Oleh: Dr. (Cand.) Lalu Kesa Rahmatullah, S.H., M.H.
Arus media sosial yang deras telah mengubah cara generasi muda memaknai pernikahan. Jika dulu pernikahan dianggap sakral dan menjadi kewajiban sosial, kini ia lebih sering dipahami sebagai pilihan pribadi yang didasarkan pada pertimbangan emosional dan ekonomi.
Baca Juga:Geger! Calon Pengantin Perempuan di Pinrang Ternyata Laki-Laki, Terbongkar Jelang Akad Nikah
Generasi milenial dan Gen Z mulai melihat pernikahan bukan lagi sebagai tuntutan, melainkan bentuk kemitraan yang setara antara dua individu. Nilai-nilai seperti cinta, komunikasi terbuka, dan kemandirian ekonomi kini lebih diutamakan ketimbang status sosial atau tekanan keluarga.

Pergeseran Nilai di Era Digital
Dalam budaya Indonesia, pernikahan secara tradisional dipandang sebagai ikatan yang menyatukan dua keluarga besar dalam bingkai moral dan religius. Namun perkembangan teknologi komunikasi membuat pola pikir masyarakat ikut berubah.
“Sekarang banyak anak muda yang lebih menunda menikah karena merasa belum siap secara mental dan finansial,” ujar pengamat sosial, R. Fathur, di Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Media Sosial Jadi Agen Nilai Baru
Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube kini menjadi ruang publik tempat individu membagikan kisah cinta, konflik rumah tangga, hingga pandangan pribadi tentang hubungan.
Fenomena ini menjadikan media sosial sebagai agen sosialisasi baru yang membentuk nilai dan persepsi sosial.
Namun, arus informasi yang cepat juga memunculkan sisi gelap salah satunya fenomena “marriage is scary” atau ketakutan untuk menikah.
Fenomena “Marriage Is Scary” Merebak di Dunia Maya
Ungkapan “marriage is scary” kini ramai digunakan oleh pengguna muda yang merasa cemas terhadap pernikahan.
Ketakutan itu muncul akibat maraknya konten negatif seperti kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, dan kegagalan ekonomi.
Konten semacam itu kemudian membentuk persepsi publik bahwa pernikahan penuh risiko dan sulit dijalani dengan harmonis.
Bagi sebagian generasi muda, pernikahan bahkan dianggap sebagai beban sosial yang menakutkan.
Narasi Negatif Pengaruhi Persepsi Publik
Konten viral yang menyoroti sisi kelam rumah tangga memperkuat pandangan bahwa hubungan ideal sulit dicapai.
Apalagi algoritma media sosial cenderung memperkuat konten yang menimbulkan emosi kuat — termasuk kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan.
“Orang lebih mudah percaya pada cerita gagal dibanding kisah sukses,” ujar psikolog keluarga, Nur Indah Rahma, saat dihubungi Kompas.com.
Sisi Positif: Media Sosial sebagai Ruang Edukasi
Di sisi lain, media sosial juga memberikan dampak positif.
Banyak pasangan muda dan tokoh publik memanfaatkan platform digital untuk berbagi pengalaman positif tentang komunikasi, manajemen konflik, dan keharmonisan rumah tangga.
Konten semacam ini justru memperkuat nilai-nilai pernikahan modern yang menekankan kesetaraan, tanggung jawab, dan saling menghormati.
“Banyak anak muda belajar cara menjaga hubungan yang sehat lewat media sosial. Asal tahu mana konten yang realistis dan mana yang berlebihan,” tambahnya.
Bijak Bermedia Sosial, Kunci Menjaga Nilai Pernikahan
Para ahli sepakat bahwa media sosial adalah pisau bermata dua.
Konten negatif bisa menjadi bahan refleksi, sementara konten positif dapat memperkuat keyakinan terhadap pentingnya komitmen dan cinta dalam pernikahan.
Menikmati konten rumah tangga di media sosial sebaiknya disertai sikap kritis dan kesadaran digital, agar makna pernikahan tetap dipahami sebagai ikatan suci yang layak dijaga.
Kesimpulan
Media sosial kini memegang peranan besar dalam membentuk nilai dan persepsi masyarakat tentang pernikahan.
Jika digunakan dengan bijak, platform digital bisa menjadi ruang edukatif yang menumbuhkan pemahaman baru tentang cinta dan komitmen.
Namun tanpa kesadaran, ia juga dapat menggeser nilai sakral pernikahan menjadi sekadar tontonan di layar kaca.
