LUAZ Foundation Gelar Pelatihan Menulis Cerpen, Bunda Literasi NTB Soroti Pentingnya Rekam Jejak Digital

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2026 08 10 12 09 27 90 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122

LOMBOK TENGAH — Literasi Ulul Azmi (LUAZ) Foundation menggelar pelatihan dan praktik menulis cerpen bagi pelajar sebagai upaya memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong generasi muda agar mampu berpikir kritis dan kreatif.

Kegiatan bertema “Menghidupkan Cerita, Menghidupkan Cinta Baca” itu berlangsung di Sekretariat LUAZ Foundation, Desa Penujak, Lombok Tengah, Minggu (9/8/2026).

Puluhan pelajar tingkat SMP dan SMA mengikuti kegiatan tersebut. Acara juga menghadirkan sejumlah pegiat literasi, di antaranya Bunda Literasi Provinsi NTB Sinta M. Iqbal, Bunda Literasi Kabupaten Lombok Tengah Nurul Aini Pathul Bahri, penulis buku Olga Mis Soransa, S.Si., serta perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Toni Syamsul Hidayat.

Kehadiran para pegiat literasi tersebut memberikan motivasi kepada peserta mengenai pentingnya membangun kebiasaan membaca dan menulis sejak usia sekolah.

Bunda Literasi NTB Ingatkan Rekam Jejak Digital

Bunda Literasi Provinsi NTB Sinta M. Iqbal mengajak para pelajar menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis.

Menurutnya, menulis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi cara bagi seseorang untuk memahami persoalan, menyusun gagasan, sekaligus menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan para pelajar agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Pasalnya, berbagai tulisan maupun konten yang dipublikasikan di ruang digital dapat menjadi bagian dari rekam jejak seseorang dalam jangka panjang.

“Kita berharap adik-adik ini memiliki kemampuan untuk memahami dan berpikir secara kritis, salah satunya dengan menulis. Sisi positifnya, apa pun yang kalian tulis akan terus bertahan. Namun sisi negatifnya, kalau kalian menulis hal yang tidak baik, itu juga akan bertahan abadi di dunia digital,” papar Sinta.

Menurut dia, rekam jejak digital bahkan dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika seseorang memasuki dunia kerja.

Karena itu, para pelajar didorong untuk membiasakan diri membaca, mencatat, mengolah informasi, kemudian menuangkannya dalam bentuk gagasan maupun karya yang positif.

“Jadi, berhati-hatilah betul dengan apa yang kalian tulis,” pesannya.

Tantangan Menulis di Era AI

Ketua Panitia kegiatan, Lalu Ahyat, mengatakan pelatihan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kebiasaan sebagian generasi muda yang kini lebih banyak membuat konten singkat di media sosial dibandingkan menghasilkan karya tulis.

Menurutnya, keterampilan menulis tetap memiliki posisi penting meskipun teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat.

“Menulis itu sangat penting pada saat ini. Mungkin sudah ada AI, tapi AI belum mampu untuk menghadirkan emosi dan perasaan di dalam sebuah karya. Keterampilan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia dan harus dimiliki,” ujarnya.

Karena itu, melalui pelatihan tersebut LUAZ Foundation berupaya memberikan ruang kepada pelajar untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang lahir dari pengalaman, pemikiran, kreativitas, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Literasi Butuh Kolaborasi

Perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Toni Syamsul Hidayat, mengatakan penguatan budaya literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Menurutnya, pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem literasi.

Penguatan tersebut juga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai program pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Lombok Tengah Nurul Aini Pathul Bahri mengatakan penguatan literasi tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan.

“Terkait perpustakaan kami akui masih kurang. Oleh karena itu, dalam waktu dekat ada program pelatihan pustakawan bagi teman-teman guru di sekolah maupun perpustakaan desa,” jelasnya.

Selain pelatihan pustakawan, pihaknya juga menyiapkan program lomba bercerita antara orang tua dan anak tingkat taman kanak-kanak yang akan dirangkaikan dengan permainan tradisional.

Libatkan Guru dan Penggiat Media Sosial

Kegiatan LUAZ Foundation tersebut juga melibatkan unsur masyarakat yang lebih luas.

Sebanyak 25 penggiat media sosial komunitas literasi dan 25 guru PAUD turut ambil bagian, khususnya dalam praktik membaca nyaring atau read aloud.

Tokoh masyarakat Desa Penujak juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem literasi berbasis masyarakat.

Melalui kegiatan pelatihan dan praktik menulis cerpen, LUAZ Foundation berharap lahir generasi muda Lombok Tengah yang tidak hanya aktif menggunakan teknologi dan media sosial, tetapi juga memiliki kemampuan membaca secara kritis, berpikir mendalam, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen LUAZ Foundation untuk mendorong gerakan literasi yang kreatif, kolaboratif, dan berkelanjutan di Lombok Tengah dan NTB. (Amaq Auliya)