Waow ! Permainan Tradisional Gobak Sodor VS Motorik Kasar Anak SDN 34 Mataram

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2024 06 22 11 52 44 21 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122
Buku referensi olahraga tradisional

lpkpkntb.com –  Melalui permainan tradisional, bagian dari bentuk usaha mengembangkan potensi keterampilan motorik dan perkembangan anak sekolah dasar, terutama anak sekolah dasar kelas atas secara menyeluruh.

Hal ini membutuhkan layanan latihan atau berupa pendekatan permainan untuk memperbaiki motorik kasar dengan penanganan sesuai karakteristik dan kemampuan anak sekolah dasar kelas atas.

Berikut ini akan di bahas sekilas tentang permainan tradisional Gobak Sodor atau daerah lain menyebutkan permainan selodor.

IMG 20230214 095251
Siswa SDN 34 Mataram, sedang bermain Gobak Sodor, terlihat siswa menikmati permainan bersama teman nya.

Mari kita kaji apa yang di maksud dengan model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai suatu tujuan yang dirancang secara sistematis.

Pelaksanaan Permainan Gobak Sodor dan Tujuan pembelajaran

  1. Mengembangkan kesadaran tubuh, kesadaran ruang dan arah (ranah motor),
  2. Mengembangkan kemampuan motorik kasar kecepatan, kelincahan, melempar, dan menangkap dan,
  3. Melatih kerja sama dan bersosial dalam bermain sodor (indikator ranah efektif).
  4. Peralatan: gobak sodor (kapur, bola plastik, pita dan peluit).

Peraturan permainan dalam permainan Selodor adalah guru membuat lapangan gobak sodor, selanjutnya guru mengukur panjang dan lebarnya lapangan 17 m x 9 m, menjadi 16
bagian (lapangan selodor di sesuaikan dengan jumlah siswa) dalam satu petak/kotak ukurannya 4 meter jarak dengan kotak yang lain.

Pemain terdiri dari 2 regu masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang.

Sebelum permainan dimulai diadakan undian, yang kalah
sebagai tim penjaga dan yang menang sebagai tim penyerang dengan diberikan tanda ikat fungsinya untuk membedakan mana tim penyerang dengan tim penjaga.

Regu penjaga menempati garisnya masing-masing dengan kedua atau salah satu kaki berada di atas garis sodor, sedangkan regu penyerang siap untuk masuk menerobos hadangan. Permainan dimulai setelah wasit membunyikan peluit.

Penyerang berusaha mengoper bola ke temannya saat salah
satu temannya sudah masuk ke petak kedua melewati garis depan atau tingkatan dengan menghindari tangkapan bola atau sentuhan penjaga.

Penjaga berusaha menangkap bola dan menyentuh penyerang dengan tangan dalam posisi kedua kaki atau salah satu kaki berpijak pada garis sodor, sedangkan kaki yang satu lagi melayang.

Apabila dalam mengoper bola dapat ditangkap penjaga sebanyak dua (3) kali atau tersentuh pemainnya sebanyak dua (3) kali, maka tim penyerang dikatakan mati, dan tim penyerang
berganti menjadi tim penjaga.

Apabila bola keluar dari arena permainan/garis sodor sebanyak dua (3) kali, maka tim penyerang dikatakan mati dan berganti posisi menjadi tim penjaga.

Setelah tim penyerang sampai pada tahap akhir,tanpa sentuhan maka penyerang berbalik arah dan melakukan permainan seperti biasa.

Demikian sekilas tentang modifikasi permainan sebagai pembelajaran yang efektif dalam hal mengembangkan gerak motorik anak sekolah dasar  lengkap nya bisa baca Jurnal.

DEVELOPING A MOTOR LEARNING MODEL THROUGH MODIFIED TRADITIONAL GAMES FOR UPPER GRADE STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL

Hasbi, Pamuji Sukoco
SD Cakra Mataram Nusa Tenggara Barat, Universitas Negeri Yogyakarta.