MATARAM—SDN 07 Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Literasi Budaya dan Tradisi Lokal Suku Sasak untuk Peningkatan Pengetahuan Multi Pihak (Lintas Etnik). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan melalui Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan kategori pendayagunaan ruang publik Tahun 2025.
Program tersebut didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Dana Indonesiana. Kegiatan dilaksanakan di sejumlah sekolah dasar di wilayah Cakranegara, termasuk SDN 07 Cakranegara yang menjadi salah satu titik utama pelaksanaan program.

SDN 07 Cakranegara sendiri tercatat memiliki jumlah siswa kurang lebih 270 orang lebih, sehingga program literasi budaya ini dinilai strategis karena menjangkau peserta didik dalam skala cukup besar di tingkat sekolah dasar.
Pengelola kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., menegaskan bahwa literasi budaya Sasak bukan sekadar agenda edukasi, melainkan bagian dari upaya memperkuat identitas daerah yang harus dipahami semua pihak, termasuk siswa dari latar belakang etnik yang beragam seperti Jawa maupun Hindu Bali.

“Anak-anak kita ini hidup di NTB, hidup di tanah Sasak. Jadi sudah seharusnya mereka mengenal identitas Sasak. Bahkan kalau perlu, mereka juga menggunakan identitas Sasak itu dalam kehidupan sosialnya. Ini bukan soal menghapus identitas asal, tapi soal menghormati tanah tempat kita berpijak,” ujar Khairil.
Ia menekankan, filosofi masyarakat Nusantara sejak lama telah mengajarkan nilai menghormati budaya setempat, sebagaimana ungkapan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Karena itu, menurutnya, penting bagi peserta didik untuk memahami bahasa, tradisi, busana, hingga nilai sosial budaya Sasak sejak dini.
“Kalau kita tinggal di Lombok, maka budaya Sasak harus dipahami. Bahasa Sasak, tradisi, busana, hingga nilai-nilai sosialnya harus dikenalkan sejak dini. Ini bagian dari membangun rasa hormat, rasa memiliki, dan rasa cinta terhadap lingkungan sosial tempat mereka tumbuh,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, Dr. Khairil Anwar, M.Pd. merupakan dosen dan akademisi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Ia juga aktif dalam berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, termasuk pelestarian budaya daerah.
Menurut Khairil, sekolah dasar merupakan ruang strategis untuk membangun harmoni sosial di tengah masyarakat multietnik. Ia menilai keberagaman etnis yang hidup di Kota Mataram harus menjadi kekuatan, namun tetap bertumpu pada identitas lokal Sasak sebagai budaya utama wilayah.
“SDN 07 Cakranegara ini contoh nyata. Siswanya multietnik, tapi mereka harus punya satu kesadaran yang sama bahwa Lombok adalah tanah Sasak. Kalau anak-anak memahami itu sejak kecil, maka harmoni sosial lintas agama dan lintas etnik akan lebih kuat,” katanya.
Program literasi budaya ini mendapat sambutan positif dari Kepala SDN 07 Cakranegara, Evi Suryaningsih, S.Pd. Dalam sambutannya, Evi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi peluang penting untuk memperkaya wawasan peserta didik sekaligus memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya lokal.
“Kami menyambut baik kegiatan ini. Anak-anak perlu ruang belajar yang tidak hanya akademik, tetapi juga memahami tradisi daerahnya. Budaya Sasak adalah kekayaan yang harus dikenalkan sejak dini agar tidak tergerus zaman,” ujar Evi.
Ia menambahkan, pelaksanaan kegiatan literasi budaya Sasak di lingkungan sekolah menjadi bagian dari pendidikan nilai yang relevan dengan tantangan sosial saat ini, terutama dalam membangun sikap saling menghargai dan toleransi di tengah keberagaman.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir pula pengawas pendidikan Kota Mataram yang memberikan dukungan sekaligus pemantauan terhadap pelaksanaan program agar berjalan sesuai tujuan pembelajaran dan standar pendidikan dasar.
Sementara itu, tokoh budaya Sasak yang juga bagian dari Majelis Adat Sasak, Mahrup, S.Pd., menyampaikan bahwa literasi budaya Sasak harus dimulai dari sekolah karena generasi muda adalah benteng utama keberlanjutan tradisi.
“Kalau anak-anak Sasak maupun anak-anak yang tinggal di Lombok tidak mengenal budaya Sasak, maka kita sedang membiarkan warisan leluhur ini hilang pelan-pelan. Literasi budaya bukan hanya mengenal, tapi juga memahami nilai dan makna di balik tradisi,” kata Mahrup.
Ia menegaskan bahwa keberadaan lontar Sasak atau takepan merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat Sasak sejak dahulu memiliki tradisi literasi yang kuat. Karena itu, pengenalan lontar harus dilakukan secara serius agar anak-anak tidak hanya mengenal budaya secara simbolik, tetapi memahami akar sejarahnya.
“Lontar itu bukan sekadar tulisan kuno. Di dalamnya ada pesan moral, sejarah, petuah kehidupan, bahkan panduan sosial masyarakat Sasak. Kalau ini tidak dikenalkan, generasi kita akan kehilangan arah identitas,” ujarnya.
Mahrup juga menilai kegiatan lintas etnik seperti ini penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Menurutnya, pemahaman budaya lokal akan memperkuat rasa saling menghargai antarwarga, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang Bali Hindu, Jawa, maupun etnis lain yang hidup berdampingan di Kota Mataram.
Adapun pelaksanaan kegiatan di SDN 7 Cakranegara dijadwalkan dimulai pada Senin, 13 April 2026, pukul 08.00 WITA hingga selesai.
Rangkaian pertama adalah Pengenalan Lontar Sasak yang berlangsung pada Senin dan Selasa, 13–14 April 2026, dengan pemateri Mahrup, S.Pd, pukul 10.30–16.00 WITA, melibatkan 20 siswa.
Kemudian dilanjutkan Pelatihan Bahasa Sasak pada Kamis dan Jumat, 15–16 April 2026, dengan pemateri Drs. Sanusi, pukul 14.00–16.00 WITA, dengan peserta 20 siswa.
Agenda berikutnya yakni Busana Sasak yang dijadwalkan pada Senin dan Selasa, 20–21 April 2026, dipandu oleh Raden Muhamad Rais bersama Bq. Dwi Ratih Sekar Utami, pukul 14.00–16.00 WITA, dengan peserta 20 siswa.
Setelah itu, program berlanjut pada Pelatihan Tarian Sasak yang menjadi salah satu agenda utama karena berlangsung dalam beberapa sesi, yakni Rabu, 22 April, Kamis, 23 April, Senin, 27 April, Selasa, 28 April, Senin, 4 Mei, Selasa, 5 Mei, Kamis, 7 Mei, hingga Jumat, 8 Mei 2026, seluruhnya pada pukul 14.00–16.00 WITA, dengan pelatih Sumarni, S.Pd dan peserta 20 siswa.
Selain rangkaian tersebut, kegiatan juga mencantumkan agenda Cilokaq Sasak, sebagai bentuk pengenalan seni tradisi lisan dan musik Sasak yang menjadi warisan budaya penting masyarakat Lombok.
Khairil menegaskan, program Dana Abadi Kebudayaan ini tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi, tetapi juga memperkuat rasa persatuan masyarakat dalam konteks pendidikan.
“Kalau generasi muda sudah mengenal akar budayanya, maka mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat. Dan identitas yang kuat adalah fondasi harmoni sosial di daerah,” pungkasnya.
(Bi)
