Banjir bandang dahsyat melanda Desa Kasaba di Provinsi Kivu Selatan, Republik Demokratik Kongo, pada Jumat pagi, 9 Mei 2025, sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Bencana ini terjadi saat sebagian besar warga masih tertidur, menyebabkan kehancuran besar dan menewaskan lebih dari 100 orang. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan lansia .
Banjir dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan air bah tiba-tiba menerjang dan menghanyutkan rumah-rumah serta memutus jaringan komunikasi. Desa Kasaba, yang terletak di sektor Ngandja dekat Danau Tanganyika, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak.
Upaya pencarian dan penyelamatan korban masih berlangsung, namun terkendala oleh kerusakan infrastruktur dan terbatasnya akses ke lokasi bencana. Palang Merah menjadi satu-satunya organisasi kemanusiaan yang saat ini berada di lokasi untuk membantu evakuasi dan penanganan korban .
Bencana ini menambah deretan krisis kemanusiaan yang melanda wilayah timur Kongo, yang sebelumnya juga dilanda konflik bersenjata dan bencana alam lainnya. Pemerintah setempat dan organisasi kemanusiaan terus berupaya memberikan bantuan kepada para korban dan mengatasi dampak dari bencana.
Sejumlah organisasi kemanusiaan dan pihak berwenang setempat telah dikerahkan untuk melakukan pencarian korban dan memberikan bantuan darurat bagi para penyintas. Namun, akses yang sulit ke lokasi bencana memperlambat proses evakuasi dan penyaluran logistik.
“Kami sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat dan komunitas internasional,” ujar Kalonji. Ia menekankan perlunya bantuan darurat berupa makanan, air bersih, tenda, dan obat-obatan bagi ratusan warga yang kini kehilangan tempat tinggal.
Seiring dengan proses evakuasi dan penanganan korban, pemerintah daerah dan para aktivis lingkungan kembali menyerukan upaya pelestarian hutan dan penataan pemukiman yang lebih aman dari ancaman bencana.
“Kalau kita tidak memperbaiki tata kelola lingkungan dan mencegah deforestasi, tragedi seperti ini akan terus berulang,” tambah Akili.
Pada 2023, banjir serupa menewaskan sekitar 400 orang di beberapa komunitas di tepi Danau Kivu, juga di Provinsi Sud Kivu. Penggundulan hutan yang tak terkendali menyebabkan lereng-lereng bukit menjadi rapuh dan mudah longsor saat hujan deras mengguyur. Dilansir CNBCIndonesia.
Kondisi geografis yang rawan bencana, ditambah dengan minimnya infrastruktur dan sarana komunikasi, membuat masyarakat di wilayah ini berada dalam situasi yang sangat rentan setiap kali musim hujan tiba.
