Lombok Tengah – Budaya membaca di tengah masyarakat menjadi perhatian serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi dinilai membawa tantangan baru bagi gerakan literasi, terutama di kalangan generasi muda yang kini lebih banyak mengandalkan telepon pintar sebagai sumber informasi dan hiburan.
Baca Juga:Gubernur NTB Serahkan Radiogram Mendagri, Pastikan Pemerintahan Lombok Barat Tetap Berjalan
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi santai bertajuk “Literasi, Pusat Transformasi Pembelajaran” yang digelar bersama pengelola Ulul Azmi Literasi di Dusun Adong. Diskusi yang berlangsung dalam suasana akrab itu dihadiri Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah, Lalu M. Ahyar, S.Sos., yang akrab disapa Miq Kembar.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai persoalan mengenai tantangan dan masa depan literasi di era digital menjadi topik utama pembahasan. Menurut Lalu M. Ahyar, perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat mengakses pengetahuan. Kehadiran telepon pintar kini menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencari informasi maupun hiburan, sehingga minat membaca buku serta mengunjungi perpustakaan maupun ruang-ruang literasi mulai mengalami penurunan.
“Perubahan ini menjadi tantangan bersama. Kita tidak bisa menutup mata bahwa pola membaca masyarakat telah berubah seiring perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi tersebut tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata. Sebaliknya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat budaya literasi melalui pendekatan yang lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Dalam diskusi itu juga berkembang pandangan bahwa digitalisasi bukanlah musuh literasi. Teknologi justru dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan apabila dikelola dengan baik. Persoalan utamanya, menurut peserta diskusi, adalah belum optimalnya sistem pengelolaan literasi yang mampu mengikuti perubahan zaman.
Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, dan masyarakat untuk menghadirkan ruang-ruang belajar yang lebih inovatif, baik secara luring maupun melalui platform digital.
Pengelola Ulul Azmi Literasi berharap gerakan literasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan minat baca, tetapi juga mampu membangun budaya belajar sepanjang hayat, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan di era digital. Melalui sinergi berbagai pihak, literasi diharapkan dapat terus berkembang sebagai pusat transformasi pembelajaran dan penguatan peradaban masyarakat.
Media mencoba update Berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Lombok Tengah tahun 2024 tercatat sebesar 38,01 dan berada pada kategori rendah. Pada 2025, Perpustakaan Nasional mengubah metode pengukuran IPLM dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM), sehingga hasilnya tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan tahun sebelumnya. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah terus memperkuat gerakan literasi melalui pengukuhan Bunda Literasi dan peluncuran berbagai program untuk meningkatkan budaya membaca masyarakat. Sementara itu, rata-rata Provinsi NTB berada pada angka 60,42 dengan kategori sedang.
