Ketika Gelar Tak Lagi Bermakna: Akademisi Ingatkan Bahaya Mengabaikan Integritas

Avatar of lpkpkntb
Jangan Rusak Integritas Akademik Demi Kepentingan Sesaat!” Akademisi Ingatkan Bahaya Pendidikan Instan
Jangan Rusak Integritas Akademik Demi Kepentingan Sesaat!” Akademisi Ingatkan Bahaya Pendidikan Instan (Photo: Ilustrasi/net)

Mataram – Integritas Akademik Di tengah arus percepatan zaman dan tuntutan pencapaian akademik yang semakin kompetitif, dunia pendidikan tinggi kembali diingatkan pada satu nilai mendasar yang kerap terpinggirkan, yakni integritas akademik. Nilai ini menjadi penentu bukan hanya kualitas lulusan, tetapi juga martabat dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan itu sendiri.

Gemerlap Gelar

Di balik gemerlap gelar akademik, indeks prestasi, serta berbagai capaian formal lainnya, terdapat proses panjang yang semestinya dijalani dengan kejujuran, etika, dan tanggung jawab. Tanpa integritas, pendidikan berisiko kehilangan maknanya sebagai ruang pembentukan karakter dan peradaban. Pesan reflektif inilah yang disampaikan oleh akademisi olahraga sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Pendidikan, Hasbi, M.Or., yang menegaskan bahwa integritas akademik bukan sekadar jargon normatif, melainkan fondasi utama keberlangsungan mutu dan marwah pendidikan tinggi.

Baca:PON 2028 di NTB Terancam Pindah? Sejumlah Cabor Dikabarkan Digelar di Jakarta

Menurut Hasbi, masih terdapat kecenderungan sebagian pihak memandang pendidikan hanya sebagai “hasil akhir” yang diukur dari gelar, ijazah, atau titel yang tersemat di belakang nama. Cara pandang semacam ini, kata dia, berpotensi menyesatkan dan menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya. “Esensi pendidikan bukan terletak pada gelarnya, tetapi pada proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawab. Proses itu sendiri adalah tujuan,” ujarnya.

Ia menegaskan, ketika proses akademik diabaikan dan hasil instan dijadikan orientasi utama, maka pencapaian yang diraih menjadi rapuh dan mudah runtuh. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat melemahkan kualitas sumber daya manusia serta merusak kepercayaan terhadap dunia pendidikan.

KLIK:Suara NTB untuk Prabowo: Pisahkan Urusan Pemuda dan Olahraga, Pilih Menpora Kompeten

Lebih jauh, Hasbi menyoroti berbagai bentuk penyimpangan akademik yang kerap muncul akibat tekanan kepentingan pribadi, tuntutan administratif, maupun ambisi sesaat. Praktik plagiarisme, manipulasi data penelitian, hingga ketidakjujuran dalam evaluasi akademik disebutnya sebagai persoalan serius yang dapat mencederai kredibilitas lembaga pendidikan. “Ketika integritas akademik dikorbankan, gelar dan ijazah kehilangan makna substansial. Ia tidak lagi mencerminkan kapasitas intelektual dan kualitas moral pemiliknya,” tegasnya.

Hasbi menambahkan, rusaknya integritas akademik tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi secara keseluruhan. Institusi pendidikan yang seharusnya menjadi benteng nilai dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan berisiko dipersepsikan sebagai sekadar tempat produksi gelar apabila mengabaikan prinsip kejujuran akademik. “Kepercayaan publik itu mahal. Sekali rusak, akan sangat sulit untuk dipulihkan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga integritas akademik tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Mahasiswa, dosen, hingga pengelola perguruan tinggi memiliki peran yang sama penting. Mahasiswa dituntut untuk jujur dalam belajar dan berkarya, dosen berkewajiban menjadi teladan dalam etika keilmuan, sementara institusi harus membangun sistem yang adil, transparan, dan berorientasi pada kualitas. “Pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan karakter, bukan sekadar akumulasi nilai, angka kredit, atau capaian administratif,” jelas Hasbi.

Baca:LPDP 2026 PTUD Resmi: Daftar 17 Universitas Unggulan Dunia dan Skema Prioritas Awardee

Dengan latar belakangnya di bidang olahraga, ia mengibaratkan integritas akademik seperti sportivitas dalam sebuah pertandingan. “Ilmu tanpa integritas ibarat olahraga tanpa sportivitas. Mungkin tampak menang di papan skor, tetapi sejatinya kalah secara moral,” ujarnya. Analogi tersebut dinilai relevan untuk menggambarkan pentingnya kejujuran dalam setiap proses akademik, baik dalam pembelajaran, penelitian, maupun evaluasi.

Selain menyasar civitas akademika, Hasbi juga mengajak masyarakat luas untuk lebih menghargai proses panjang yang ditempuh oleh mahasiswa dan akademisi. Ia menilai budaya instan yang berkembang di tengah masyarakat turut memberi tekanan terhadap dunia pendidikan. Mengutip pandangan para ahli pendidikan, ia menekankan bahwa perjalanan intelektual harus dijalani dengan kejujuran, kesabaran, serta penghormatan terhadap etika dan aturan. “Jika proses ditempuh dengan benar, hasilnya akan membawa keberkahan. Namun jika proses dilalui dengan cara yang keliru, hasilnya justru berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari,” paparnya.

Dalam konteks tertentu, Hasbi juga menyoroti keberhasilan individu yang mampu mengharumkan nama kampus melalui capaian di luar ruang kelas. Menurutnya, pencapaian tersebut patut diapresiasi sebagai bagian dari prestasi institusi. Namun ia mengingatkan, capaian tersebut idealnya tetap berjalan seiring dengan pemahaman dan penghargaan terhadap proses akademik yang dijalani. Sebab, prestasi di luar bidang akademik dan proses perkuliahan memiliki karakter serta tanggung jawab yang berbeda, yang sama-sama perlu dijaga secara proporsional.

Pesan moral yang disampaikan Hasbi ini menjadi refleksi penting, terutama di tengah tuntutan dunia modern yang serba cepat dan kompetitif. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan akademik sejati tidak diukur dari seberapa cepat gelar diraih, melainkan dari seberapa kuat nilai keilmuan dan integritas yang tertanam dalam diri setiap lulusan.

“Jangan pernah mengorbankan integritas demi kepentingan sesaat. Hargai proses, karena proses itulah tujuan utama pendidikan,” tutup Hasbi.

Pesan yang disampaikan Hasbi tersebut menjadi pengingat bahwa integritas akademik merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditawar. Di tengah dinamika dan tuntutan pencapaian yang semakin tinggi, dunia pendidikan dituntut untuk tetap menjaga nilai-nilai dasar keilmuan agar setiap capaian yang diraih benar-benar lahir dari proses yang jujur, bermartabat, dan berkelanjutan.

(Rik)