702 Penerima Beasiswa Pascasarjana 2025 Didorong Kemdiktisaintek Kembangkan Budaya Ilmiah Unggul

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2025 03 03 04 32 05 47 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Dikti Kemdiktisaintek) sukses menyelenggarakan Anjangsana Daring Penerima Beasiswa Pascasarjana Ongoing Tahun 2025.

Baca: Miris! Dosen Swasta dan Mahasiswa S1, S2 dan S3 Berjuang di Jakarta Demi Tambahan Kuota BPI

Kegiatan ini bertujuan memperkuat komunikasi antara pemerintah dan penerima beasiswa serta membangun ekosistem ilmiah unggul untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Acara ini diikuti oleh 702 penerima beasiswa dari berbagai skema yang dikelola Direktorat Sumber Daya, seperti Program Pendidikan Magister Menuju Sarjana Unggul (PMDSU), Tut Wuri Handayani, Indonesia-Austria Scholarship Program (IASP), Beasiswa Kemitraan Indonesia (BKI), Circular Economy Scholarship Program (CESP), dan Dikti-Coventry University.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menegaskan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam menciptakan sumber daya manusia unggul.

“Pendidikan tinggi bukan hanya sarana untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga investasi bagi masa depan bangsa. Sebagai penerima beasiswa, Anda adalah individu terpilih yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” ujar Khairul Munadi.

Baca:BERBAHAYA!! Ombudsman Didesak Usut Penurunan Kuota Beasiswa BPI 2024

Staf Khusus Menteri Bidang Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, I Gede Wenten, turut menyampaikan materi bertajuk “Budaya Ilmiah Unggul”. Ia menekankan bahwa riset adalah pilar utama menuju Knowledge-Based Economy atau ekonomi berbasis pengetahuan.

“Institusi akademik dan riset adalah jantung pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Penguatan budaya ilmiah dan ekosistem inovasi harus menjadi prioritas strategi pembangunan nasional agar Indonesia mampu bersaing secara global,” jelasnya.

I Gede Wenten juga mendorong para penerima beasiswa untuk tetap produktif meskipun menghadapi keterbatasan dana.

“Kreativitas dan kemandirian adalah kunci. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan berhenti berkarya. Kolaborasi akademik dan metode riset inovatif akan membuka peluang dukungan dari berbagai pihak,” tambahnya.

Diskusi interaktif pun berlangsung hangat, membahas berbagai topik penting seperti peningkatan publikasi ilmiah, kolaborasi riset internasional, serta strategi penyelesaian studi tepat waktu. Salah satu peserta, Mohamad Almas Prakasa, menegaskan bahwa meski ada tantangan, semangat membangun budaya ilmiah tak boleh pudar.

“Harapan saya, komitmen Kemdiktisaintek untuk memperkuat budaya ilmiah terus diwujudkan. Budaya keilmuan di Indonesia harus terus dihargai dan dikembangkan,” ucapnya.

Di penghujung acara, Direktur Sumber Daya, Sri Suning, menyampaikan bahwa sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah adalah kunci untuk memperkuat ekosistem riset nasional.

“Bonus demografi kita semakin terbatas. Ilmuwan muda, peneliti, dan akademisi adalah tulang punggung masa depan bangsa. Mari kita manfaatkan potensi ini demi kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan nasional,” tegas Sri Suning.

Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif dan berdaya saing tinggi, memperkuat budaya ilmiah, serta mendukung inovasi berbasis riset guna mewujudkan Indonesia Emas 2045.