Mataram – lpkpkntb.com. Majelis Adat Sasak (MAS) kembali menghadirkan ruang diskusi intelektual dan kultural melalui agenda bertajuk Tadarrus Kebudayaan Islam Sasak #1.
Kegiatan ini menjadi forum terbuka yang mengajak masyarakat luas untuk menyelami lebih dalam kekayaan tradisi puasa Muslim Sasak, tidak hanya sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai ritual dan habitus yang hidup dalam lanskap situs sejarah serta khazanah pernaskahan lokal. Momentum ini diharapkan menjadi penguat identitas budaya sekaligus refleksi spiritual menjelang dan dalam suasana Ramadhan 1447 H.
Mengusung topik “Tradisi-tradisi Puasa Muslim Sasak; Ritual dan Habitus dalam Kajian Situs dan Pernaskahan”, diskusi ini akan mengupas bagaimana praktik puasa masyarakat Sasak berkembang dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut tidak hanya tercermin dalam pola ibadah, tetapi juga dalam ritus sosial, tata ruang kampung adat, hingga manuskrip kuno yang menyimpan jejak pemikiran ulama dan tokoh adat terdahulu. Kajian ini penting untuk mempertemukan perspektif adat, agama, dan akademik dalam satu ruang dialog yang terbuka.
Kegiatan yang digagas oleh Majelis Adat Sasak ini akan dilaksanakan pada Jumat, 6 Maret 2026, pukul 09.00 WITA hingga selesai, secara daring melalui platform Zoom. Format terbuka memungkinkan partisipasi luas dari tokoh adat, akademisi, mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan Islam Sasak.
Acara ini akan dibuka sekaligus dipantik oleh Ketua Badan Pelaksana (BP) Majelis Adat Sasak (MAS), HK. Ir. Lalu Winengan, MM. Dalam kapasitasnya sebagai pimpinan pelaksana, ia akan memberikan pengantar terkait urgensi tadarrus kebudayaan sebagai upaya merawat nilai-nilai lokal yang selaras dengan ajaran Islam. Menurutnya, tradisi puasa di kalangan Muslim Sasak tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial-budaya yang membentuk karakter masyarakatnya.
Pemantik kedua sekaligus Narasumber I adalah Dr. H. L. Sajim Sastrawan, MH, selaku Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak (MAS). Ia akan mengulas dimensi ritual dan habitus dalam praktik puasa masyarakat Sasak, termasuk bagaimana nilai-nilai tersebut diwariskan melalui struktur adat, peran tokoh agama, serta dinamika sosial di berbagai wilayah Lombok. Kajian ini diharapkan mampu memperlihatkan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban syariat, tetapi juga ruang pembentukan etika kolektif masyarakat.
Sementara itu, Narasumber II menghadirkan perspektif akademik dari dunia pernaskahan melalui paparan Prof. Dr. H. Jamaluddin, MA, Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) Wilayah NTB. Ia akan mengulas jejak tradisi puasa Muslim Sasak dalam manuskrip dan sumber tertulis, termasuk kemungkinan adanya teks-teks lama yang merekam praktik keagamaan dan adat masyarakat Lombok di masa lampau. Pendekatan pernaskahan ini menjadi penting untuk memperkuat landasan historis dan ilmiah atas tradisi yang selama ini hidup secara lisan.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga ajang konsolidasi pemikiran antara adat dan akademisi. Tadarrus kebudayaan diharapkan mampu melahirkan kesadaran kolektif bahwa menjaga tradisi berarti menjaga identitas, serta memperkuat harmoni antara nilai Islam dan budaya lokal Sasak.
Bagi masyarakat yang ingin bergabung, berikut tautan dan informasi akses kegiatan:
Bergabung ke Rapat Zoom
https://us06web.zoom.us/j/83220408961?pwd=bYt3Lmh1edd0UGzZY3ZeInsieRWMfZ.1
ID Rapat: 832 2040 8961
Kode Sandi: MAS
Menariknya, panitia juga menyiapkan apresiasi bagi sejumlah peserta yang beruntung berupa hadiah sarung Lebaran.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus simbol bahwa kegiatan ini tidak hanya menghidupkan tradisi intelektual, tetapi juga menguatkan semangat kebersamaan dalam menyambut bulan suci.
Sebagai ruang temu antara adat, agama, dan akademik, Tadarrus Kebudayaan Islam Sasak #1 diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi sesaat, tetapi menjadi gerakan intelektual yang berkelanjutan dalam merawat warisan budaya.
Di tengah arus modernitas, penguatan identitas melalui pemahaman tradisi menjadi semakin penting agar generasi muda tetap mengenal akar sejarah dan nilai luhur yang membentuk masyarakatnya.
Melalui forum yang digelar Majelis Adat Sasak ini, semangat puasa tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai refleksi kolektif untuk menjaga harmoni antara Islam dan adat dalam kehidupan masyarakat Sasak.
