MATARAM –Â Dunia politik tidak pernah dirancang untuk mereka yang romantis, apalagi yang naif. Dalam panggung kekuasaan, kenyamanan struktural hari ini bisa menjadi lonceng kematian karier besok pagi. Hari-hari ini, kita sedang disuguhi tontonan orkestrasi politik tingkat tinggi di tubuh Partai Golkar yang bergerak sangat taktis dari Jakarta hingga merembes ke daerah-daerah. Namun tragisnya, di Nusa Tenggara Barat (NTB), faksi lokal tampaknya masih terbuai dalam rasa aman palsu (false security), buta terhadap badai Asymmetric Warfare yang sedang mengarah tepat ke jantung pertahanan mereka.
Ketika mata publik tertuju pada riak-riak kecil konsolidasi pasca-Pilpres, di bawah permukaan sedang berjalan sebuah operasi dekonstruksi kekuasaan yang sangat rapi. Target utamanya tidak main-main: mendepak Bahlil Lahadalia dari kursi Ketum Golkar melalui jalur ormas, yang secara linier akan langsung memotong urat nadi politik Ketua DPD I Golkar NTB, H. Mohan Roliskana.
Anatomi Operasi Senyap: Dari Slipi ke Bumi Gora
Rentetan kekacauan Musda di berbagai belahan Indonesia mulai dari deadlock di Maluku Tengah, pembekuan sepihak di Bengkulu, hingga bentrokan fisik di Sumatera Utara bukanlah riak organisasi yang sporadis. Dalam kacamata ilmu politik, ini adalah penerapan nyata dari Teori Sabotase Institusional (Institutional Sabotage). Konflik sengaja diproduksi di tingkat lokal demi memunculkan narasi kolektif bahwa pusat telah kehilangan kendali, atau mengalami Authority Leakage (kebocoran otoritas).
Ketika daerah dibuat terus membara, di saat itulah faksi penantang di Jakarta yang digawangi oleh Bendahara Umum DPP Golkar, Sari Yulianti, bermanuver cepat melalui percepatan Mubes Kosgoro 1957. Ini adalah strategi Double-Pincer Movement (gerakan menjepit). Bahlil ditekan oleh delegitimasi dari bawah melalui kekacauan Musda, sementara di tingkat atas, karpet merah suksesi digelar secara konstitusional melalui mesin ormas pendiri.
Bahlil sedang digiring masuk ke dalam Invisible Trap (jebakan tak kasat mata). Dan jika Bahlil tersingkir, efek dominonya akan langsung meruntuhkan benteng politik di NTB.
Hubungan Patron-Klien dan Ancaman Political Decapitation
Mengapa kejatuhan Bahlil menjadi lonceng kematian bagi gerbong H. Mohan Roliskana? Jawabannya ada pada mekanika Teori Politik Kartel (Cartel Politics) dan pola hubungan Patron-Klien (Clientelism and Patronage).
Dalam kultur Partai Golkar, kepemilikan stempel DPP adalah instrumen absolut penentu hidup dan mati karier kader di daerah. Siapa pun yang menguasai Jakarta, dialah patron tertinggi yang memegang hak prerogatif atas rekomendasi atau “tiket” pencalonan Pilkada Serentak.
Selama ini, sudah menjadi rahasia umum adanya disharmoni tajam antara Sari Yulianti dan H. Mohan Roliskana di internal NTB. Mohan mengandalkan legitimasi struktural daerah, sementara Sari bergerak lincah dengan keunggulan akses logistik nasional (resource control). Jika Sari Yulianti berhasil mengunci kemenangan di pusat pasca-tumbangnya Bahlil, maka arah bandul kekuasaan di NTB akan mengalami inversi radikal.
Faksi Mohan yang saat ini merasa aman sebagai inkumben dan penguasa wilayah akan menghadapi ancaman Political Decapitation (pemenggalan karier politik) secara massal. Tiket dan rekomendasi emas untuk maju dalam Pilkada NTB maupun kabupaten/kota strategis bisa dengan mudah dialihkan dalam semalam kepada gerbong bentukan Sari Yulianti. Mereka akan tersingkir dari bursa pertarungan, bukan karena ditolak oleh rakyat di bilik suara, melainkan karena kehabisan “oksigen” rekomendasi akibat kalah dalam perang asimetris di Jakarta.
Menolak Bangun dari Tidur Politik
Tragedi terbesar dalam politik bukanlah ketika Anda kalah bertarung, melainkan ketika Anda digulung oleh badai yang bahkan kehadirannya tidak Anda sadari. Gerbong H. Mohan Roliskana di NTB hari ini seperti penumpang kapal mewah yang asyik berdansa, tanpa menyadari lambung kapal sedang bocor dihantam torpedo operasi intelijen dari pusat.
Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan sebuah maklumat keras bagi faksi lokal di NTB. Politik adalah kalkulasi detik per detik. Menghadapi operasi intelijen yang sistematis dengan kepasifan struktural adalah bentuk bunuh diri politik yang paling nyata. Pilihan bagi gerbong Mohan hari ini sangat krusial: segera bangun dari tidur, membaca peta pergerakan, dan melakukan counter-intelligence yang radikal atau bersiap menjadi catatan kaki sejarah, tersingkir tragis di tikungan akhir sebelum laga Pilkada dimulai.
Oleh: Ardiansyah
(Direktur Nasional Politik/NasPol NTB)
Sumber: fb Naspol NTB
