Hipotesa 10 Partai Terancam Tak Masuk Parlemen Versi Indikator, Ada Partai Gelora, PKN, Garuda, Hanura, Selengkapnya

Avatar of lpkpkntb

lpkpkntb.com – Hasil dari Survei terbaru Indikator Politik Indonesia menunjukkan 10 partai terancam tidak lolos ambang batas parlemen 4 persen dan gagal masuk DPR di Pemilu 2024.

Beberapa partai yang  dilansir melalui laman CNN Indonesia Sabtu (10/2) diantaranya:

PPP dengan elektabilitas 2,2 persen. Kemudian di bawahnya ada PSI dengan 2 persen dan Perindo 1,2 persen.

BACA JUGA:

Geger Hasil Survei Capres Terbaru Media Asing Soroti Ini

Capres Ini Unggul 50%, Anies, VS Prabowo, Ganjar, Hasil Survei Terbaru Asing soal Pilpres RI 2024

Namun, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan ketiga partai itu masih memiliki peluang masuk parlemen.

“Ada dua partai yang bisa masuk bisa tidak yaitu PPP dan PSI, termasuk juga Perindo. Tapi per hari ini PPP dan PSI di bawah 4 persen parliamentary threshold.Artinya secara umum memang masih ada waktu buat kedua partai ini untuk menciptakan kejutan,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (9/2). Kemarin.

BACA JUGA:

Hati-Hati Penipuan Gaya Baru di 2024, Duit Rp 402 Miliar Raib Sekejap

Selanjutnya PKS sebesar 7,9 persen; Demokrat sebesar 6,9 persen; NasDem 6,7 persen; dan terakhir PAN dengan 6,4 persen.

Survei Indikator Politik Indonesia dilakukan pada 28 Januari-4 Februari 2024. Sementara untuk metode sampling yang dilakukan ialah multistage random sampling dengan total sampel 1.200 responden.

Partai-partai lainnya yang diperkiraan tidak lolos Diantaranya:

  • Partai Gelora dengan elektabilitas 04 persen;
  • Ummat 0,3 persen;
  • Hanura 0,3 persen;
  • PBB 0,2 persen;
  • Partai Buruh 0,01 persen;
  • Garuda 0,1 persen,
  • PKN 0 persen.

Sementara partai yang diperkirakan lolos parlemen ada 8 yakni PDIP dengan elektablitas 19,6 persen. Kemudian posisi kedua ditempati Partai Gerindra yang mendapat 17,2 persen.

Sementara partai yang menempati posisi ketiga yakni Golkar dengan tingkat elektabilitas 12,1 persen dan disusul oleh PKB dengan 9,5 persen. *