Selamatan Bendungan Meninting dan Bubur Beaq-Mandiq Safar, Wagub NTB Ajak Jaga Alam dan Lestarikan Budaya Sasak

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2026 08 05 19 09 23 64 965bbf4d18d205f782c6b8409c5773a42

Lombok Barat – Ratusan masyarakat bersama Majelis Adat Sasak (MAS) menghadiri Selamatan Bendungan Meninting yang dirangkaikan dengan tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar dan santunan anak yatim di Desa Bukittinggi, Kabupaten Lombok Barat, Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, anggota DPRD NTB H. Muzihir, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh agama, tokoh adat, Laskar Sasak, pemuda, serta masyarakat.

Ketua Panitia, Puspawan, SH, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dipersiapkan hanya dalam waktu sekitar satu bulan. Meski demikian, berkat dukungan masyarakat dan berbagai pihak, seluruh rangkaian acara dapat terlaksana dengan lancar.

“Terima kasih atas kehadiran ayahanda, para tokoh, dan seluruh masyarakat. Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena baru pertama kali kegiatan Bubur Beaq-Mandiq Safar dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur NTB,” ujarnya.

Menurut Puspawan, tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar merupakan warisan budaya yang perlu terus dijaga karena menjadi media mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan masyarakat Sasak.

Tausiah kemudian disampaikan TGH. Lalu Imam Sanusi. Mengawali ceramahnya dengan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW, ia menyampaikan pesan menggunakan bahasa Sasak halus.

“Nganjeng base halus, tiang ngiring pelungguh sami. Puki syukur niki kaji haturang ring Allah SWT saq sampun maringang rahmat lan berkah,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Sasak memiliki nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur dan harus tetap dipertahankan.

“Sasak niki bedue warisan. Adat agama, napi tegawe harus tetembe isiq Bismillahirrahmanirrahim. Adat jangan sampai lepas dengan agama,” katanya.

Menurutnya, tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar bukan sekadar kegiatan adat, melainkan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus sarana mempererat persaudaraan. Ia juga menjelaskan tentang adat wirgama, yakni kearifan masyarakat Sasak yang berkaitan dengan waktu pelaksanaan tradisi, termasuk Bubur Beaq-Mandiq yang dilaksanakan pada bulan Safar.

“Lamun adat taq pelihara, insyaallah budaya Sasak tetap idup, anak putu tao jati dirina lan tetap ngelingang ajaran agama,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri mengapresiasi masyarakat yang terus menjaga tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar sebagai bagian dari identitas budaya Sasak.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Bendungan Meninting telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Menurutnya, bendungan tersebut diharapkan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor pertanian, penyediaan air, dan pembangunan di berbagai kabupaten/kota di NTB.

“Semoga keberadaan Bendungan Meninting memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menjaga kelestarian alam di sekitarnya,” ujarnya.

Indah mengingatkan bahwa menjaga bendungan berarti juga menjaga lingkungan.

“Kalau kita mencintai alam, maka alam akan mencintai kita,” katanya.

Ia menambahkan, NTB merupakan daerah yang memiliki beragam suku dan budaya. Keberagaman tersebut harus menjadi kekuatan untuk terus hidup berdampingan, saling menghormati, saling membantu, dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Keberagaman adalah kekayaan NTB. Mari kita terus menjaga persaudaraan dan kebersamaan,” tuturnya.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, serta penyerahan santunan kepada anak yatim. Tradisi tersebut menjadi simbol harmonisasi antara adat, agama, dan semangat gotong royong yang terus dijaga oleh masyarakat Sasak dari generasi ke generasi.