Aparat Penegak Hukum Segera Bertindak: Catatan Meninting dan Rembitan

Avatar of lpkpkntb
Screenshot 2024 05 15 22 59 18 69 f69139cffc4d135a71392e13634f144a4

lpkpkntb.com – Peristiwa apapun itu, jika terjadi secara spontan,  rasa-rasanya sulit dibendung. Apalagi berusaha diimbangi pihak sebelah. Lain halnya, jika sama-sama sigap.hehe

Ketika peristiwa (konflik) itu terjadi, kedua belah pihak bisa berada di posisi diuntungkan, juga dirugikan.


Terkait:

Keributan di Montong Buwuh Batulayar Lombok Barat


Diuntungkan maupun dirugikan itu bisa datang kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja.

Orang bersalah bisa diuntungkan. Orang bener malah sebaliknya, bisa merasa dirugikan.

Catatan Renungan

Kemudian, benar dan salah itu hanya anggapan (perception). Ambil contoh Si A bisa dianggap benar, oleh banyak orang.

Si B yang salah dapat dibenarkan pula oleh kelompok yang tidak sedikit. Untung dan rugi itu masalah pergulatan ‘rasa’ dan seringkali bersifat subjektif.

Uraian di atas, bisa kita tarik ke dalam fenomena mengejutkan yang melibatkan dua Desa Meninting dan Rembitan belum lama ini.

Kemudian, kini sikap reaksioner (menyerang, balas dendam) oknum warga Rembitan terhadap warga Montong yang lagi enjoy atau mungkin sudah lelap terbawa mimpi kian menyeruak. Kendati memang akar masalahnya saat terjadi gesekan sebelumnya.

Sebaran poster dan status di berbagai flatform medsos berseliweran. Publik, khususnya masyarakat desa Meninting menuntut aparat bergerak cepat.

Kita menanti tindakan aparat untuk memastikan siapa provokatornya?

Masyarakat  agaknya tidak sabar menunggu aparat penegak hukum segera bertindak, dalam hal ini untuk memastikan mana yang salah dan benar, agar duduk perkaranya jelas.

Masyarakat menanti keputusan dari aparat setempat untuk menyelesaikan kasus ini.

Sebuah keputusan yang bisa memuaskan dahaga keadilan kedua pihak yang berkonflik.

Masyarakat juga menanti keputusan : memilih jalan damai. Damai seperti apa?….Dan apakah mungkin keduanya bisa berdamai?

Saya pikir bisa- That impossible. Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini. Semua problem, pasti bisa ada jalan keluarnya.

Kemudian, Tentu dengan konsekuensi masing-masing. Toh, jalan damai itu petuah agama kita, was shulhu khair (damai itu baik).

Kalau upaya  ber (damai) tidak bisa ditempuh, apa kita akan terus menebar api ‘kebencian’?

Nilai-Nilai

Apa hidup kita akan terus diwarnai sikap dan tindakan di luar nilai-nilai kemanusian?

Pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab.

Saya sendiri, haqqul yakin, masyarakat kita masih memiliki karakter religius yang merawat semangat kekeluargaan.

Semoga semua baik-baik saja. Dengan adanya narasi ini dapat bermanfaat. Wallahu subhana huwa ta’alam a’lam.

Masyhur : blogger dan pedagang)*