Bukan Kejam, Ini Alasan Dosen Tegas Justru Dibutuhkan di Lingkungan Kampus

Avatar of lpkpkntb
Ilustrasi: dosen killer. Dok. [Pexels./bi]
Ilustrasi: dosen killer. Dok. [Pexels./bi]

Istilah “dosen killer” yang kembali mengemuka di kalangan mahasiswa sejatinya perlu dibaca melalui kacamata teori pendidikan kritis. Stigma tersebut kerap lahir dari relasi kuasa yang timpang dalam proses akademik, ketika ketegasan pedagogis disalahartikan sebagai tindakan represif. Padahal, salah satu dosen menegaskan bahwa ketegasan bukan berangkat dari kebencian terhadap mahasiswa, melainkan dari tanggung jawab akademik. “Bukan karena kami membenci mahasiswa, tetapi karena kami ingin produk akademik yang berkualitas, serta mahasiswa memiliki pengalaman belajar dan integritas akademik,” ujarnya.

Dalam perspektif Paulo Freire, pendidikan bukanlah proses banking education di mana mahasiswa sekadar menjadi wadah pasif penerima pengetahuan. Pendidikan sejati adalah proses dialogis yang menuntut kesadaran kritis (critical consciousness). Ketika dosen menolak karya ilmiah yang lemah secara metodologis, sesungguhnya ia sedang mendorong mahasiswa keluar dari zona nyaman menuju proses refleksi, revisi, dan pendewasaan intelektual. Penolakan tersebut merupakan bagian dari praksis pedagogis yang emansipatoris, bukan represif.

Sementara itu, Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki fungsi reproduksi sekaligus legitimasi modal kultural. Dosen, dalam hal ini, berperan sebagai cultural gatekeeper penjaga standar agar gelar akademik tidak tereduksi menjadi simbol kosong tanpa kompetensi. Jika dosen melonggarkan standar demi rasa kasihan atau tekanan sosial, maka yang terjadi bukan keadilan, melainkan symbolic violence terhadap masyarakat yang kelak menerima lulusan tanpa kualitas memadai.

Dari sudut pandang etika profesi akademik, ketegasan dosen merupakan bentuk academic integrity enforcement. Integritas akademik tidak hanya menyangkut plagiarisme, tetapi juga kejujuran metodologis, ketepatan analisis, dan keberanian intelektual dalam berargumentasi. Meluluskan mahasiswa yang belum siap secara akademik justru melanggar prinsip non-maleficence tidak merugikan pihak lain karena publik berhak memperoleh lulusan yang kompeten dan bertanggung jawab.

Dalam kerangka teori institusi pendidikan, universitas tidak boleh terjebak menjadi credential factory atau pabrik ijazah. Ketika standar diturunkan demi kepuasan jangka pendek mahasiswa, yang runtuh bukan hanya kualitas lulusan, tetapi juga kredibilitas institusi. Ketegasan dosen di sini berfungsi sebagai mekanisme kontrol mutu (quality control) yang menjaga martabat akademik perguruan tinggi.

Konsep tough love dalam pendidikan dapat dipahami sebagai praktik pedagogis yang menempatkan kepentingan jangka panjang mahasiswa di atas kenyamanan sesaat. Ketegasan bukanlah negasi empati, melainkan empati yang berlandaskan visi akademik. Seorang dosen yang tegas sejatinya sedang membentuk academic habitus disiplin berpikir, etos kerja ilmiah, dan tanggung jawab intelektual yang akan menjadi bekal mahasiswa setelah lulus.

Dengan demikian, narasi “dosen killer” perlu didekonstruksi. Yang harus dikritik dan ditindak adalah dosen toksik yang melanggar etika, bukan dosen tegas yang konsisten menjaga standar. Pada akhirnya, dosen tegas bukan musuh mahasiswa, melainkan penjaga gerbang mutu akademik, yang memastikan bahwa setiap gelar yang disandang benar-benar mencerminkan kapasitas intelektual, integritas, dan tanggung jawab sosial.