Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, sempat memicu polemik luas setelah melayangkan kritik tajam dan menggunakan diksi “bodoh” dalam surat terbuka berbahasa Inggris kepada Direktur Eksekutif UNICEF terkait kebijakan tata kelola pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Polemik ini mencuat setelah BEM UGM mengirimkan surat resmi dalam bahasa Inggris kepada pihak UNICEF yang di dalamnya memuat kalimat kritik ekstrem, termasuk frasa “help us to tell Prabowo Subianto how stupid he is as a President”.
Tiyo Ardianto menegaskan bahwa kritik tersebut murni ditujukan pada tata kelola pemerintahan dan substansi kebijakan negara, bukan merupakan serangan personal yang menyasar pribadi presiden secara individu.
BEM UGM mengkritik keras prioritas anggaran negara yang dinilai terlalu berfokus pada program MBG, sementara persoalan mendasar lain seperti akses pendidikan dan kemiskinan struktural dinilai belum terselesaikan secara optimal. Tiyo bahkan mengkritik bahwa presiden bersikap lebih mirip seperti CEO program MBG ketimbang seorang kepala negara.
Selain isu anggaran, pihak mahasiswa menyoroti kemunduran reformasi, putusan hukum yang dinilai cacat etika, serta pesimisme terhadap penegakan hak asasi manusia (HAM) di masa pemerintahan saat ini.
Menanggapi polemik yang semakin membesar, Tiyo Ardianto akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui forum diskusi di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up. Ia mengakui penyesalannya atas pemilihan kata “bodoh” yang memicu kegaduhan, namun tetap menyatakan komitmen mahasiswa untuk terus mengawal jalannya pemerintahan secara kritis.
Sumber: media sosial.
