Ijazah Wakil Presiden RI Dipajang Permanen di Kampus Ternama Belanda

Ijazah Wakil Presiden RI Dipajang Permanen di Kampus Ternama Belanda
Ijazah Wakil Presiden RI Dipajang Permanen di Kampus Ternama Belanda. (Dok.Istimewa/pixabay)
Ada sebuah kisah menarik di kampus ternama di Belanda yang menyimpan jejak perjuangan bangsa Indonesia.
Sebuah dokumen bersejarah milik tokoh penting Tanah Air dipajang secara permanen sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan perjuangannya.
Hadiah TUNAI Rp270.000 lagi menunggumu! Klaim Sekarang. https://vpkami.com/25IZe
Bukan sekadar penghargaan akademis, keberadaan dokumen tersebut menjadi pengingat akan perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Menariknya, sosok di balik dokumen bersejarah itu pernah ditangkap dan diadili oleh pemerintah Belanda akibat aktivitas politiknya. Namun, perjuangannya tidak berhenti di ruang pengadilan. Melalui pemikiran dan pembelaannya, ia justru menyuarakan cita-cita kemerdekaan Indonesia di hadapan dunia internasional.

Dokumen yang dimaksud adalah salinan ijazah milik Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, yang dipajang secara permanen di Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda.

Dilansir dari situs Erasmus Magazine, ijazah tokoh yang akrab disapa Bung Hatta tersebut dipamerkan di aula sebuah bangunan bernama Hatta Building. Bangunan itu dinamai untuk menghormati perjuangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bung Hatta dahulu merupakan mahasiswa EUR, yang sebelumnya bernama Nederlandse Handelshogeschool.

Tokoh pendiri bangsa tersebut menempuh pendidikan di Belanda pada 1921–1932. Selama berada di negeri yang menjajah Indonesia itu, ia bergabung dan aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia. Hatta kemudian terpilih menjadi ketua organisasi tersebut pada 1926–1930.

Di bawah kepemimpinannya, arah pergerakan mahasiswa berubah menjadi organisasi politik yang secara tegas mengumandangkan asas nonkooperasi demi mencapai kemerdekaan penuh Indonesia. Sejak awal, Hatta dikenal sebagai sosok yang menentang kolonialisme.

Pada 1927, Hatta ditangkap pemerintah Belanda karena aktivitas politiknya yang dianggap radikal. Setahun kemudian, pada 1928, ia diseret ke pengadilan di Den Haag atas tuduhan makar dan penghasutan terhadap Kerajaan Belanda.

Dalam persidangan tersebut, Hatta menyampaikan nota pembelaan berjudul Indonesie Vrij atau Indonesia Merdeka. Pembelaan itu membawanya pada pembebasan dari tuduhan yang dikenakan kepadanya.

Melalui pembelaannya, Hatta turut membuka mata dunia terhadap cita-cita dan perjuangan bangsa terjajah dalam meraih kemerdekaan, sebagaimana dikutip dari Mari News.

Erasmus University Rotterdam berupaya mengabadikan perjuangan dan pengabdian Hatta melalui pemajangan rekam jejaknya di lingkungan kampus.

Hatta Building secara resmi dibuka pada 20 Februari 2017. Gedung tersebut difungsikan sebagai asrama mahasiswa dengan kapasitas hingga 372 kamar, baik untuk mahasiswa Belanda maupun mahasiswa internasional.

Keberadaan gedung tersebut sempat tidak diketahui banyak orang, termasuk mahasiswa setempat. Bahkan, pihak keluarga Bung Hatta baru memperoleh informasi mengenai bangunan itu pada 2014 berkat Kwik Kian Gie, seorang alumni EUR.

Pemajangan salinan ijazah dan penggunaan nama Hatta Building menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup serta perjuangan Mohammad Hatta. Kiprahnya selama menempuh pendidikan di Belanda menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia juga dilakukan melalui pemikiran, organisasi, dan diplomasi di luar negeri.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan para pendiri bangsa tidak hanya tercatat dalam sejarah Indonesia, tetapi juga meninggalkan jejak yang dikenang hingga ke mancanegara.