biasanya, peristiwa besar yang buruk walau lebih sedikit, bisa membuat lupa mengenang peristiwa besar yang baik walau lebih banyak.

“Di situlah ketidakadilan sejarah. Lebih tegasnya seperti peribahasa nila setitik merusak susu sebelanga. Hendaknya senantiasa diingat saat seseorang menjadi pemimpin,” ujar Qasim.

Prof Hamdan Tunggu Penyelidikan Polisi