lNGERI! Kisah Jasad Mustafa Kemal Attaturk Bau dan Ditolak Bumi Bertindak Radikal, Hoaks?

Avatar of lpkpkntb

Kekhalifahan Utsmaniyah berakhir pada 1909 H, dan kemudian benar-benar dihapuskan pada 3 Maret 1924 H. Setidaknya ada tiga sebab yang melingkupi keruntuhan kekhilafahan kebanggaan kaum muslimin ini, antara lain :

Pertama; Kondisi Pemerintahan yang lemah dan kemorosotan akhlak

Penurunan drastis ketakwaan individu menyebabkan akhlak umat mulai merosot. Turki mulai mengalami kemunduran setelah terjangkit penyakit yang menyerang bangsa-bangsa besar sebelumnya, yaitu: cinta dunia dan bermewah-mewahan, sikap iri hati, benci membenci, dan penindasan.

Baca Juga:

Tampang Penghina Nabi Muhammad SAW, Palestina dan Muslim Indonesia, Viral Videonya Lukman Doloksaribu

KOMPLOTAN KRISTEN RADIKAL/ANTEK ZIONIS ISRAEL GANGGU DAN SERANG AKSI DAMAI BELA PALESTINA DI MANADO SULUT

Pejabat pemerintahan terpuruk karena korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta. Begitu pula rakyat yang terus menerus tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan hidup, meninggalkan pemahaman dan semangat jihad. Fanatik madzhab merebak di mana-mana. Kemudian mencukupkan Imam Madzhab dan timbul opini tertutupnya pintu ijtihad. Sehingga umat kebingungan dan berada dalam keruwetan pada saat menghadapi persoalan-persoalan baru yang terjadi pada umat Islam.

Kedua; serangan militer dari Eropa

Sebelum terjadinya Perang Dunia I yang menghancurkan Turki, upaya penyerangan dari Raja Eropa ke Turki sebenarnya sudah dimulai pada akhir abad 16, di mana saat itu keluar pernyataan yang menyatakan bahwa; ”Sri Paus V, Raja Prancis Philip dan republik Bunduqiyah sepakat untuk mengumumkan perang ofensif dan defensif terhadap orang-orang Turki untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Turki seperti Tunisia, Al-Jazair dan Taroblush.”
Sejak itulah Turki melemah karena banyaknya pertempuran yang terjadi antara mereka dan negara-negara Eropa. Puncak dari semua itu adalah keterlibatan Turki dalam Perang Dunia I pada 2 Agustus 1914 atas rencana busuk dari Mustapa Kamal, dan mengakibatkan Turki kehilangan segala-galanya, di mana militer penjajah akhirnya memasuki Istambul.

Ketiga; gerakan oposisi sekuler dan nasionalis

Selain serangan konspirasi dari luar, Utsmaniyah juga menghadapi tantangan internal berupa Isu Nasionalisme Arab. Orang Arab yang merasa lebih mulia daripada orang Turki karena Islam berasal dari Arab sehingga mereka enggan dipimpin seorang Khalifah yang berasal dari Turki. Hal ini memicu terjadinya separatisme yang semakin menggerogoti kekuatan dan wilayah Utsmani.

Utsmani juga mendapat perlawanan oposisi dari organisasi sekuler dan nasionalis yang sempit, seperti Organisasi Wanita Turki dan Organisasi Persatuan dan Kemajuan yang digawangi oleh Mustafa Kemal.

Dalam perjuangannya, mereka banyak bekerja sama dengan negara Eropa untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan. Puncaknya apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal, organisasi Persatuan  dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan Khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan dan tinggal menjadi simbol belaka. Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai  presiden Turki dan membubarkan khilafah Islamiyah.

Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan perdaban Islam. Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan Negara Turki Sekuler.

Di antaranya ia mengambil langkah; menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum  wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Akibat ulah Mustafa Kamal, pemaksaan ini akhirnya menjadikan Turki sebagai Republik Sekuler yang sangat anti terhadap  dakwah Islam.  Ciri Islam di Turki hampir – hampir hilang sama, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan jejak peradaban Islam di tanah Turki.

Sesaat berkuasa,  Kemal Attaturk pernah menggantung  tiga puluh ulama.  Ia mengatakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang, itu akan memerlukan waktu tiga generasi,” begitulah Kamal Attaturk, selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti agama, seorang yang dikenal sebagai pencetus  ‘sekulerisme Turki’ sekaligus penghancur kekhalifahan Turki dan agama Islam.

Balasan atas Kedzaliman

Sekiranya Kamal Attaturk ini lahir di zaman adanya Rasul pada saat ketika wahyu masih turun, bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Fir’aun, Namrud dan Abu Lahab. Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka, orang-orang yang dzalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat unik.

Namrud, mati karena sakit kepala  akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, dokter pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya dia mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.

Nasib serupa dialami Mustafa Kamal Attaturk juga menerima pembalasan yang setimpal dari Allah. Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis  minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit  seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever. Dia meninggal dunia pada 10 November 1938, kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal.

Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu dia masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratul maut.

https://youtu.be/4Zm8nFK18Mg?si=xnQcoXlvGOR7xTkn

Anehnya dia takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah, dia tidak dapat menahan diri daripadanya kecuali menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana). Dia berteriak kesakitan dalam sakratul mautnya dengan penuh siksa di tengah-tengah laut.

Dr. Abdullah ‘Azzam dalam buku ‘Al Manaratul Mafqudah’, menjelaskan detik-detik menjelang ajal sang hina Mustafa Kemal Attaturk. Menurutnya, sebuah cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin (GO). Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya (ascites), dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.

Dalam Kitab ”Al-Jaza Min Jinsil Amal” Karangan Syeikh Dr. Sayyid Husien Al-Affani disebutkan, walaupun Attaturk dikelilingi para dokter, namun penyakit kangker hatinya baru di ketahui pada tahun 1938 padahal dia telah merasakan pedihnya penyakit tersebut sejak 1936.

Pada Kamis tanggal 10 oktober 1938, Kamal Attatruk terlempar ke ‘sampah sejarah’ setelah ia mengalami sakaratul maut sebulan lamanya yang tidak ada satupun dari pembantu dan para dokternya yang berani mendekati dia ketika itu.

Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, ia dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan  gedung parlemen.

Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulukit di Ankara.

Fakta Pemakaman Mustafa Kemal Ataturk

Seperti dicatat oleh banyak sumber, Ataturk meninggal di Istana Dolmabahce di kota Istanbul pada 10 November 1938 pukul 09.05 pagi. Ia saat itu berusia 57 tahun dan diduga meninggal karena mengalami pengerasan liver.

blankMedia mengabarkan kematian Ataturk, 1938
Media lokal pada 11 November 1938 memberitakan kematian Presiden Mustafa Kemal Ataturk sehari sebelumnya. (Foto: Wikimedia Commons)

Tak sesuai rumor di atas, jenazah Ataturk dirawat oleh Prof Mehmet Kamil Berk, salah seorang penandatangan sertifikat kematian Ataturk, dengan tatacara Islam. Tubuh Ataturk memang dibalsem karena proses pemakaman kemungkinan akan tertunda selama beberapa hari.

Pembalseman dilakukan oleh Prof Lutfi Aksu dari Gulhane Military Medical Academy (GMMA) di Ankara, seperti ditulis koran Hurriyet pada tahun 1998. Jenazahnya disemayamkan sementara saudarinya Makbule Atadan, para pejabat tinggi Turki dan orang berpengaruh lainnya memberi penghormatan terakhir selama 3 hari penuh.

blankarak-arakan pemakaman Ataturk di tahun 1938
Arak-arakan dalam pemakaman Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1938. (Foto: Wikimedia Commons)

Sebagai bentuk penghormatan terhadap ‘Bapak Pendiri Turki’, jenazah Ataturk sedianya hendak dimakamkan di puncak bukit tertinggi di kota Ankara, Rasattepe. Makamnya ini nantinya akan menjadi musoleum besar, dan oleh karenanya dibutuhkan waktu pembangunan selama 15 tahun.

Selama menunggu jadinya musoleum itu, jenazah Ataturk ditempatkan sementara di Museum Ethnography Ankara, di dalam sebuah sarkofagus marmer putih yang juga dibungkus dengan bendera Turki.

Dengan begitu bisa diketahui bahwa peletakan jenazah Ataturk dalam Museum Etnografi, dalam tatacara pembalseman, bukan karena “tanah tidak menerima” mayatnya, tapi karena ia sedang dicarikan tempat yang luhur oleh masyarakat Turki saat itu.

Pada tahun 1953, dengan rampungnya pembangunan musoleum Anitkabir, sarkofagus dibuka dan petinya dibawa keluar disaksikan sang adik, Presiden Celal Bayar, Ketua Parlemen Refik Koraltan, Perdana Menteri Adnan Menderes dan sejumlah pejabat tinggi Turki.

Setelah para ahli memastikan kondisi jenazah Ataturk, prosesi pemindahan peti dijalankan menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya di Anitkabir. Majalah Times. saat itu memaparkan 138 prajurit muda berbaris mengawal iring-iringan sepanjang 3 kilometer. Sementara itu, 21 juta warga Turki berdiri mengheningkan cipta selama lima menit di seluruh penjuru negeri.

Selain pejabat publik dan pemimpin di negeri Turki saat itu juga hadir wakil pimpinan sejumlah agama di Turki, seperti Patriark Armenia, Patriark Yunani Ortodoks, Uskup Katolik Roma, Kepala Rabi Yahudi dan juga Presiden Urusan Agama Muslim di Turki.

(Al-Hikmah).