lpkpkntb.com – Di Riwayatkan pada zaman Rasulullah ο·Ί, sebuah kisah yang tertulis dalam kitab Mukasyafah Al Qulub, karangan Imam Ghazali. Cerita tentang pemuda penggali makam yang suka mencuri kafan pembungkus jasad yang telah dia kuburkan.
Pada suatu hari, dia mencuri kain kafan jenazah seorang gadis yang baru dikuburkan. Namun, sa’at itu membuat nafsunya bangkit. Pemuda itu lalu menyetubuhi jasad gadis itu.
Namun, pemuda itu kemudian menyesal. Dia terus menangis di depan rumah Rasulullah ο·Ί. Sehingga dilihat Sayyidina Umar bin Khattab, kemudian membuatnya menghadap Rasulullah ο·Ί sambil menangis.
Melihat Sayyidina Umar menangis, Rasulullah ο·Ί bertanya,: “Wahai Umar, apakah yang membuat engkau hingga menangis seperti ini?”
Jawab Sayyidina Umar: “Ya Rasulullah, ada seorang di depan pintu ini yang sudah membakar hatiku.”
Berkata Rasulullah ο·Ί: “Ya Umar, bawalah ia masuk.” Lalu Sayyidina Umar membawa pemuda yang tengah menangis itu masuk.
Bertanya Rasulullah ο·Ί, “Apakah yang sudah engkau kerjakan hingga engkau menangis?”
Pemuda itu menjawab: “Wahai Rasulullah, saya telah melakukan dosa yang besar! Saya sangat takut pada Allah Ψ³Ψ¨ΨΨ§ ΩΩ Ω ΨͺΨΉΨ§ΩΩ dan mungkin Allah akan sangat murka kepadaku.”
“Apakah kamu mempersekutukan Allah?”
“Tidak Ya Rasulullah.”
“Apakah kamu membunuh jiwa yang kamu tiada hak membunuhnya?”
“Tidak Ya Rasulullah.”
“Allah akan mengampunkan dosa kamu meskipun sebesar langit dan bumi dan bukit-bukit.”
“Wahai Rasul Allah, saya sudah lakukan dosa yang lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukitnya.”
“Apakah dosamu itu semakin besar dari Arsy?”
“Dosaku lebih besar.”
Apakah dosamu semakin besar dari Arsy?β
βDosaku semakin besar.”
βApakah dosamu lebih besar dari ma’af Allah?”
“Ma’afnya lebih besar?”
“Sesungguhnya tidak bisa mengampun dosa besar kecuali Allah yang Maha Besar, yang besar pengampunan-Nya.” Rasulullah ο·Ί bersabda lagi: “Katakanlah wahai pemuda, dosa apakah yang sudah engkau lakukan?”
“Saya malu jika memberitahumu, Ya Rasulullah.” Jawabnya masih dalam keada’an menangis terisak-isak.
Karena kurang mengerti maksud dan pengakuan dari pemuda itu, akhirnya Rasulullah ο·Ί mendesaknya.
Rasulullah ο·Ί bertanya dengan kuat βBeritahu saya apakah dosamu itu?”
“Begini Ya Rasulullah, kerjaku yaitu sebagai penggali kubur. Saya sudah lakukan kerja menggali kubur selama 7 tahun. Disuatu hari, saya menggali kuburan seorang gadis dari kaum Ansar. Melihat kecantikan dan kemolekan tubuhnya, nafsu birahiku memuncak dan setelah kuburan sepi, saya bongkar kuburannya dan saya telanjangi mayat gadis itu. Setelah saya cumbui, nafsu birahi saya tak dapat saya tahan lalu saya setubuhi gadis itu.
Setelah saya memuaskan nafsu, saya tinggalkan dia. Belum jauh saya pergi dari situ, tiba-tiba gadis itu bangun dan berkata, “Celaka benar kamu wahai pemuda! Bukannya kamu merasa malu pada Tuhan yang akan membalas pada hari pembalasan kelak! Apabila tiba masanya setiap orang yang zalim akan dituntut oleh yang teraniaya! Kau biarkan saya telanjang, serta kau hadapkan saya pada Allah Ψ³Ψ¨ΨΨ§ ΩΩ Ω ΨͺΨΉΨ§ΩΩ dalam keada’an junub!”
Usai Rasulullah ο·Ί mendengar pengakuan dari pemuda tersebut, dengan segera Rasulullah ο·Ί segera bangkit dan berdiri kemudian meninggalkannya seraya bersabda βHai pemuda fasik, Pergilah! Jangan engkau dekati aku! Nerakalah tempatmu kelak dan keluarlah segera kamu dari sini”
Pemuda itupun segera keluar meninggalkan Rumah Rasulullah ο·Ί seraya menangis. Dia berjalan dengan arah tak menentu.
Sepanjang 40 hari pemuda itu memohon ampun pada Allah dan sa’at malam ke 44, ia melihat ke langit sambil berdo’a.
Ya Allah, aku adalah hambaMu yang telah berbuat dosa besar, sekarang aku datang kepintu-Mu, agar Engkau berkenan menjadi penolong disisi kekasih-Mu, sungguh Engkau Maha pemurah kepada hamba-hamba-Mu dan tiada tersisa harapanku kecuali kepada-Mu.
Ya Allah.. Tuhanku, terimalah taubatku dan bila Engkau sudah mengampuniku, beritahulah Rasulullah ο·Ί. Bila tidak kirimkan pada saya api dari langit dan bakarlah saya didunia ini dan selamatkan saya dari siksa akhirat.”
Tidak berapa lama selepas kejadian itu, turunlah Malaikat Jibril Alaihi Sallam menjumpai Rasulullah ο·Ί. Selepas berikan salam Jibril ΨΉΩΩΩ Ψ§ΩΨ³ΩΨ§Ω berkata: “Wahai Muhammad, Tuhanmu berikan salam padamu.”
Jawab Rasulullah ο·Ί: “Dialah Assalam dan daripada-Nya salam dan kepada-Nya semua keselamatan.”
“Allah bertanya, apakah kamu yang menciptakan makhluk?”
βDialah Allah yang menciptakan segala makhluk.”
“Apakah kamu yang memberi rejeki pada makhluk?”
“Dialah Allah yang memberi rejeki pada saya dan makhluk-makhluk yang lain.”
“Apakah kamu yang memberikan taubat kepada mereka?”
“Dialah Allah yang menerima taubat diriku dan mereka.”
βAllah berfirman: ma’afkanlah hamba-Ku itu karena Aku sudah memaafkannya.”
Kemudian segera Rasulullah ο·Ί mengutus beberapa orang sahabat dan menyuruh mereka menemui pemuda tersebut dan memberikan kabar gembira kepadanya bahwa Allah sudah menerima taubatnya dan mema’afkannya.
Lalu mereka membawa pemuda tersebut berjumpa Rasulullah ο·Ί, yang mana ketika itu beliau Rasulullah ο·Ί sedang menunaikan sholat Maghrib dan mereka pun bermakmum dibelakangnya.
Ketika Rasulullah ο·Ί membaca surah Al-fatihah yang dilanjutkan dengan surah At-taakatsur. Sesampai Baginda membaca “Hatta zurtumul maqaabir.”
Kamu telah dilalaikan sehingga kamu masuk kubur.
Maka berteriak lah pemuda itu dengan keras sekali dan langsung terjatuh. Dan ketika mereka selesai sholat, mereka dapati pemuda tersebut telah meninggal dunia.
Innalillahi Wa innailaihi Rojiun
Sumber: Kitab mukasyafah Al-Qulub karangan Imam Ghazali.
ΩΨ§ΩΩΩ ΨΉΨ§ΩΩ Ψ¨Ψ΄ΩΨ§Ψ¨
Nabi pernah mengalami hal seperti itu dan langsung ditegur oleh Allah Ψ³Ψ¨ΨΨ§ ΩΩ Ω ΨͺΨΉΨ§ΩΩ, apalagi ketika kita yang mencela dan mengolok-olok mereka yang notabene suka berperilaku kasar, gemar mengerjakan dosa, dan juga tak pernah beribadah. Ketahuilah bahwa mereka bisa saja bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Ψ³Ψ¨ΨΨ§ ΩΩ Ω ΨͺΨΉΨ§ΩΩ dan ketika mereka telah berubah untuk tak lagi mendekati dosa, maka bisa jadi mereka lebih baik dari kita yang mengaku setiap hari berbuat kebaikan.
Page: Fakta Agama βοΈ

