Bayan, Lombok Utara, Tenun Fetung Bayan, salah satu wastra sakral masyarakat adat Bayan, Lombok Utara, memasuki fase baru pelestarian. Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) meluncurkan inovasi multidisiplin melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) UNU NTB 2025 yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program ini menempatkan Tenun Bayan sebagai ekspresi budaya sekaligus produk ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan. Salah satu fokus utama ialah pengurangan penggunaan pewarna sintetis. Tim PISN UNU NTB mendorong pemanfaatan pigmen alami dari bahan lokal seperti kunyit, babak banten, daun tarum, kayu mahoni, hingga kayu secang. Teknologi ekstraksi dan fiksasi modern menggunakan mesin pencacah kompos dan pemeras dihadirkan untuk menghasilkan warna alami yang lebih konsisten dan tahan lama.
“Kain dengan warna alam tak hanya memancarkan otentisitas budaya, tetapi juga memiliki nilai jual premium di pasar global yang kini makin peduli pada keberlanjutan,” ujar Dr. Duwi Purwati, S.Pd., M.Hum, salah satu pelaksana program.
Baca juga:Merintis dari Nol: Kisah Mahasiswa UNU NTB yang Memanfaatkan Waktu Kosong Jadi Cuan
Selain teknologi pewarnaan, program ini menganalisis motif khas Tenun Bayan seperti Londong Abang, Jong, Poleng, Tatah, hingga Rejasa melalui pendekatan etnomatematika. Pola geometris dan simetri dalam motif tradisional didokumentasikan sebagai bentuk algoritma budaya yang dapat diadaptasi menjadi materi ajar kurikulum lokal maupun dasar pengembangan desain digital.
Pendekatan etnolinguistik juga digunakan untuk menggali narasi budaya dalam istilah-istilah tradisional tenun. Setiap kosakata ditelusuri makna dan konteksnya, sehingga memperkuat storytelling produk dan menambah nilai emosional serta komersial tenun di pasar kreatif.
“Sinergi teknologi pigmen alami, etnomatematika, dan etnolinguistik menjadikan Tenun Fetung Bayan sebagai model pelestarian budaya adaptif,” kata Gde Agus Mega Syaputra, M.Sn, anggota tim pelaksana. Menurutnya, inovasi berbasis pengetahuan ini sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan perajin lokal.
Program ini melibatkan lintas generasi, mulai dari anak sekolah hingga lansia, untuk mempertahankan tradisi tenun sekaligus menghadirkan terobosan baru yang relevan di era ekonomi kreatif global. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) UNU NTB 2025, UNU NTB menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjaga warisan, tetapi menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan bermartabat bagi masyarakat adat.
Tenun Fetung Bayan kini tak sekadar wastra, tetapi simbol transformasi budaya yang terus hidup dan berkembang.
(Bi)
