WASPADA! Penularan Virus Rabies pada Binatang dan Cara Pencegahannya!

Avatar of lpkpkntb

lpkpkntb.com – Waspada! penularan Rabies pada anjing dan kucing. Sebelumnya Kementerian Kesehatan menyatakan 95 persen kasus penularan rabies di Indonesia sejauh ini disebabkan oleh gigitan anjing.

“95 persen kasus rabies pada manusia didapatkan lewat gigitan anjing yang terinfeksi,” ucap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Imran Pambudi lewat siaran pers, Sabtu (3/6). di lansir laman CNN Indonesia. Jumat (16/6/23).

Imran mengatakan hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia sebenarnya bukan anjing. Ada beberapa jenis hewan lainnya yang bisa menularkan lewat gigitan.

Dia menyebut sebagian besar kematian akibat rabies itu disebabkan karena terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan (Faskes). Menurutnya, mereka datang ke faskes di atas satu bulan setelah mengalami gigitan.

“Rata-rata mereka baru panik pergi ke Faskes setelah tahu anjing yang menggigitnya itu mati. Jadi yang harus dilakukan jika digigit anjing yang pertama adalah harus segera mungkin pergi ke Faskes untuk dilakukan uji luka,” imbuh Imran.

Imran mengatakan saat ini ada 25 provinsi yang menjadi endemis rabies. Namun hanya delapan provinsi yang bebas rabies yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, dan Papua.

 

Seorang balita perempuan di Buleleng, Bali, meninggal diduga terinfeksi rabies setelah digigit anjing pada Minggu (11/6).
Anak warga Desa Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, itu  meninggal pukul 20.20 Wita saat dirawat di RSUD Buleleng.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Buleleng Sucipto membenarkan informasi tersebut. Ia mengatakan kondisi balita tersebut memburuk pada pukul 20.00 Wita, Sabtu, hingga dinyatakan meninggal 20 menit setelahnya.

Sebelumnya pasien balita itu dirawat di rumah sakit sejak Sabtu (10/6) dengan gejala tidak bisa minum air, nyeri saat menelan, gelisah, serta takut angin.

Balita itu meninggal dalam keadaan hipervelasi dengan diagnosis encephalitis rabies.

“Pukul 20.00 Wita, kondisi pasien melemah, disertai gelisah, pandangan kosong, panas berkeringat, dan halusinasi,” ujar Sucipto, Selasa (13/6).

“Pukul 20.20 Wita, pasien dinyatakan meninggal dunia dengan penyebab langsung gagal napas, dengan penyebab dasar encephalitis rabies,” sambungnya.
Ia mengungkapkan pasien balita tersebut memiliki riwayat digigit anjing peliharaannya. Anjing itu masih berusia lima bulan. Pasien digigit sekitar satu bulan lalu, saat hendak mengambil mainannya di bawah kolong tempat tidurnya.

Tidak disangka-sangka, anjing peliharaannya langsung menggigit lengan kirinya sampai mengakibatkan luka gores. Saat itu, balita tersebut tidak langsung dibawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan untuk mendapat penanganan medis.

Walhasil, korban tidak sempat mendapatkan vaksin antirabies (VAR).

“Setelah menggigit, anjing itu dibunuh oleh bapak pasien. Luka pada tangan kiri pasien hanya dicuci di rumah, menggunakan sabun dan air mengalir,” jelas Sucipto.

“Karena luka itu dianggap kecil dan aman, sehingga (keluarga) pasien abai dan tidak melaporkan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” sambungnya.

Dilansir laman SehatNegeriku. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengumumkan ada 11 kasus kematian yang disebabkan oleh rabies. 95% kasus rabies tersebut disebabkan oleh gigitan anjing.

“95% kasus rabies pada manusia didapatkan lewat gigitan anjing yang terinfeksi.

Ada juga beragam hewan liar yang bertindak sebagai reservoir virus di berbagai benua seperti rubah, rakun, dan kelelawar, tapi 95% karena gigitan anjing,

” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr. Imran Pambudi, MPHM pada konferensi pers secara virtual, Jumat (2/6).

Hingga April 2023 sudah ada 31.113 kasus gigitan hewan penular rabies, 23.211 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies, dan 11 kasus kematian di Indonesia.

Saat ini ada 26 provinsi yang menjadi endemis rabies tapi hanya 11 provinsi yang bebas rabies yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Di samping itu, banyak pulau yang bebas rabies di Indonesia, misalnya di NTT ada pulau bebas rabies seperti Pulau Sumba.

Ada juga pulau lainnya antara lain Pulau Tabuan dan Pulau Pisang di Lampung, Pulau Meranti di Riau, Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, Kepulauan Sintaro di Sulawesi Selatan, Pulau Nunukan, Pulau Batik, dan Pulau Tarakan di Kalimantan Utara.

Sudah ada dua kabupaten yang menyatakan kejadian luar biasa (KLB) rabies yaitu Kabupaten Sikka, NTT dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Situasi rabies di Indonesia tahun 2020 hingga April 2023, rata-rata per tahun kasus gigitan sebanyak 82.634, kemudian yang diberi vaksin anti rabies hampir 57.000.

“Rabies merupakan tantangan besar di Indonesia karena dalam tiga tahun terakhir kasus gigitan hewan rabies itu rata-rata setahunnya lebih dari 80.000 kasus dan kematiannya rata-rata 68 orang,” ungkap dr. Imran.

Untuk kita bisa eliminasi rabies pada manusia itu intervensi utamanya adalah memberi vaksinasi pada anjingnya. Pasalnya, jika hewan pembawa rabies ini masih berkeliaran dan tidak terlindungi oleh vaksin maka masih bisa menularkan rabies ke manusia.

Tahun 2023 Kemenkes sudah mengadakan vaksin untuk manusia sebanyak 241.700 vial dan serumnya sebanyak 1.650 vial. Saat ini vaksin dan serum tersebut sudah didistribusikan ke provinsi hampir 227.000 vial vaksin dan lebih dari 1.550 vial serum. Sebetulnya vaksin yang diadakan itu merupakan buffer bukan utama.

“Di daerah-daerah juga mereka mengadakan vaksin rabies sendiri seperti Bali.

Mereka punya dana untuk membeli vaksin anti rabies tidak hanya mengandalkan dari pusat, bahkan di beberapa kabupaten di Bali juga punya anggaran untuk vaksin anti rabies, baik untuk hewan maupun untuk manusia,” ucap dr. Imran.

Perlu diketahui, gejala rabies pada manusia di tahap awal gejala yang timbul adalah demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, dan sering ditemukan nyeri.

Setelah itu dilanjut dengan rasa kesemutan atau rasa panas di lokasi gigitan, cemas, dan mulai timbul fobia yaitu hidrofobia, aerofobia, dan fotofobia sebelum meninggal dunia.

Sementara gejala hewan yang terkena rabies dapat dicirikan dengan karakter hewan menjadi ganas dan tidak nurut pada pemiliknya, tidak mampu menelan, lumpuh, mulut terbuka dan air liur keluar secara berlebihan, kemudian bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha, kejang-kejang, dan diikuti oleh kematian. Pada rabies asimtomatik hewan tidak memperlihatkan gejala sakit namun tiba-tiba mati.

Juru Bicara Kemenkes dr. Mohammad Syahril menambahkan begitu seseorang digigit oleh anjing gila, maka harus cepat dilakukan pencucian sekaligus diberikan suatu virus anti rabies. Ini betul harus dilakukan.

“Karena sudah ada wilayah KLB, maka harus dilakukan gerakan massal serentak yang dipimpin oleh pemerintah daerah yang melibatkan seluruh dinas terkait untuk melakukan penyisiran terhadap hewan-hewan terutama anjing yang memang akan berpotensi menjadi rabies.

Anjing tersebut kemudian diberikan vaksinasi,” ungkap dr. Syahril.

Ia juga mengatakan perlu melibatkan komunitas pencinta hewan terutama pecinta anjing untuk bisa berperan dalam gerakan ini baik di tingkat nasional maupun daerah.

“Paling utama saat ini adalah penanganan pada hewan pembawa rabies seperti anjing, kucing dan kera.

Sehingga vaksinasi rabies pada populasi anjing dan kucing mininal 70% dicapai, dimana saat ini baru 40%. Anjing dan kucing harus dipelihara dan jangan sampai ada hewan pembawa rabies berkeliaran,” ujar dr. Syahril.

Terkait status KLB dalam epidemiologi ada satu tingkat di bawah wabah. Artinya KLB rabies ini masih bisa ditangani di tingkat lokal oleh pemerintah bersama masyarakat setempat.

Dengan status KLB ini ada beberapa tindakan yang harus dilakukan untuk melokalisasi baik dari sisi hewan maupun manusia.

Artikel: diambil dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI.

Tanda-tanda dan gejala rabies

Pada umumnya, tanda-tanda dan gejala rabies muncul secara bertahap. Masa inkubasi infeksi virus ini yaitu jangka waktu dari penularan virus hingga munculnya gejala pertama rata-rata berlangsung selama 35 hingga 65 hari.

Ketika gejala telah muncul, biasanya penyakit rabies sudah tergolong fatal. Oleh karena itu, segera cari pertolongan medis apabila tergigit binatang tanpa perlu menunggu munculnya gejala.

Ketika mulai merasa sakit, infeksi virus rabies akan mulai menimbulkan gejala.

Rabies (Penyakit Anjing Gila

Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf dan disebabkan oleh virus rabies. Seseorang dapat terkena penyakit ini apabila tergigit oleh binatang yang terinfeksi virus tersebut.

Umumnya, virus rabies ditemukan pada hewan liar. Beberapa hewan liar yang menyebarkan virus tersebut adalah sigung, rakun, kelelawar, dan rubah. Namun, di beberapa negara, masih banyak binatang peliharaan yang membawa virus tersebut, termasuk kucing dan anjing.

Bila seseorang yang terserang virus ini mulai mengalami berbagai gejala, kemungkinan telah terjadi kerusakan pada sistem saraf pusat dan otaknya.

Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, Anda dan binatang peliharaan Anda harus melakukan vaksinasi. Selain itu, apabila Anda digigit binatang yang berpotensi terinfeksi virus, segera periksakan diri ke dokter sebelum muncul gejala apapun.

 

Seberapa umumkah rabies?

Rabies adalah penyakit yang cukup umum terjadi di beberapa negara. Setiap tahunnya, penyakit ini menjadi penyebab sekitar 59.000 kematian.

Meskipun telah banyak dilakukan program vaksin rabies, terutama untuk anjing-anjing liar, masih banyak sekali kasus yang terjadi akibat gigitan anjing. Menurut WHO, sebanyak lebih dari 90% kasus rabies terjadi karena gigitan anjing yang terinfeksi virus.

Angka kematian akibat penyakit ini terjadi paling banyak di negara-negara yang tidak memiliki fasilitas kesehatan memadai, terutama di Asia dan Afrika. Selain itu, kurangnya sosialisasi akan bahaya rabies serta pencegahannya juga memengaruhi tingginya angka kasus penyakit ini.

Penyakit ini dapat terjadi pada semua usia, namun kasus kejadiannya paling banyak ditemukan pada anak-anak berusia 15 tahun ke bawah. Persentase kejadiannya adalah sekitar 40%.

Di samping itu, yang termasuk dalam kelompok dengan risiko tinggi yaitu anak-anak yang tinggal di daerah yang rawan terhadap infeksi gigitan binatang, dan orang yang bepergian ke daerah-daerah terpencil di mana kondisi kesehatan masih belum berkembang.

Penyakit ini dapat dicegah dengan cara mengenali faktor-faktor risiko yang dapat dihindari. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Anda.

Tanda-tanda dan gejala rabies sebagaiamana yang dilansir dari laman hellosehat.com. Pada umumnya, tanda-tanda dan gejala rabies muncul secara bertahap. Masa inkubasi infeksi virus ini yaitu jangka waktu dari penularan virus hingga munculnya gejala pertama rata-rata berlangsung selama 35 hingga 65 hari.

Ketika gejala telah muncul, biasanya penyakit rabies sudah tergolong fatal. Oleh karena itu, segera cari pertolongan medis apabila tergigit binatang tanpa perlu menunggu munculnya gejala.

Ketika mulai merasa sakit, infeksi virus rabies akan mulai menimbulkan gejala seperti:

  • Demam mencapai 38 derajat Celcius atau lebih
  • Sakit kepala
  • Kecemasan
  • Merasa tubuh tidak sehat secara keseluruhan
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Mual disertai muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Rasa sakit atau mati rasa di area yang digigit
  • Merasa kebingungan, resah, dan gelisah
  • Lebih agresif dan hiperaktif
  • kejang otot dan kelumpuhan mungkin terjadi
  • Bernapas berlebihan (hiperventilasi), terkadang kesulitan bernapas
  • Memproduksi lebih banyak air liur
  • Takut dengan air (hydrophobia)
  • Kesulitan menelan
  • Berhalusinasi, bermimpi buruk, dan insomnia
  • Gangguan ereksi pada pria
  • Sensitif terhadap cahaya (photophobia)

Gejala awal dapat berlangsung selama 2 hingga 10 hari. Seiring dengan berjalannya waktu, gejala akan bertambah parah.

Pada tahap berikutnya, penderita mulai merasakan gangguan sistem saraf yang akut. Seiring dengan berjalannya waktu, penderita akan mengalami kesulitan bernapas yang cukup parah.

Apabila penyakit ini tidak segera diobati setelah digigit, penderita hampir selalu akan memasuki fase koma.

Kemungkinan ada beberapa tanda atau gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda mempunyai kekhawatiran mengenai suatu gejala, konsultasikanlah pada dokter Anda.

Apa saja hewan yang membawa virus penyebab rabies?

Umumnya, penularan rabies paling sering terjadi melalui gigitan hewan.

Menurut CDC hewan pembawa virus penyebab rabies umumnya adalah mamalia seperti:

1. Hewan peliharaan dan ternak

Berikut adalah binatang-binatang peliharaan dan ternak yang mungkin membawa virus rabies:

  • Kucing
  • Anjing
  • Sapi
  • Kambing
  • Kuda

2. Hewan liar

Beberapa jenis hewan liar juga dapat menularkan virus rabies, seperti:

  • Kelelawar
  • Monyet
  • Rakun
  • Rubah
  • Berang-berang
  • Sigung

Pada kasus yang sangat jarang terjadi, virus penyebab rabies dapat tersebar dari proses transplantasi organ, apabila organ yang digunakan telah terinfeksi virus.

1. Yang harus dilakukan setelah tergigit binatang dengan rabies

Apabila Anda telah tergigit atau dicakar binatang yang berisiko membawa virus, lakukan hal-hal di bawah ini:

  • Bersihkan luka dengan air mengalir dan sabun selama beberapa menit
  • Tutup luka dengan perban sederhana
  • Pergi ke pusat layanan medis, rumah sakit, atau dokter umum terdekat
shutterstock 793065961
WASPADA! Penularan Virus Rabies pada Binatang dan Cara Pencegahannya!. Dok: Istimewa.

Pencegahan

Anda dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini dengan melakukan langkah-langkah di bawah ini:

1. Berikan vaksinasi pada hewan peliharaan Anda

Kucing dan anjing peliharaan Anda harus dijaga dari kemungkinan terinfeksi virus. Maka dari itu, pastikan Anda membawa peliharaan Anda ke dokter hewan dan mintalah dokter untuk memberikan suntik vaksinasi.

2. Jaga binatang peliharaan Anda dari lingkungan luar

Usahakan untuk menjaga hewan peliharaan Anda agar tidak terlalu sering memiliki kontak dengan dunia luar. Hal ini dapat mencegah peliharaan Anda terpapar virus dari hewan liar.

3. Laporkan keberadaan hewan liar ke pihak berwajib

Apabila Anda melihat adanya hewan liar di daerah Anda, laporkan ke pihak yang berwajib. Biasanya akan ada lembaga atau pihak yang akan menampung hewan-hewan liar tersebut dan memberikan vaksinasi.

4. Lakukan vaksinasi sebelum bepergian ke luar negeri

Jika Anda akan bepergian ke negara atau daerah dengan potensi terjadinya penularan penyakit ini, sebaiknya Anda melakukan pencegahan dengan suntik vaksin rabies.

Apabila anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah ke dokter Anda untuk memahami solusi yang terbaik untuk Anda. semoga bermanfaat.***.