Sukses! Batik Buatan Siswa MAN 1 Mataram Ludes Terjual, Guru Seni Siap Kembangkan Produk Baru

Avatar of lpkpkntb
IMG 20250501 WA0311

Mataram – Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi ruang tumbuhnya kreativitas dan karakter siswa di berbagai satuan pendidikan. Di MAN 1 Mataram, program ini diwujudkan dengan penuh makna oleh Dedi Sudihartono, S.Sn., guru seni rupa yang dikenal inovatif. Melalui bimbingannya, siswa-siswi berhasil menciptakan karya batik bertema Batik Nusantara, hasil eksplorasi budaya dan ekspresi seni yang bernilai tinggi.

Baca Juga:Aku Berpikir, Maka Aku Ada: Filosofi Legendaris yang Masih Menginspirasi Dunia Modern

Dalam proyek bertajuk “Merajut Warisan Lewat Warna”, siswa tidak hanya diajak belajar teknik membatik, namun juga memahami nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kearifan lokal, hingga semangat berkebinekaan. Proses pembuatan dimulai dari riset motif daerah, menggambar desain, hingga mencanting dan mewarnai kain menjadi batik siap pamer.

Sukses! Batik Buatan Siswa MAN 1 Mataram Ludes Terjual, Guru Seni Siap Kembangkan Produk Baru
Sukses! Batik Buatan Siswa MAN 1 Mataram Ludes Terjual, Guru Seni Siap Kembangkan Produk Baru Dok. (liputanntb.com).

“Lewat proyek P5 ini, kami ingin siswa tidak sekadar mengenal budaya, tapi juga mengalami dan mewarisinya secara aktif,” ungkap Dedi.

Tak hanya siswa, beberapa guru MAN 1 Mataram juga ikut terlibat dalam proses pembuatan batik ini. Keterlibatan lintas guru ini menambah kekayaan pengalaman sekaligus memperkuat budaya kolaborasi di lingkungan madrasah.

“Kegiatan ini bukan hanya siswa yang belajar, tapi beberapa guru juga ikut mengikuti proses pembuatan batik. Selanjutnya saya akan membuat produk yang lebih luas ini baru permulaan,” ujar Pak Deddy penuh semangat.

Menariknya, karya batik hasil proyek ini tidak hanya dipamerkan, tetapi juga langsung terjual habis dalam waktu singkat. Sambutan hangat dari pengunjung membuktikan bahwa karya seni siswa memiliki nilai jual dan daya tarik tersendiri.

Lebih dari itu, motif batik yang dihasilkan tidak hanya diaplikasikan pada pakaian. Menurut Pak Deddy desain batik karya siswa telah dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif seperti kaos, sajadah, bantal, dan media lainnya yang dapat menjangkau pasar lebih luas. “Motif batik yang dibuat siswa ini tidak terbatas untuk baju saja, tapi bisa dikembangkan untuk produk lain seperti kaos, sajadah, dan bantal,” jelasnya.

Hasil karya batik tersebut memuat filosofi lokal, seperti motif ombak Lombok, flora endemik, dan simbol adat Sasak yang digarap dengan teknik tradisional dan sentuhan modern. Karya-karya ini menjadi bukti bahwa pembelajaran seni bisa menjadi jembatan antara tradisi dan generasi.

Inisiatif ini mendapat apresiasi dari madrasah, orang tua, dan pemerhati pendidikan seni. Tak hanya membentuk keterampilan, proyek ini menumbuhkan rasa cinta tanah air, kepekaan budaya, serta kolaborasi antarsiswa dan guru.

“Pak Dedi mengajarkan kami untuk bangga pada budaya sendiri, dan menjadikan karya seni sebagai bagian dari jati diri,” ujar salah satu siswa peserta.

Dengan dedikasi tinggi dan visi kebudayaan yang kuat, Dedi Sudihartono layak disebut sebagai Guru Inspiratif. Ia bukan hanya mengajarkan seni, tetapi memantik semangat berkarya, mencintai budaya, dan menanamkan nilai-nilai Pancasila secara nyata.

(Bi)