LOMBOK BARAT — Di tengah kesibukan membina pesantren dan membimbing umat, sosok TGH. Shafwan Hakim dikenal sebagai ulama yang bersahaja, kharismatik, santun, pekerja keras, dan dekat dengan keluarga serta para santrinya.
Kesederhanaannya terlihat dari kesehariannya. Sarung, baju putih panjang, kopiah putih, serta surban yang disampirkan di pundak menjadi penampilan yang begitu lekat dengan dirinya. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan keteguhan seorang ulama yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
TGH. Shafwan Hakim bukan hanya dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hakim. Bagi banyak santri, ia merupakan sosok guru yang memberikan keteladanan melalui tindakan nyata. Kecintaannya kepada santri tidak sekadar terlihat dari nasihat yang disampaikan, tetapi juga dari waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk membimbing mereka.
Pengalaman itu dirasakan langsung oleh para santri yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Hakim. Salah satunya ketika seorang santri bersama empat sahabatnya, Muhammad Sa’i, Akmaluddin, Mahasin, dan Abdurrahman, merasakan secara langsung bagaimana keikhlasan seorang guru dalam mendidik muridnya.
Saat sebagian besar orang masih terlelap, TGH. Shafwan Hakim justru meluangkan waktu untuk mengajar. Sejak sekitar pukul 02.30 WITA hingga menjelang Subuh sekitar pukul 04.15 WITA, ia membimbing para santri mempelajari sejumlah kitab, di antaranya Tafsir Jalalain, Kifayatul Akhyar, Bulughul Maram, dan Syarah Dahlan.
Waktu istirahat yang seharusnya dapat digunakan untuk tidur justru diberikan kepada para santri untuk belajar. Bahkan, setiap kali para santri datang menjelang fajar, TGH. Shafwan Hakim telah menunggu.
Pemandangan tersebut kemudian melahirkan sebuah pertanyaan sederhana dari seorang santri kepada sahabatnya, Muhammad Sa’i.
“Apakah Abun tidak tidur?”
“Mungkin tidak,” jawab Sa’i kala itu.
Pertanyaan tersebut kemudian mendapatkan jawaban dari sebuah cerita yang pernah disampaikan TGH. Juaini Muhtar (almarhum). Dalam sebuah perjalanan rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke Jakarta, TGH. Juaini Muhtar disebut pernah menyaksikan TGH. Shafwan Hakim begitu kuat menjalankan salat malam atau qiyamul lail hingga mendekati waktu Subuh.
Sementara sebagian anggota rombongan lainnya memilih beristirahat setelah perjalanan, TGH. Shafwan Hakim tetap menghidupkan malamnya dengan ibadah.
Kebiasaan tersebut juga diamini oleh salah satu putrinya, Supiatun Shafwan, ketika diwawancarai di Kampus STAI Nurul Hakim. Kesaksian tersebut menggambarkan bahwa aktivitas bermunajat pada malam hari bukanlah sesuatu yang dilakukan sesekali, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian TGH. Shafwan Hakim.
Baginya, bermunajat kepada Allah SWT menjadi salah satu cara memohon petunjuk atas berbagai hal yang telah dilakukan sepanjang hari, terutama dalam menjalankan tanggung jawab untuk memberdayakan dan membina umat.
Sebagai tokoh agama, amanah yang dipikul TGH. Shafwan Hakim tentu tidak ringan. Kepercayaan masyarakat, penghargaan yang diterima, serta berbagai tanggung jawab keumatan yang diembannya menuntut keteguhan lahir dan batin.
Karena itu, ibadah malam menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Dalam kesunyian malam, ia memohon pertolongan Allah SWT agar berbagai persoalan umat yang dihadapinya mendapatkan jalan keluar terbaik.
Lahir dari Keluarga Santri
TGH. Shafwan Hakim lahir dari keluarga santri yang kuat. Ia dilahirkan di Dusun Karang Bedil, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, pada malam Selasa, 21 Rajab 1366 Hijriah atau 10 Juni 1947 Masehi.
Ia merupakan anak tertua dari 14 bersaudara. Ayahnya, TGH. Abdul Karim, dikenal sebagai guru ngaji sekaligus tokoh agama di Desa Kediri. Selain mengajar para santri yang datang dari berbagai desa di sekitar Kecamatan Kediri, TGH. Abdul Karim juga bekerja sebagai pedagang dan petani tembakau untuk menopang kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
Sementara ibundanya, Hj. Chairiyah, merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak-anaknya.
Nilai-nilai yang ditanamkan kedua orang tuanya kemudian menjadi bekal penting bagi perjalanan hidup TGH. Shafwan Hakim. Kesederhanaan, keikhlasan, kesabaran, keluhuran budi pekerti, dan cara berpikir positif dalam menghadapi perjuangan menjadi warisan yang jauh lebih berharga dibandingkan harta benda.
Sejak kecil, Shafwan Hakim telah akrab dengan pendidikan agama. Ia belajar membaca Al-Qur’an langsung dari ayahnya, TGH. Abdul Karim, serta Amaq Sahuri dan pamannya, H. M. Idris Mujtaba, di Dusun Sedayu, Kediri.
Pada usia enam tahun, ia mulai bersekolah di Sekolah Rakyat sekaligus tetap mengikuti pendidikan agama. Pendidikan dasarnya diselesaikan pada 1959.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) selama empat tahun di Pondok Pesantren Al-Islahudiny Kediri di bawah asuhan TGH. Ibrahim Halidy hingga 1963.
Di masa tersebut, ia aktif mengikuti berbagai pengajian yang disampaikan sejumlah ulama, antara lain TGH. Mustafa, TGH. Ibrahim, TGH. Abdul Hafiz, TGH. M. Idris, Ustaz Mazhar, Ustaz Nawawi, Ustaz Azhar, dan sejumlah guru lainnya.
Pada 1963 hingga 1964, Shafwan Hakim juga sempat menimba ilmu di Sekarbela. Di tempat tersebut, ia mengikuti pengajian dari sejumlah ulama, antara lain TGH. M. Rais, TGH. Fadhil, TGH. Muktamad, dan Ustaz Mustahik.
Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut. Pada 1965, ia menyelesaikan studi di Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (SP IAIN) Mataram.
Tiga tahun kemudian, pada 1968, ia memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pulang untuk Mengabdi
Selepas menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta, Shafwan Hakim tidak memilih untuk menetap jauh dari kampung halaman. Ia kembali ke Kediri dan mengabdikan diri di almamaternya, Pondok Pesantren Al-Islahudiny.
Pengabdiannya berlangsung selama dua tahun, 1969 hingga 1971.
Pada 1971 hingga 1973 dan kembali pada 1975 hingga 1977, ia mengajar di SP IAIN Mataram. Di saat yang sama, waktunya juga banyak dicurahkan untuk mengajar, membina, dan mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Hakim, pesantren peninggalan ayahandanya.
Namun, perjalanan keilmuannya belum berhenti.
Pada 1974 hingga 1975, ia menunaikan ibadah haji dan kemudian bermukim di Masjidil Haram selama sekitar satu setengah tahun. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk memperdalam ilmu agama dengan mengikuti pengajian sejumlah ulama di Makkah.
Di antaranya Syekh Yahya Utsman Makky al-Hindy yang mengajarkan sejumlah kitab seperti Bukhari Muslim, Fathul Majid, dan Tafsir Ibnu Katsir. Ia juga mengikuti pengajian Syekh Muhammad Alwi al-Maliki, Syekh bin Subayiluth, Syekh bin Humaid, serta ulama lainnya.
Sekembalinya dari Makkah, TGH. Shafwan Hakim semakin mencurahkan hidupnya untuk pendidikan dan pengembangan Pondok Pesantren Nurul Hakim.
Membangun Pesantren dengan Keteladanan
Bagi TGH. Shafwan Hakim, membesarkan pesantren bukan sekadar membangun lembaga pendidikan. Lebih dari itu, pesantren merupakan ruang untuk membentuk manusia melalui ilmu, akhlak, kedisiplinan, dan keteladanan.
Kesederhanaan yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari nilai yang diwarisinya dari kedua orang tua. Nilai tersebut kemudian menjadi modal penting dalam meneruskan perjuangan sang ayah.
Menurut penuturan salah satu putranya, H. M. Nawawi Hakim, pemikiran dan kehidupan TGH. Shafwan Hakim juga banyak dipengaruhi oleh sosok Dr. M. Natsir, selain pengaruh kedua orang tua dan para gurunya.
Kedalaman ilmu, keluasan pemikiran, serta kesederhanaan Dr. M. Natsir disebut meninggalkan kesan mendalam dalam kepribadian TGH. Shafwan Hakim. Bahkan, M. Natsir tercatat beberapa kali mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Hakim.
Kini, perjalanan panjang TGH. Shafwan Hakim menjadi bagian penting dari sejarah Pondok Pesantren Nurul Hakim dan pendidikan Islam di Lombok.
Sosoknya dikenang bukan hanya karena kedalaman ilmu dan kiprahnya sebagai tokoh agama, tetapi juga karena kesediaannya memberikan waktu bagi para santri, bahkan pada saat kebanyakan orang memilih beristirahat.
Dari ruang-ruang pengajian menjelang Subuh, dari kesunyian malam yang diisi dengan qiyamul lail, hingga kesederhanaan dalam keseharian, TGH. Shafwan Hakim menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata.
Bagi para santrinya, keteladanan itulah yang justru menjadi pelajaran paling panjang tentang keikhlasan, pengabdian, kesabaran, dan kecintaan seorang guru kepada murid-muridnya.
