lpkpkntb.com – Wanita 51 tahun bernama Ida Dayak adalah warga transmigrasi lokal yang bermukim di Desa Pasir Belengkong, Kecamatan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Dari hasil informasi yang dihimpun berbagai media, Ida Dayak diketahui memiliki nama asli Ida Andriani. Ia lahir di Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur tahun 1972.
Siapa yang tidak kenal Ida Dayak, bahkan viral kalau pengobatan Ida Dayak katanya dipercaya ngobati pangeran dari arab saudi, dan akhirnya anak Ida Dayak angkat bicara terkait keviralan sang ibu.
seperti yang di unggah dari aplikasi tiktok dengan akun @yunani25
Pengobatan tradisional yang dijalankan oleh Ida Dayak yang ramai belakangan ini sebenarnya sudah sempat heboh pada 2021. Ia mengobati orang berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya, sambil menawarkan botol Minyak Bintang seharga Rp50.000.
Saat mengoleskan Minyak Bintang pada pria tersebut, Ida Dayak kemudian merasakan adanya pen dalam tulang pria tersebut. “Masih juga bengkok biar ada pen,” katanya sembari meluruskan tangan pria tersebut.
“Tidak usah bayar, gratis ya,” kata Ida Dayak.
Anak tunggal Ida Dayak, Herman Ida Andriani baru-baru ini buka suara perihal sosok ibunya.
Seperti yang di kutip dari TribunnewsBogor, anaknya Ida Dayak atas nama Herman menceritakan asal usul kesaktian Ida Dayak yang kini diklaim mampu mengobati berbagai macam penyakit.
Seperti diketahui, Ida Dayak belakangan viral karena dianggap mampu mengobati patah tulang, saraf kejepit, keseleo, stroke hingga lumpuh.
Karena kemampuannya itu, Ida Dayak pun dijuluki wanita sakti.
Terkait sosok Ida Dayak, Herman bercerita panjang lebar.
Diakui Herman, ibunya memang sejak dulu sudah berkeliling daerah untuk melakukan pengobatan.
Sebelumnya, Herman menceritakan asal usul Ida Dayak. 2 Tahun Tak Pulang ke Rumah.
Bisa mengobati pasien dengan berbagai jenis penyakit, Ida Dayak pun tenar dan sering mendatangi beberapa daerah.
“Dari dulu, ibu memang sudah berkeliling di berbagai pulau yang ada di Indonesia, seperti Sumatera, Papua, Sulawesi, pokoknya macam-macam sudah dikunjungi,” akui Herman dikutip pada jumat (7/4/2023).
Kemudian, Sejak 2021, Ida Dayak diakui Herman tak pernah pulang ke rumah. Sebelumnya, Ida Dayak memang sudah sibuk dan jarang pulang.
Tapi hal itu lantaran Ida Dayak berjualan obat ke berbagai daerah, bukan melakukan pengobatan.
“Kalau dulu itu tidak ada pasien lokal yang datang kesini karena mungkin belum banyak yang tahu, cuman kalau sekarang semenjak viral banyak yang datang, ibaratnya dulu hanya pulang istirahat 2 minggu dan paling lama kemarin itu semenjak Covid-19 sampai 6 bulan di rumah,” jelas Herman. di kutip melalui laman tribunbogor.
Sehingga tak pernah pulang ke rumah, Ida Dayak tak pernah putus komunikasi dengan sang anak tunggal.
Herman mengaku selalu menelepon Ida Dayak lewat telepon seluler. Jarang pulang ke Kaltim, Ida Dayak kini menempati rumah di wilayah Bogor.
“Sering komunikasi, biasanya juga bertanya tentang kabar kami di rumah, dan terkadang menyampaikan lokasi pengobatannya, kalau sekarang ini ada di daerah Bogor,” imbuh Herman.

Selama bepergian ke berbagai daerah, Ida Dayak selalu ditemani sang suami.
Suami Ida Dayak lah yang jadi sosok penting di bisnis penjualan obat untuk pasien.
“Biasanya cuman bapak yang mendampingi, ibu yang memasarkan obatnya sembari memberi pengobatan dan bapak membantu untuk membungkus obat dan kemudian diserahkan ke pembeli,” cerita Herman.
Asal Usul Kesaktian
Lebih lanjut, Herman pun bercerita tentang kesaktian sang ibu.
Awalnya diakui Herman, Ida Dayak hanya sebagai penjual minyak urut yang merupakan warisan turun temurun keluarga.
Lalu tiga tahun ke belakang atau mulai tahun 2020, Ida Dayak belajar menyembuhkan orang.
Sejak saat itu pula, Ida Dayak jadi ahli mengobati berbagai penyakit menggunakan minyak urut keluarganya.
“Kalau jualan obat itu sudah bertahun-tahun, sementara untuk melakukan pengobatan ke pasien itu kisaran 3 tahun baru bisa,” akui Herman.
Diakui Herman, sang ibu biasanya mengobati pasien patah tulang.
Namun diungkap Herman, Ida Dayak tak segan memberi tahu pasien jika penyakit yang dideritanya tak bisa disembuhkan Ida Dayak.
“Tidak semua penyakit bisa disembuhkan, ibu juga sudah tahu mana yang bisa disembuhkan dan tidak. Kalau tidak bisa, pasti ibu menyampaikan tidak sanggup, namun sekiranya masih bisa pasti diusahakan,” jelas Herman.
Kontra soal Pengobatan Ida Dayak
Tak melulu pujian, pengobatan Ida Dayak juga menuai kontra dari para ahli
Dokter Spesialis Ortopedi bernama Harry Jonathan baru-baru ini mengurai komentar pedas untuk Ida Dayak.
dr Harry memberi peringatan kepada masyarakat terkait pengobatan Ida Dayak.
Alasannya adalah karena seseorang yang dalam kondisi patah tulang, bengkok atau keseleo, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan rontgen, bukan langsung ditindak.
Namun jika para pasien tersebut dipaksakan untuk tulangnya diluruskan seperti metode Ida Dayak, maka menurut dr Harry akan ada bahaya jangka panjang. Yakni saraf hingga otot pasien bisa rusak.
“Di sini tulang dan sendi, manipulasi yang dilakukan di sini adalah sendinya. Dan manipulasi yang dilakukan di tulang.
Sebenarnya untuk bisa melakukan ini, kita harus tahu kondisi di dalamnya seperti apa, rontgennya seperti apa. Karena jika kita paksakan, tulangnya lurus, tapi kondisi saraf dan otot bisa rusak,” ungkap Harry Jonathan.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Adib Khumaidi, Sp.OT turut mengurai tanggapan terkait pengobatan Ida Dayak.
Menurut dr Adib, pengobatan alternatif paling sering ditemukan sebagai upaya terakhir yang dilakukan pasien untuk mencari kesembuhan.
Namun sebagai organisasi kedokteran, IDI tidak bisa berkomentar banyak tentang pengobatan Ida Dayak.
Karena menurut dr Adib, dasar ilmu kedokteran dan ilmu pengobatan yang dilakukan Ibu Ida Dayak cenderung berbeda, yaitu menggunakan pendekatan spiritual.
Sementara, Ida Dayak ini juga mengundang tanya antropolog Universitas Mulawarman, Martinus Nanang. Musababnya, warga Kabupaten Paser cenderung mengakui dirinya sebagai etnik Paser yang terpisah dari Dayak.
“Ibu Ida ini bisa saja lahir di Paser. Saya nggak tahu apakah dia lahir di Paser dari keluarga Pasernya atau orang luar yang lahir di Paser.”
Berdasarkan motif pakaian dan aksesoris yang digunakan Ida Dayak, “bukan motif etnik Paser, melainkan etnik Dayak Kenyah atau kelompok Kayanic yang terdiri dari Kayan, Kenyah dan Bahau.”
Menurut Martinus, kemungkinan kata Dayak dipakai karena nilai jual lebih tinggi. “Kata Dayak itu memiliki nilai jual, eksotismenya itu yang dijual dengan kata Dayak itu,” katanya. di kutip laman news Indonesia.
Dalam keterangan terbarunya, Ida Dayak mewanti-wanti calon pasiennya agar tidak membeli Minyak Bintang di toko online. Minyak khas Kalimantan ini digunakan sebagai obat dan dijual Ida kepada pasiennya selama pengobatan berlangsung.

Kepercayaan terhadap yang di luar nalar itu kemudian dibuktikan melalui video yang bersirkulasi di tengah masyarakat lewat media sosial.
“Orang suka melihat yang sulit dipercaya, tapi terjadi. Kalau melihat videonya, kalau tidak diedit-edit, sepertinya betulan,” katanya.
Ditambah lagi, lanjut Martinus, pengobatan alternatif ini juga difasilitasi oleh TNI. “Orang lebih percaya lagi, orang akan terkesan nggak main-main Ibu Dayak ini sampai ada institusi yang mendukungnya,” katanya.
Dalam sebuah unggahan, bahkan mantan Panglima TNI Andika Perkasa menyempatkan diri menyapa Ida Dayak saat sedang makan.
“Pengobatan ikhlas [gratis]. Kalau bisa jangan beli obat online, itu jangan. Karena Ibu Ida tidak mau jual obat online. Video saya hanya dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya dalam sebuah unggahan.
