NTB, – Pengamat akademisi olahraga dan kandidat doktor, Hasbi, M.Or, menilai dunia olahraga Indonesia hingga saat ini masih belum sepenuhnya profesional. Ia mengatakan bahwa penganggaran yang masih berasal dari ranah politik membuat kebijakan olahraga nasional juga kental dengan nuansa politik.
Baca Juga:Persiapan Porprov NTB 2026 Dimulai, Akademisi Ingatkan Pentingnya Ketepatan Waktu Demi Prestasi PON 2028
“Kalau anggaran saja sudah dari politik, tentu kebijakannya juga politik,” ujar Hasbi. Hal ini, menurutnya, berbeda jauh dengan negara-negara maju, di mana olahraga telah berkembang menjadi profesi murni. Di sana, atlet cukup fokus mengembangkan diri, tanpa harus terjebak dalam tarik-menarik kepentingan non-olahraga.
Hasbi menekankan, bila Indonesia ingin mencetak prestasi di level dunia, sebaiknya mulai mengarahkan fokus pada cabang olahraga (cabor) yang tidak terlalu bergantung pada faktor postur tubuh. Ia menyebutkan contoh seperti menembak, memanah, dan angkat besi, yang lebih mengutamakan skill, teknik, dan kekuatan mental.
“Kalau bicara cabor seperti voli atau basket, kita berat. Lawan kita di Eropa atau Amerika posturnya jauh lebih tinggi. Secara fisik kita sudah kalah sebelum bertanding,” ungkap Hasbi. Sebaliknya, untuk cabor seperti sepak bola, ukuran tubuh tidak menjadi penghalang besar karena teknik, kecerdasan bermain, dan kecepatan bisa menjadi penentu.
Hasbi juga menyoroti bahwa sepanjang sejarah, Indonesia belum pernah melahirkan atlet yang benar-benar berprestasi di level dunia dalam cabang olahraga basket. Ini, katanya, menjadi bukti bahwa strategi pengembangan harus realistis, fokus pada potensi alamiah, dan memperhatikan karakteristik fisik bangsa.
“Kita harus cerdas memilih cabor yang bisa membawa nama bangsa berkibar di dunia, bukan malah memaksakan diri di medan yang tidak menguntungkan,” tutup Hasbi.
(Zc).
