Lombok Tengah — Lalu Maryun, putra Desa Marong, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, hadir dengan semangat baru untuk mengabdi kepada masyarakat desa. Berbekal pengalaman hidup sebagai pekerja migran di Taiwan, Lalu Maryun ingin membawa nilai kerja keras, kedisiplinan, dan kepedulian sosial ke dalam pembangunan Desa Marong.
Pengalaman merantau membuat Lalu Maryun memahami bahwa kemajuan tidak datang dengan janji semata, tetapi melalui kerja nyata, kebersamaan, dan keberanian untuk memperbaiki keadaan. Ia menilai Desa Marong memiliki potensi besar apabila dikelola dengan semangat persatuan, keterbukaan, dan pelayanan yang dekat dengan masyarakat.
Tidak hanya pernah bekerja di Taiwan, Lalu Maryun juga dikenal sebagai sosok yang banyak membantu anak muda, khususnya mereka yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan tetap, untuk mendapatkan kesempatan bekerja ke Taiwan. Melalui pengalaman dan jaringan yang dimilikinya, ia turut membuka jalan bagi generasi muda agar memiliki harapan, penghasilan, dan masa depan yang lebih baik.
Bagi Lalu Maryun, membantu anak muda bekerja bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi bagian dari kepedulian sosial. Ia melihat masih banyak pemuda desa yang memiliki semangat, tenaga, dan kemauan untuk maju, tetapi belum mendapatkan kesempatan yang tepat.
“Banyak anak muda kita sebenarnya mau bekerja dan mau berubah. Yang mereka butuhkan adalah arahan, kesempatan, dan pendampingan. Pengalaman di Taiwan mengajarkan saya bahwa kerja keras bisa mengubah hidup seseorang,” ujar Lalu Maryun.
Mengusung gagasan “Marong Soloh”, Lalu Maryun ingin menghadirkan desa yang rukun, aman, terbuka, dan merangkul seluruh warga. Istilah “Soloh” dipilih sebagai simbol kedamaian, kebersamaan, dan sikap saling menghargai dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan desa harus dimulai dari mendengar suara warga. Karena itu, ia menekankan pentingnya pelayanan desa yang ramah, transparansi dalam pengelolaan pemerintahan, pemberdayaan pemuda, perhatian terhadap keluarga pekerja migran, serta penguatan ekonomi masyarakat desa.
“Pengalaman di rantau mengajarkan saya tentang kerja keras, tanggung jawab, dan pentingnya saling membantu. Kini saya ingin pulang mengabdi, bersama masyarakat membangun Marong yang lebih baik,” ungkapnya.
Lalu Maryun juga menegaskan bahwa semangat muda bukan berarti meninggalkan nilai-nilai orang tua dan tokoh masyarakat. Sebaliknya, ia ingin merangkul seluruh lapisan warga, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, petani, pelaku usaha, hingga masyarakat perantau.
“Marong harus dibangun bersama. Yang tua kita hormati, yang muda kita ajak bergerak, dan semua warga harus merasa memiliki desa ini,” tambahnya.
Dengan latar belakang sebagai anak desa yang pernah merasakan kerasnya perjuangan di luar negeri dan telah membantu banyak pemuda mendapatkan kesempatan kerja, Lalu Maryun berharap dapat menjadi bagian dari perubahan positif di Desa Marong. Baginya, pengabdian terbaik adalah pulang, mendengar, melayani, dan bekerja bersama masyarakat.
Melalui semangat Marong Soloh, Lalu Maryun membawa pesan sederhana: Desa Marong harus tumbuh sebagai desa yang sejahtera, aman, transparan, dan inklusif untuk semua.
