Senyum yang Tak Lekang Waktu: Memori Mahasiswa FPOK Angkatan 2007, Dari Bangku Kuliah hingga Jejak Pengabdian

Avatar of lpkpkntb
Potret kebersamaan mahasiswa FPOK angkatan 2007 yang kini mengabdi di berbagai profesi. (Dok. Alumni)
Potret kebersamaan mahasiswa FPOK angkatan 2007 yang kini mengabdi di berbagai profesi. (Dok. Alumni)

LOMBOK – Sebuah foto lawas kembali menghidupkan kenangan yang telah tersimpan hampir dua dekade. Dalam foto itu terlihat belasan mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) angkatan 2007 berkumpul mengenakan jas almamater biru. Ada yang berdiri di barisan belakang, ada yang duduk di depan, sebagian tersenyum ke arah kamera, sementara yang lain masih bercanda dengan teman di sampingnya. Tidak ada pose yang dibuat-buat, semuanya tampak alami, sebagaimana kehidupan mahasiswa pada masa itu.

Baca Juga:Pengamat: Dunia Olahraga Indonesia Belum Profesional, Perlu Fokus pada Cabor Potensial Seperti Angkat Besi

Di balik foto sederhana tersebut tersimpan cerita tentang perjuangan, persahabatan, dan mimpi yang kala itu masih sedang dirintis. Tak seorang pun di antara mereka mengetahui seperti apa masa depan yang akan dijalani. Yang mereka tahu hanyalah datang ke kampus setiap pagi, mengikuti kuliah, menjalani praktik olahraga, berdiskusi, mengerjakan tugas, lalu pulang dengan harapan suatu hari nanti ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi alumni FPOK angkatan 2007, foto itu bukan sekadar dokumentasi. Ia menjadi pengingat bahwa masa kuliah merupakan salah satu fase terindah dalam kehidupan. Masa ketika segala sesuatu dijalani bersama, mulai dari mengikuti perkuliahan teori, praktik di lapangan, hingga menikmati kebersamaan di sela-sela aktivitas kampus.

Saat itu, jumlah mahasiswa dalam satu angkatan sekitar 40 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang humoris, ada yang aktif berorganisasi, dan ada pula yang lebih banyak menunjukkan kemampuan di lapangan olahraga. Perbedaan itu justru menjadi kekuatan yang membuat angkatan 2007 dikenal akrab dan kompak.

Baca:5 MANFAAT BEROLAHRAGA DALAM PERSPEKTIF AGAMA ISLAM

Sebagai mahasiswa olahraga, keseharian mereka tentu berbeda dengan mahasiswa pada fakultas lain. Selain mengikuti kuliah teori, mereka lebih sering berada di lapangan. Lintasan atletik, lapangan sepak bola, lapangan bola voli, hingga ruang praktik menjadi tempat yang hampir setiap hari mereka datangi. Keringat, semangat, dan canda tawa menjadi bagian dari perjalanan akademik yang tidak bisa dipisahkan.

Salah seorang alumni mengenang, setiap kali praktik olahraga selesai, seluruh mahasiswa biasanya berkumpul di halaman kampus atau kantin. Di tempat itulah mereka saling bertukar cerita, berdiskusi mengenai tugas kuliah, bahkan saling memberi semangat ketika menghadapi ujian.

“Kalau sekarang melihat foto ini, rasanya seperti baru kemarin. Waktu itu kami tidak pernah berpikir akan berpisah begitu lama. Semua terasa sederhana, tetapi justru itulah yang paling dirindukan,” ujar salah seorang alumni.

Di balik kebersamaan angkatan 2007, ada sosok yang dipercaya menjadi ketua tingkat, yaitu Gufri. Saat itu ia hanyalah mahasiswa biasa yang mendapat amanah dari teman-temannya untuk menjadi penghubung antara mahasiswa dan dosen. Tugas tersebut dijalankannya dengan penuh tanggung jawab, mulai dari menyampaikan informasi jadwal kuliah, mengoordinasikan kegiatan kelas, hingga menjadi perwakilan mahasiswa dalam berbagai urusan akademik.

Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari, Gufri tetap membaur bersama teman-temannya. Tidak ada jarak antara ketua tingkat dengan mahasiswa lainnya. Mereka belajar, bercanda, dan berjuang bersama menyelesaikan setiap semester.

Kini, hampir dua puluh tahun berlalu, perjalanan hidup para alumni membawa mereka ke berbagai bidang pengabdian. Ada yang menjadi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dosen, pelatih olahraga, aparatur sipil negara, pengusaha, hingga tokoh agama. Masing-masing menjalani jalan hidup yang berbeda, tetapi semuanya berawal dari ruang kuliah dan lapangan olahraga yang sama.

Salah satu alumni yang masih aktif di dunia olahraga adalah Zaen. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih mengabdikan diri sebagai guru PJOK. Tidak hanya mengajar di sekolah, Zaen juga dikenal sebagai pelatih sepak bola (coach) yang aktif membina pemain-pemain muda di daerahnya.

Bagi Zaen, dunia olahraga bukan sekadar profesi, tetapi juga panggilan untuk membentuk karakter generasi muda. Melalui sepak bola, ia mengajarkan arti disiplin, kerja sama, sportivitas, dan tanggung jawab, nilai-nilai yang dahulu juga ia pelajari saat menjadi mahasiswa FPOK.

“Ilmu yang kami dapatkan di bangku kuliah sangat bermanfaat dalam pekerjaan sekarang. Menjadi guru sekaligus pelatih membuat saya terus belajar bagaimana mendidik anak-anak agar bukan hanya menjadi atlet yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” ungkapnya.

Perjalanan Zaen menjadi bukti bahwa pendidikan olahraga memiliki peran besar dalam membentuk sumber daya manusia. Apa yang dipelajari di kampus tidak berhenti pada teori, tetapi diwujudkan dalam bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat.

Sementara itu, perjalanan hidup Gufri juga mengalami perubahan yang luar biasa. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kini dikenal sebagai TGH H. Gufri. Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, beliau yang kini bermukim di Kota Mekkah mengaku masih sering mengenang masa-masa kuliah bersama teman-temannya.

“Masa kuliah adalah masa yang penuh kenangan. Kami belajar bersama, saling membantu, dan membangun persaudaraan yang sampai sekarang tetap terjaga. Walaupun berada di tempat yang berbeda, silaturahmi itu tidak pernah putus,” ujarnya.

Saat ini, TGH H. Gufri aktif mendampingi dan membimbing jamaah umrah maupun haji asal Indonesia di Tanah Suci. Pengalaman tersebut menjadi bentuk pengabdian yang berbeda dari profesi teman-temannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan manfaat bagi sesama.

Bagi alumni angkatan 2007, perjalanan hidup Gufri menjadi kebanggaan tersendiri. Sosok yang dahulu mereka kenal sebagai ketua tingkat kini dipercaya membimbing tamu-tamu Allah di Mekkah. Perubahan itu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki jalan pengabdian yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Komunikasi antarsesama alumni hingga kini masih terjalin melalui berbagai kesempatan, terutama melalui grup WhatsApp. Di sana mereka saling bertukar kabar, mendoakan teman yang sedang menghadapi ujian hidup, hingga mengenang kembali foto-foto lama yang menjadi saksi perjalanan masa muda.

Setiap kali foto angkatan 2007 kembali dibagikan, selalu muncul komentar yang dipenuhi tawa dan nostalgia. Ada yang mengenang dosen favorit, ada yang mengingat tugas praktik yang melelahkan, ada pula yang bercerita tentang perjalanan menggunakan sepeda motor menuju kampus dengan kondisi jalan yang saat itu belum sebaik sekarang.

Bagi mereka, kenangan itu jauh lebih berharga dibandingkan nilai akademik semata. Justru dari kebersamaan itulah lahir persahabatan yang bertahan hingga hampir dua puluh tahun.

Rencana untuk menggelar reuni pun beberapa kali menjadi pembahasan di antara alumni. Mereka berharap suatu hari nanti seluruh angkatan dapat kembali berkumpul, mengenang masa-masa kuliah, mengunjungi kembali kampus, serta melihat tempat-tempat yang dahulu menjadi saksi perjuangan mereka.

Reuni bukan sekadar ajang bertemu kembali. Lebih dari itu, reuni menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan hidup masing-masing. Dari sekitar 40 mahasiswa yang dahulu duduk dalam satu angkatan, kini mereka telah menjadi pribadi-pribadi yang mengabdi di berbagai bidang.

Ada yang mendidik generasi muda di sekolah, ada yang melatih atlet, ada yang menjadi akademisi, ada yang berkarya di dunia usaha, dan ada pula yang mengabdikan diri di Tanah Suci mendampingi jamaah umrah dan haji.

Foto lawas itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar gambar. Ia adalah saksi bisu perjalanan sebuah angkatan yang pernah bermimpi bersama. Setiap senyum yang terekam di dalamnya mengandung harapan, semangat, dan keyakinan bahwa masa depan akan memberikan jalan terbaik bagi masing-masing.

Hampir dua puluh tahun telah berlalu, tetapi nilai-nilai yang tumbuh selama menjadi mahasiswa FPOK angkatan 2007 tetap hidup. Persahabatan, sportivitas, disiplin, kerja keras, dan semangat mengabdi menjadi bekal yang terus mereka bawa dalam menjalani kehidupan.

Dan setiap kali foto itu kembali dilihat, yang hadir bukan sekadar wajah-wajah muda dalam balutan jas almamater biru, melainkan cerita tentang sebuah keluarga besar yang pernah dipersatukan oleh ruang kuliah, lapangan olahraga, dan mimpi-mimpi yang kini telah menjelma menjadi kenyataan.