Tsunami 100 Meter Hantam Ambon: 2.000 Lebih Tewas, Warga Mengira Hari Kiamat

Avatar of lpkpkntb
Tsunami
Foto: Ilustrasi Tsunami. (Dok. Undrak.org )

Ambon, — Gempa bumi dahsyat disusul tsunami ekstrem melanda Ambon pada Sabtu malam, 17 Februari 1674.

Peristiwa tragis ini menjadi catatan pertama bencana tsunami dalam sejarah Nusantara, sebagaimana didokumentasikan oleh Georg Eberhard Rumphius, naturalis asal Jerman yang mengabdi di Ambon saat itu.

“Gempa Ambon 1674 merupakan gempa dan tsunami dahsyat pertama dalam catatan Nusantara,” ungkap Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam webinar Peringatan Tsunami Ambon 1674, Selasa (18/2/2025).

Rumphius mencatat, gempa terjadi sekitar pukul 19.30 waktu setempat, saat langit cerah tanpa angin. Lonceng-lonceng Kastil Victoria berdentang sendiri, lalu tanah berguncang hebat dan bergerak seperti lautan. “Orang-orang berjatuhan, dan seluruh garnisun VOC berlari ke lapangan terbuka, berharap selamat,” tulisnya.

Namun, harapan pupus ketika air laut tiba-tiba naik dan menyapu daratan. Gelombang besar menghantam rumah dan desa-desa. “Air itu melampaui atap rumah dan membawa batuan karang jauh ke darat,” kenang Rumphius. Ia selamat setelah berlari ke tempat tinggi, namun istri dan putrinya menjadi korban.

Penelitian modern memperkirakan gempa tersebut berkekuatan Magnitudo 7,9, diikuti tsunami setinggi hingga 100 meter. Daryono menjelaskan, besarnya gelombang dipengaruhi oleh longsoran pantai yang dipicu gempa, bukan hanya kekuatan gempa itu sendiri.

“Kalau kita bandingkan dengan tsunami Flores 1992 atau Aceh 2004, gelombang di Ambon jauh lebih besar akibat kombinasi gempa dan longsoran,” ujarnya.

Tercatat sebanyak 2.322 jiwa meninggal dunia di Ambon dan Pulau Seram. Tragedi ini menegaskan bahwa longsor bawah laut merupakan salah satu sumber utama tsunami di Indonesia, yang sering luput dari perhatian publik.

Rumphius sendiri dikenang bukan hanya sebagai penyintas, tetapi juga pencatat ilmiah penting. Karyanya Herbarium Amboinense tidak hanya mengulas flora lokal, tetapi juga merekam kejadian geologis besar yang kini menjadi referensi penting dalam sejarah bencana di Indonesia.

(Hs)