Mataram – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat menggelar Kuliah Umum Kebangsaan di Ballroom Atqia UNU NTB, Jalan Pendidikan, Mataram. Kegiatan yang menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.I., sebagai pemateri utama ini mendapat sambutan luar biasa dari peserta. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PWNU NTB Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB H. Zamroni Aziz, S.HI., M.H., para akademisi, dosen, mahasiswa, tokoh agama, dan masyarakat umum.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal acara. Ballroom Atqia UNU NTB dipenuhi ratusan peserta dari berbagai kalangan. Bahkan, banyak peserta yang mengikuti kegiatan dari luar ruangan karena kapasitas ballroom tidak lagi mampu menampung seluruh peserta yang hadir.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. Menurutnya, sejarah perjuangan bangsa harus dipahami secara utuh, termasuk kontribusi besar para ulama dan pesantren dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia juga mengingatkan para mahasiswa agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Menurutnya, belajar di UNU NTB bukan sekadar untuk memperoleh gelar akademik, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.
“Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh di UNU NTB adalah salah satu bentuk perjuangan pada masa sekarang. Jika dahulu para ulama dan pahlawan berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini mahasiswa berjuang melalui ilmu pengetahuan. Kesungguhan dalam belajar merupakan kontribusi nyata untuk menjaga keutuhan, persatuan, dan kemajuan bangsa Indonesia,” tegas Prof. Masnun.
Pada sesi kuliah umum, K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.I. menjelaskan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para ulama, khususnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang menjadi salah satu tokoh penting dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa. Melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari membangkitkan semangat umat Islam, santri, dan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali.
Menurutnya, para ulama tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak kebangkitan nasional dan penjaga keutuhan bangsa. Karena itu, generasi muda harus memahami sejarah perjuangan ulama sebagai bagian penting dari perjalanan Republik Indonesia.
Selain membahas sejarah kebangsaan, K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy juga menyoroti fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat terkait cara pandang terhadap pendidikan. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian masyarakat yang rela mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan seremonial, namun masih menganggap biaya pendidikan sebagai beban.
“Hari ini kita sering melihat wisuda anak tingkat PAUD atau kegiatan seremonial lainnya menghabiskan biaya yang besar hanya untuk pakaian atau acara yang sifatnya sesaat. Bahkan ada yang mencapai jutaan rupiah. Padahal itu tidak bisa digunakan selamanya. Namun ketika diminta biaya pendidikan yang jauh lebih kecil untuk masa depan anak, justru banyak yang mengeluh. Di sini kita perlu bertanya, di mana kesadaran kita terhadap pentingnya pendidikan?” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang rela berutang demi memenuhi tuntutan gaya hidup, tetapi masih enggan berinvestasi untuk pendidikan anak-anaknya. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi bangsa.
Lebih lanjut, K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy mengingatkan agar lembaga pendidikan tidak kehilangan hakikat dan tujuan utamanya. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya menjadi sarana mencetak tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan pasar global semata.
“Jangan sampai institusi pendidikan menjauh dari hakikat pendidikan itu sendiri. Kampus dan sekolah tidak boleh hanya menjadi pabrik yang memproduksi pekerja bagi elite global. Pendidikan harus menjadi ruang yang memanusiakan manusia, mengajarkan cara berpikir kritis, melatih kemampuan menyelesaikan persoalan umat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan yang memperoleh pekerjaan, tetapi juga dari sejauh mana lulusan tersebut mampu memberikan manfaat, menghadirkan solusi, serta menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Kuliah umum yang berlangsung penuh antusias tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus merefleksikan kembali arah pendidikan nasional. Kegiatan ini menegaskan komitmen UNU NTB dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, berpikir kritis, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat, bangsa, dan negara.
Pesan kebangsaan, pendidikan, dan kemaslahatan yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut mendapat apresiasi tinggi dari peserta yang memadati Ballroom Atqia UNU NTB hingga ke area luar ruangan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat merawat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan pendidikan yang berpihak kepada kemajuan umat masih sangat relevan di tengah tantangan zaman.
