Profesor Kertas — Gelar Tinggi, Tapi Sunyi di Tengah Publik

Avatar of lpkpkntb
Negara Kaya, Tapi Dosen Swasta Masih Bertahan Hidup dari SPP"
(Dok. Ilustrasi). Negara Kaya, Tapi Dosen Swasta Masih Bertahan Hidup dari SPP"

Ketika Ilmu Hanya Disimpan, Bukan Dibagikan

🟨 Mereka Hidup di Lemari, Bukan di Ruang Diskusi

Di negeri ini, profesor adalah burung langka. Tapi bukan langka karena kelangkaan ilmunya. Melainkan karena jarangnya terlihat terbang.

Profesor-profesor itu hidup di dalam lemari. Di antara tumpukan jurnal, proposal, dan dokumen-dokumen yang hanya dibaca oleh panitia penilai jabatan. Mereka bukan makhluk udara, tapi makhluk kertas. “Profesor kertas.” Kalau mereka bicara, itu pun bukan dengan suara, tapi dengan footnote.

🟨 Ilmu Demi Pangkat, Bukan Demi Kebenaran

Saya pernah bertemu seorang profesor yang sangat sopan. Saking sopannya, ia tidak pernah menyela, tidak pernah berdialog, bahkan tidak pernah hadir di diskusi publik. Ia mengajar dengan suara pelan, agar tidak mengganggu mahasiswa yang sedang bermain TikTok. Ia menulis artikel ilmiah, lalu langsung melupakannya setelah diunggah ke Sinta. Ilmunya rahasia. Tidak untuk disebar, apalagi diperdebatkan.

Katanya, ia meneliti agar bisa naik pangkat. Seperti sopir yang menyetir bukan untuk sampai, tapi demi SIM.

Akademisi yang Tak Lagi Jadi Guru Bangsa

🟨Profesor Seperti Pegawai Negeri Ilmu Pengetahuan

Di zaman dulu, profesor itu seperti guru bangsa. Sekarang, profesor lebih mirip “pegawai negeri ilmu pengetahuan.” Dapat tunjangan serdos, tapi tak pernah jadi garda depan diskursus publik. Ilmunya digembok dalam jurnal, didanai negara, tapi disimpan seperti warisan keluarga. Eksklusif. Elitis. Tidak bisa disentuh tanpa DOI.

Apa kabar rakyat? Ah, rakyat tak perlu baca jurnal. Yang penting profesor sudah menulis, dan akreditasi kampus tetap A.

🟨Ilmu Eksklusif, Gema Teredam di Balik DOI

Ada juga profesor yang seperti “penyair pensiun.” Kalimat-kalimatnya kering, tapi tetap dianggap “bermutu” karena jumlah kata dan format APA. Mereka bicara di seminar seperti membaca mantra. Tidak ada gairah. Tidak ada gelora. Ilmu jadi kewajiban, bukan cinta. Kalau boleh jujur, mereka lebih mirip pegawai absensi daripada pengembara makna.

Konon, mereka jadi profesor karena sudah cukup lama menunggu. Ada yang naik profesor karena setia menghadiri rapat fakultas. Ada yang jadi profesor karena rajin mengganti kepala prodi. Kuantitatif? Iya. Kualifikasi? Belum tentu.

Gelar Tinggi, Tapi Gagal Menjadi Teladan

🟨Seminar Jadi Ritual, Bukan Ruang Berpikir

Tapi siapa yang berani menggugat? Mereka punya gelar. Punya toga. Foto mereka terpampang di brosur kampus dan videotron pinggir jalan. Mereka bicara atas nama universitas, bahkan kadang atas nama negara.

Padahal, mereka tidak pernah bicara. Hanya menulis.

🟨 Artikel Ilmiah Rasa Mie Instan

Dan kadang, tulisan pun bukan mereka yang tulis. Ada “ghostwriter” ilmiah. Ada mahasiswa S3 yang diperintah, atau asisten dosen yang dikerjai. Profesor cukup mengoreksi. Kadang tidak mengoreksi juga, langsung tanda tangan. Maka lahirlah artikel-artikel seperti mie instan: cepat saji, mudah diakses, dan gampang dilupakan.

Mereka tidak suka debat. Mereka tidak tahan kritik. Padahal, ilmu lahir dari pertarungan wacana. Tapi profesor kita lebih suka seminar satu arah, dengan moderator yang takut memotong, dan peserta yang takut bertanya.

Ilmu Tanpa Gairah, Gelar Tanpa Gema

🟨Takut Kritik, Enggan Berdebat

“Profesor kita mencintai ketenangan.”
Lebih baik tenang dalam ketidaktahuan, daripada ribut karena perbedaan pandangan.

Seorang sosiolog pernah bilang, “Orang pintar kalah sama orang nekat. Tapi orang tulus menang dari semua.”
Nah, profesor kita pintar. Tapi kurang nekat. Dan entah tulus atau tidak, itu urusan Tuhan dan BKD.

🟨 Lebih Sibuk Urus Jadwal Daripada Paradigma

Saya membayangkan suatu hari ada profesor yang “bicara di pasar,” bukan hanya di simposium atau seminar.
Yang “menulis di koran,” bukan hanya di Scopus.
Yang “mengajar dengan hati,” bukan hanya dengan PPT.
Yang “gagal dalam penelitian, lalu menceritakan kegagalannya,” bukan hanya memalsukan datanya.
Yang “berani salah,” dan mengakui kesalahan itu di depan mahasiswa.

Profesor bukan dewa. Profesor bukan pejabat.
Profesor seharusnya guru.
Guru yang tidak hanya menunjukkan jalan, tapi juga berjalan bersama.

Penutup: Negara Tetap Menghargai Mereka, Meski Hanya di Atas Kertas

Tapi di negeri ini, profesor kadang lebih sibuk mengatur jadwal mengajar daripada menyusun paradigma baru. Lebih tertarik pada rapat revisi kurikulum daripada merevolusi cara belajar. Lebih peduli pada format laporan penelitian daripada relevansi temuannya.

Profesor kita rajin. Tapi seperti mesin. Tidak bernafas. Tidak berteriak. Tidak hidup.
Hanya menulis. Lalu diam.
“Profesor kertas. Profesor Sinta.” Profesor yang tak pernah bersuara, tapi selalu tercatat.

Mereka punya ilmu, tapi menyimpannya.
Punya suara, tapi membisukannya.
Punya jabatan, tapi tak menjalankan perannya.
Punya gelar, tapi tak punya gema.

Tapi tenang saja. Negara tetap menghargai mereka.
Dengan tunjangan. Dengan pangkat. Dengan seremoni.
Karena di negara ini, “yang penting bukan mengajar atau berbagi ilmu. Tapi menjadi.”
Menjadi profesor.
Walau hanya di atas kertas.

Opini

( Syahiduz Zaman )

Artikel ini pertama kali beredar luas melalui tautan yang dibagikan di grup WhatsApp dan media sosial. Gaya satiris dan kritik tajamnya terhadap fenomena “profesor kertas” menarik perhatian warganet dan kalangan akademisi, sehingga kemudian dimuat ulang oleh berbagai media sebagai refleksi terhadap dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

(*)