Kadis Kominfotik NTB: Siap Kerja Berarti Siap Dipercaya

Avatar of lpkpkntb
IMG 20260831 WA0012

MATARAM — Dunia kerja tidak lagi cukup dihadapi dengan ijazah dan kemampuan akademik. Mahasiswa dituntut membawa sesuatu yang lebih penting, yakni kemampuan untuk dipercaya. Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, S.Sos., M.H., saat menjadi narasumber Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Mataram, Senin (31/8).

Dalam paparan bertajuk “Komunikasi Profesional di Era Digital: Membangun Kompetensi, Kepercayaan, dan Reputasi untuk Memasuki Dunia Kerja”, Ahsanul menegaskan bahwa ready to work bukan sekadar siap mendapatkan pekerjaan, tetapi siap menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Kompetensi membuat seseorang mampu bekerja, komunikasi membuatnya terhubung dengan orang lain, sedangkan integritas membuat kepercayaan itu tumbuh dan bertahan.

Pesan tersebut sejalan dengan Dekan FEBI UIN Mataram, Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., yang menekankan pentingnya integritas mahasiswa ketika mulai memasuki dunia kerja. Menurutnya, kemampuan akademik dan keterampilan teknis harus ditopang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta komitmen dalam menjalankan amanah.

Integritas, dalam dunia kerja, bukan sekadar nilai yang tertulis, tetapi tercermin dari bagaimana seseorang bersikap ketika tidak diawasi, menyelesaikan tugas ketika menghadapi tekanan, dan bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan. Karena itu, reputasi profesional dibangun dari konsistensi perilaku, bukan dari satu pencapaian sesaat.

Sementara itu, Wakil Rektor II UIN Mataram, Prof. Dr. Muhamad Saleh, M.Ag., mengingatkan mahasiswa untuk membangun kepercayaan sebagai modal penting dalam memasuki lingkungan profesional. Kepercayaan tidak hadir karena seseorang pandai memperkenalkan dirinya, tetapi tumbuh dari kemampuan memenuhi komitmen, menjaga komunikasi, dan menunjukkan tanggung jawab dalam setiap pekerjaan.

Ahsanul kemudian membawa mahasiswa melihat perubahan dunia kerja di tengah perkembangan teknologi digital. Menurutnya, teknologi membuat komunikasi semakin cepat, tetapi kecepatan tidak otomatis membuat komunikasi menjadi bijaksana. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan mendengar untuk memahami, bukan sekadar mendengar untuk menjawab.

Ia juga mendorong mahasiswa mengubah cara berpikir ketika menghadapi persoalan di tempat kerja. Profesional muda, katanya, tidak cukup datang membawa masalah, tetapi harus mampu menjelaskan persoalan, memahami penyebab, dan menawarkan alternatif penyelesaian. Pola tersebut menunjukkan kemampuan berpikir sekaligus kesiapan mengambil tanggung jawab.

Hal lain yang ditekankan adalah pentingnya membangun personal credibility. Ahsanul mengingatkan bahwa personal branding membuat seseorang dikenal, tetapi kredibilitas membuat seseorang dipercaya. Kredibilitas lahir dari pengalaman orang lain ketika bekerja bersama dari ketepatan memenuhi komitmen, kualitas pekerjaan, hingga cara menghadapi persoalan.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), mahasiswa juga diminta tidak menyerahkan kemampuan berpikir dan tanggung jawab kepada teknologi. AI dapat membantu menyusun kata, laporan, presentasi maupun analisis awal, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab manusia atas kebenaran, makna, dampak, dan keputusan. Karena itu, pemanfaatan AI harus disertai kemampuan memverifikasi informasi, berpikir kritis, serta menjaga etika dan akuntabilitas.

Pada akhirnya, Ahsanul menekankan bahwa profesional masa depan bukan hanya mereka yang kompeten, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik, menjaga integritas, dan adaptif menghadapi perubahan.

Pembekalan PKL pun menjadi lebih dari sekadar persiapan memasuki tempat kerja. Bagi mahasiswa, inilah ruang awal untuk membuktikan kualitas diri. Sebab dunia kerja tidak hanya mencari orang yang mampu bekerja, tetapi manusia yang mampu bekerja bersama, bertanggung jawab atas pekerjaannya, dan menjaga kepercayaan. Siap kerja, pada akhirnya, berarti siap dipercaya.