MATARAM—SD Negeri (SDN) 14 Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Literasi Budaya dan Tradisi Lokal Suku Sasak untuk Peningkatan Pengetahuan Multi Pihak (Lintas Etnik). Program ini merupakan bagian dari Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan melalui Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan kategori pendayagunaan ruang publik Tahun 2025.

Kegiatan tersebut didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, serta mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata. Program literasi budaya ini diarahkan untuk memperkuat pengetahuan siswa tentang tradisi lokal Sasak, mulai dari lontar, bahasa daerah, busana adat, tarian tradisional, hingga seni cilokaq.
Pengelola kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., menegaskan bahwa literasi budaya Sasak bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya strategis membangun kesadaran identitas lokal bagi generasi muda, terutama di wilayah perkotaan seperti Cakranegara yang dikenal multietnik.
“Anak-anak kita ini hidup di NTB, hidup di tanah Sasak. Jadi sudah seharusnya mereka mengenal identitas Sasak. Bahkan kalau perlu, mereka juga menggunakan identitas Sasak itu dalam kehidupan sosialnya. Ini bukan soal menghapus identitas asal, tapi soal menghormati tanah tempat kita berpijak,” ujar Khairil.
Ia menekankan, filosofi masyarakat Nusantara telah mengajarkan nilai menghormati budaya setempat sebagaimana ungkapan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Karena itu, penguatan literasi budaya Sasak harus dimulai dari pendidikan dasar.
“Kalau kita tinggal di Lombok, maka budaya Sasak harus dipahami. Bahasa Sasak, tradisi, busana, hingga nilai-nilai sosialnya harus dikenalkan sejak dini. Ini bagian dari membangun rasa hormat, rasa memiliki, dan rasa cinta terhadap lingkungan sosial tempat mereka tumbuh,” tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, Dr. Khairil Anwar, M.Pd. merupakan dosen dan akademisi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Ia aktif dalam program pengabdian kepada masyarakat berbasis kebudayaan dan pendidikan, termasuk penguatan literasi tradisi Sasak di sekolah.
Baca:LPDP 2026 PTUD Resmi: Daftar 17 Universitas Unggulan Dunia dan Skema Prioritas Awardee
Di sisi lain, Kepala SD Negeri 14 Cakranegara, Gusti Ayu Aryanti, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyebut tidak semua sekolah mendapatkan kesempatan menjadi lokasi program literasi budaya Sasak berbasis Dana Abadi Kebudayaan.
“Kami sangat bersyukur karena tidak semua sekolah bisa mendapatkan kesempatan kegiatan seperti ini. Bagi kami, ini adalah momentum penting untuk anak-anak mengenal adat dan budaya Sasak secara langsung,” ujar Gusti Ayu Aryanti dalam sambutannya.
Menurutnya, SDN 14 Cakranegara memiliki karakteristik yang sangat beragam, baik dari sisi suku maupun agama. Ia menyebut, di sekolah tersebut terdapat siswa dari latar belakang agama Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha yang hidup berdampingan dalam suasana pendidikan yang harmonis.
“Di SDN 14 Cakranegara ini keberagamannya lengkap. Dari sisi agama ada empat, Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha. Jumlah siswa kami 158 anak. Semuanya kami dorong untuk ikut mengisi kegiatan ini dengan berbasis adat dan budaya lokal,” katanya.
Gusti Ayu menegaskan bahwa keberagaman tersebut justru menjadi alasan kuat mengapa penguatan identitas lokal Sasak penting dilakukan di lingkungan sekolah. Ia menilai pemahaman budaya Sasak akan memperkuat sikap saling menghargai di antara siswa lintas agama dan etnis.
“Kita tinggal di bumi Sasak, jadi anak-anak harus mengenal adat Sasak. Manfaatnya sangat besar, bukan hanya untuk pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan toleransi mereka sejak dini,” ucapnya.
Sementara itu, tokoh budaya Sasak yang juga bagian dari Majelis Adat Sasak, menyampaikan bahwa literasi budaya Sasak harus dimulai dari sekolah karena generasi muda adalah benteng utama keberlanjutan tradisi. Ia menilai kegiatan semacam ini penting untuk menjaga identitas lokal di tengah derasnya arus budaya modern.
“Kalau anak-anak Sasak maupun anak-anak yang tinggal di Lombok tidak mengenal budaya Sasak, maka kita sedang membiarkan warisan leluhur ini hilang pelan-pelan. Literasi budaya bukan hanya mengenal, tapi juga memahami nilai dan makna di balik tradisi,” ujarnya.
Tokoh adat tersebut menegaskan bahwa lontar Sasak atau takepan bukan hanya catatan kuno, melainkan bukti kuat bahwa masyarakat Sasak memiliki tradisi literasi sejak lama.
“Lontar itu bukan sekadar tulisan lama. Di dalamnya ada pesan moral, sejarah, petuah kehidupan, bahkan panduan sosial masyarakat Sasak. Kalau ini tidak dikenalkan sejak dini, generasi kita akan kehilangan arah identitas,” katanya.
Selain tokoh adat, salah satu narasumber yang dijadwalkan mengisi materi, H. L. Ismail, M.Pd, juga menekankan pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas kebudayaan. Menurutnya, bahasa Sasak bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga warisan yang merekam cara berpikir dan cara hidup masyarakat Lombok.
“Bahasa Sasak ini adalah pintu masuk memahami budaya Sasak. Kalau anak-anak tidak mengenal bahasanya, maka mereka akan sulit memahami nilai, ungkapan, serta filosofi kehidupan yang diwariskan orang tua dulu,” ujar Ismail.
Ia menilai pengenalan bahasa Sasak di sekolah dasar sangat strategis karena usia anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan kebiasaan dan kebanggaan terhadap bahasa daerah.
“Kita ingin anak-anak merasa bangga. Bukan hanya bisa bicara bahasa Sasak, tetapi juga memahami sopan santun bahasa dan konteks budaya yang ada di dalamnya,” katanya.
Dalam pelaksanaan program di SDN 14 Cakranegara, turut hadir pula pengawas pendidikan Kota Mataram yang memberikan dukungan sekaligus pemantauan terhadap kegiatan agar berjalan sesuai tujuan pembelajaran dan standar pendidikan dasar.
Adapun rangkaian kegiatan di SDN 14 Cakranegara diawali dengan pembukaan pada Senin, 13 April 2026 pukul 10.00 WITA.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda Pengenalan Lontar Sasak yang berlangsung pada Senin dan Selasa, 13–14 April 2026, dengan pemateri H. Safwan, pukul 12.00–14.00 WITA.
Selanjutnya, agenda Busana Sasak dijadwalkan pada Rabu dan Kamis, 15–16 April 2026, dengan pemateri M. Irwan Prasetya dan Bq. Dwi Ratih Sekar Utami, pukul 08.00–10.00 WITA.
Kemudian, agenda Pelatihan Bahasa Sasak dilaksanakan pada Senin dan Selasa, 27–28 April 2026, dengan pemateri H. L. Ismail, M.Pd, pukul 08.00–10.00 WITA.
Sementara untuk agenda Tarian Sasak, pelatihan dijadwalkan pada beberapa sesi yakni 10, 17, dan 24 April 2026, kemudian berlanjut pada 1, 8, 15, 22, dan 29 Mei 2026, dengan pelatih Nazwa, pukul 11.00–13.00 WITA.
Selain itu, kegiatan juga mencantumkan agenda Cilokaq Sasak sebagai bagian dari pengenalan seni tradisi lisan dan musik Sasak yang menjadi salah satu warisan budaya penting masyarakat Lombok.
Khairil menegaskan, program Dana Abadi Kebudayaan ini tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi, tetapi juga memperkuat persatuan sosial melalui jalur pendidikan.
“Kalau generasi muda sudah mengenal akar budayanya, maka mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat. Dan identitas yang kuat adalah fondasi harmoni sosial di daerah,” pungkasnya.
Program literasi budaya dan tradisi lokal Sasak ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata sebagai bagian dari upaya pengembangan kebudayaan daerah yang terintegrasi dengan sektor pariwisata berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.