Ketika Ilmu Hanya Disimpan, Bukan Dibagikan: Fenomena “Profesor Kertas”

Avatar of lpkpkntb
Ketika Ilmu Hanya Disimpan, Bukan Dibagikan: Fenomena “Profesor Kertas”
Photo: Ilustrasi satiris seorang profesor “terkurung” di lemari jurnal, menyimbolkan akademisi yang sibuk administrasi tapi jarang berbagi ilmu.

🟨 Mereka Hidup di Lemari, Bukan di Ruang Diskusi

Di negeri ini, profesor adalah burung langka. Tapi bukan langka karena kelangkaan ilmunya. Melainkan karena jarangnya terlihat terbang.

Profesor-profesor itu hidup di dalam lemari. Di antara tumpukan jurnal, proposal, dan dokumen-dokumen yang hanya dibaca oleh panitia penilai jabatan. Mereka bukan makhluk udara, tapi makhluk kertas. “Profesor kertas.” Kalau mereka bicara, itu pun bukan dengan suara, tapi dengan footnote.

Cara Lolos Tes Bakat Skolastik LPDP 2026, Ini Materi dan Strategi yang Wajib Dipahami

Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru terlipat rapi di antara halaman-halaman akademik. Ia ada, tetapi tak menyinari. Ia tertulis, tetapi tak menggugah. Ruang diskusi publik kehilangan suara yang mestinya paling nyaring: suara profesor.

🟨 Ilmu Demi Pangkat, Bukan Demi Kebenaran

Saya pernah bertemu seorang profesor yang sangat sopan. Saking sopannya, ia tidak pernah menyela, tidak pernah berdialog, bahkan tidak pernah hadir di diskusi publik. Ia mengajar dengan suara pelan, agar tidak mengganggu mahasiswa yang sedang bermain TikTok. Ia menulis artikel ilmiah, lalu langsung melupakannya setelah diunggah ke Sinta. Ilmunya rahasia. Tidak untuk disebar, apalagi diperdebatkan.

Katanya, ia meneliti agar bisa naik pangkat. Seperti sopir yang menyetir bukan untuk sampai, tapi demi SIM.

Ilmu menjadi tangga administratif. Bukan perjalanan intelektual. Bukan pencarian kebenaran. Publikasi menjadi syarat kenaikan jabatan, bukan medium pencerahan. Penelitian selesai ketika jurnal terbit, bukan ketika gagasan itu hidup di tengah masyarakat.

Akademisi yang Tak Lagi Jadi Guru Bangsa

🟨 Profesor Seperti Pegawai Negeri Ilmu Pengetahuan

Di zaman dulu, profesor itu seperti guru bangsa. Sekarang, profesor lebih mirip “pegawai negeri ilmu pengetahuan.” Dapat tunjangan serdos, tapi tak pernah jadi garda depan diskursus publik. Ilmunya digembok dalam jurnal, didanai negara, tapi disimpan seperti warisan keluarga. Eksklusif. Elitis. Tidak bisa disentuh tanpa DOI.

LPDP 2026 PTUD Resmi: Daftar 17 Universitas Unggulan Dunia dan Skema Prioritas Awardee

Apa kabar rakyat? Ah, rakyat tak perlu baca jurnal. Yang penting profesor sudah menulis, dan akreditasi kampus tetap A.

Profesor hadir dalam laporan, tetapi absen dalam pergulatan sosial. Mereka tercatat dalam database, tetapi tidak terdengar dalam perdebatan kebangsaan. Seolah tugas akademisi hanya memenuhi indikator, bukan menjawab persoalan.

🟨 Ilmu Eksklusif, Gema Teredam di Balik DOI

Ada juga profesor yang seperti “penyair pensiun.” Kalimat-kalimatnya kering, tapi tetap dianggap “bermutu” karena jumlah kata dan format APA. Mereka bicara di seminar seperti membaca mantra. Tidak ada gairah. Tidak ada gelora. Ilmu jadi kewajiban, bukan cinta. Kalau boleh jujur, mereka lebih mirip pegawai absensi daripada pengembara makna.

Beasiswa Bank Indonesia 2026: Kriteria, Tahapan, Cara Daftar, dan Program Studi

Konon, mereka jadi profesor karena sudah cukup lama menunggu. Ada yang naik profesor karena setia menghadiri rapat fakultas. Ada yang jadi profesor karena rajin mengganti kepala prodi. Kuantitatif? Iya. Kualifikasi? Belum tentu.

Beasiswa Bank Indonesia 2026: Kriteria, Tahapan, Cara Daftar, dan Program Studi

Ilmu menjadi administrasi. Diskursus berubah menjadi formalitas. Seminar menjadi ritual tahunan yang sepi perdebatan.

Gelar Tinggi, Tapi Gagal Menjadi Teladan

🟨 Seminar Jadi Ritual, Bukan Ruang Berpikir

Tapi siapa yang berani menggugat? Mereka punya gelar. Punya toga. Foto mereka terpampang di brosur kampus dan videotron pinggir jalan. Mereka bicara atas nama universitas, bahkan kadang atas nama negara.

Padahal, mereka tidak pernah benar-benar bicara. Hanya menulis.

Seminar sering kali menjadi seremoni. Moderator takut memotong. Peserta takut bertanya. Kritik dianggap ancaman, bukan kesempatan memperkaya gagasan. Padahal ilmu lahir dari perbedaan. Dari pertanyaan. Dari keberanian untuk tidak sepakat.

🟨 Artikel Ilmiah Rasa Mie Instan

Dan kadang, tulisan pun bukan mereka yang tulis. Ada “ghostwriter” ilmiah. Ada mahasiswa S3 yang diperintah, atau asisten dosen yang dikerjai. Profesor cukup mengoreksi. Kadang tidak mengoreksi juga, langsung tanda tangan. Maka lahirlah artikel-artikel seperti mie instan: cepat saji, mudah diakses, dan gampang dilupakan.

Publikasi menjadi target angka. Bukan lagi ekspresi kejujuran ilmiah. Padahal satu gagasan yang lahir dari kejujuran jauh lebih bermakna daripada sepuluh artikel yang lahir dari paksaan.

Mereka tidak suka debat. Mereka tidak tahan kritik. Padahal, ilmu tumbuh dari pertarungan wacana. Tapi profesor kita lebih suka forum satu arah—aman, steril, dan tanpa risiko.

Ilmu Tanpa Gairah, Gelar Tanpa Gema

🟨 Takut Kritik, Enggan Berdebat

“Profesor kita mencintai ketenangan.”
Lebih baik tenang dalam ketidaktahuan, daripada ribut karena perbedaan pandangan.

Seorang sosiolog pernah bilang, “Orang pintar kalah sama orang nekat. Tapi orang tulus menang dari semua.”
Nah, profesor kita pintar. Tapi kurang nekat. Dan entah tulus atau tidak, itu urusan Tuhan dan BKD.

Ketakutan pada kritik membuat ruang akademik kehilangan daya hidup. Padahal kampus seharusnya menjadi tempat paling aman untuk berbeda pendapat. Tempat paling subur untuk tumbuhnya keberanian intelektual.

🟨 Lebih Sibuk Urus Jadwal Daripada Paradigma

Saya membayangkan suatu hari ada profesor yang bicara di pasar, bukan hanya di simposium.
Yang menulis di koran, bukan hanya di Scopus.
Yang mengajar dengan hati, bukan hanya dengan PPT.
Yang gagal dalam penelitian, lalu menceritakan kegagalannya.
Yang berani salah, dan mengakui kesalahan itu di depan mahasiswa.

Profesor bukan dewa. Profesor bukan pejabat.
Profesor seharusnya guru.
Guru yang tidak hanya menunjukkan jalan, tapi juga berjalan bersama.

Ilmuwan Memperkirakan, Atmosfer Bumi Bisa Kembali Menjadi Atmosfer Kaya Metana dan Rendah Oksigen ?

Profesor yang turun dari menara gading dan berdiri di tengah masyarakat. Yang menjelaskan isu ekonomi dengan bahasa sederhana. Yang mengurai konflik sosial tanpa jargon. Yang menghadirkan ilmu sebagai solusi, bukan sekadar sitasi.

Penutup: Negara Tetap Menghargai Mereka, Meski Hanya di Atas Kertas

Tapi di negeri ini, profesor kadang lebih sibuk mengatur jadwal mengajar daripada menyusun paradigma baru. Lebih tertarik pada rapat revisi kurikulum daripada merevolusi cara belajar. Lebih peduli pada format laporan penelitian daripada relevansi temuannya.

Profesor kita rajin. Tapi seperti mesin. Tidak bernapas. Tidak berteriak. Tidak hidup.
Hanya menulis. Lalu diam.
“Profesor kertas. Profesor Sinta.” Profesor yang tak pernah bersuara, tapi selalu tercatat.

Mereka punya ilmu, tapi menyimpannya.
Punya suara, tapi membisukannya.
Punya jabatan, tapi tak menjalankan perannya.
Punya gelar, tapi tak punya gema.

Tapi tenang saja. Negara tetap menghargai mereka.
Dengan tunjangan. Dengan pangkat. Dengan seremoni.
Karena di negara ini, yang penting bukan mengajar atau berbagi ilmu. Tapi menjadi.

Menjadi profesor.
Walau hanya di atas kertas.

Opini
(Syahiduz Zaman)

Artikel ini pertama kali beredar luas melalui tautan yang dibagikan di grup WhatsApp dan media sosial. Gaya satiris dan kritik tajamnya terhadap fenomena “profesor kertas” menarik perhatian warganet dan kalangan akademisi, sehingga kemudian dimuat ulang oleh berbagai media sebagai refleksi terhadap dunia pendidikan tinggi di Indonesia.