MATARAM — Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) menjadi ruang perjumpaan antara musik, spiritualitas, dan kebudayaan melalui Workshop Musik bertajuk “Senandung Sufi: Merangkai Bunyi, Menyulam Rindu Ilahi”. Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Atqia UNU NTB, Senin (24/8/2026), mulai pukul 09.00 WITA.
Workshop menghadirkan Munir Debu Attambrani, salah satu musisi kelompok musik Debu, bersama Na’am Grupo dari Depok, Jawa Barat, dan Tari Sufi Nusantara. Kehadiran para pelaku seni tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal musik islami dan tari sufi secara lebih dekat, tidak hanya sebagai bentuk pertunjukan, tetapi juga sebagai ekspresi spiritual dan kebudayaan.
Melalui workshop ini, musik diperkenalkan sebagai medium yang dapat mempertemukan kreativitas artistik dengan penghayatan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, tari sufi ditempatkan sebagai praktik seni yang menghubungkan gerak, irama, dan pengalaman batin. Perspektif tersebut penting untuk memperluas pemahaman mahasiswa dan masyarakat terhadap keragaman ekspresi seni dalam tradisi Islam.
Kegiatan diikuti oleh sivitas akademika UNU NTB, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Dinas Pariwisata Kota Mataram, SMA Negeri 4 Mataram, Sanggar Budaya Pelangi Mataram, serta masyarakat umum. Keragaman peserta memperlihatkan bahwa pengembangan musik islami dan tari sufi memiliki keterkaitan dengan bidang pendidikan, kebudayaan, keagamaan, dan pariwisata.
Workshop terselenggara melalui kerja sama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi NTB dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNU NTB. Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh BKMT Provinsi NTB dan Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB.
Selain memperkuat wawasan mengenai musik islami dan tari sufi, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertemuan antar pemangku kepentingan. Perguruan tinggi, lembaga keagamaan, pemerintah daerah, sekolah, komunitas seni, dan masyarakat dipertemukan untuk membangun komunikasi serta membuka peluang kerja sama yang lebih berkelanjutan.
Bagi mahasiswa, workshop tersebut memberikan pengalaman pembelajaran di luar ruang kuliah melalui interaksi langsung dengan pelaku seni. Musik dan tari tidak hanya dipahami dari aspek bentuk dan teknik, tetapi juga dari nilai, konteks sosial, serta pesan spiritual yang melatarbelakanginya. Pendekatan ini relevan dengan upaya perguruan tinggi memperkuat literasi budaya dan kepekaan sosial mahasiswa.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, UNU NTB dan BKMT Provinsi NTB juga menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Penandatanganan tersebut menegaskan komitmen kedua lembaga untuk membangun hubungan kelembagaan yang lebih terarah antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Nota kesepahaman tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan program kolaboratif yang dapat ditindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas kedua lembaga. Langkah ini sekaligus memperlihatkan keseriusan UNU NTB dalam memperluas jejaring kemitraan serta menghadirkan peran perguruan tinggi secara lebih nyata di tengah masyarakat.
Penyelenggaraan “Senandung Sufi” menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium pembelajaran sekaligus ruang membangun kolaborasi. Melalui pertemuan antara musisi, akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat, musik islami dan tari sufi memperoleh konteks yang lebih luas sebagai bagian dari pendidikan, ekspresi kebudayaan, dan penguatan hubungan sosial.
