Waspada! Hantavirus Terdeteksi di NTB, Dinkes Minta Warga Kenali Gejala dan Cegah Penularan dari Tikus, Selengkapnya

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2026 08 07 22 50 08 80 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122

Mataram – Keberadaan virus Hantavirus resmi terdeteksi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus, berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan berat apabila tidak segera ditangani.

Baca Juga:Tikus Sering Masuk Rumah? Ini 12 Cara Jitu yang Jarang Diketahui Orang , Anda Boleh Coba!

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB mengonfirmasi telah mengambil langkah-langkah antisipatif menyusul ditemukannya kasus tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan mengurangi risiko paparan terhadap tikus maupun lingkungan yang terkontaminasi.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat atau benda yang telah terkontaminasi.

Infeksi Hantavirus dapat menimbulkan gejala awal berupa demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan tubuh terasa lemas. Pada kondisi yang lebih berat, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga penurunan fungsi ginjal yang memerlukan penanganan medis intensif.

Menyikapi temuan tersebut, Dinkes NTB mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja. Area yang berpotensi menjadi sarang tikus, seperti gudang, tumpukan barang, saluran air, dan tempat penyimpanan makanan, perlu dibersihkan secara rutin.

Selain itu, makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk menghindari kontaminasi. Saat membersihkan ruangan atau lokasi yang diduga tercemar kotoran tikus, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan guna mengurangi risiko menghirup partikel yang mengandung virus.

Dinkes juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah beraktivitas di lingkungan yang banyak ditemukan tikus. Warga yang mengalami demam mendadak, nyeri otot, sesak napas, atau keluhan lainnya setelah terpapar lingkungan berisiko diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat agar mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin.

Pemerintah berharap masyarakat tidak panik, tetapi meningkatkan kewaspadaan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Pengendalian populasi tikus, menjaga sanitasi lingkungan, serta deteksi dini terhadap gejala penyakit menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran Hantavirus di NTB.

Dinkes NTB menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kondisi tetap terkendali serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat tersebut.