Lima Hukum Dunia yang Ternyata Sudah Ada dalam Al-Qur’an dan Hadis

Islamic Center NTB Pemandangan Udara: Foto dari atas yang memperlihatkan keseluruhan kompleks masjid, termasuk empat menara kecil dan area sekitarnya.
Islamic Center NTB Pemandangan Udara: Foto dari atas yang memperlihatkan keseluruhan kompleks masjid, termasuk empat menara kecil dan area sekitarnya.

MATARAM – Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia semakin gemar membicarakan teori dan hukum psikologi yang dianggap mampu membaca karakter serta perilaku manusia. Berbagai istilah populer dari dunia Barat sering dijadikan rujukan untuk memahami diri sendiri maupun orang lain. Namun menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam teori-teori tersebut ternyata telah lama diajarkan dalam Islam, bahkan jauh lebih dalam dan menyentuh hati. Lima hukum yang banyak dibahas di dunia modern sejatinya memiliki keselarasan kuat dengan pesan Al-Qur’an dan hadis, yang jika direnungkan akan menuntun manusia menuju kebijaksanaan, kerendahan hati, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Renungan ini dimulai dari Hukum Dunning-Kruger, sebuah teori yang menggambarkan fenomena orang yang minim ilmu sering merasa paling pintar, sementara orang yang berilmu justru lebih rendah hati. Islam telah lama mengingatkan tentang keterbatasan ilmu manusia. Allah SWT berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa semakin seseorang belajar, semakin ia memahami bahwa ilmunya sangat kecil dibanding luasnya pengetahuan Allah. Rasulullah ﷺ pun bersabda:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Dari sini jelas, kepercayaan diri tanpa ilmu hanya akan melahirkan kesombongan terselubung. Sebaliknya, kerendahan hati adalah tanda kedalaman iman.

Selanjutnya adalah Hukum Parkinson, yang menyatakan bahwa pekerjaan akan selalu menghabiskan waktu sesuai batas yang diberikan. Jika diberi waktu panjang, pekerjaan akan terasa panjang. Islam sejak awal menanamkan disiplin waktu dan mengingatkan manusia agar tidak lalai. Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1-2)

Waktu adalah amanah. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.” (HR. Tirmidzi)

Maka, seorang Muslim diajarkan untuk tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak memperpanjang urusan tanpa manfaat, dan menjadikan setiap waktu sebagai ladang amal.

Kemudian muncul Hukum Pareto, yang terkenal dengan prinsip bahwa sebagian kecil usaha dapat menghasilkan sebagian besar hasil. Islam pun mengajarkan bahwa kualitas amal lebih utama dibanding kuantitas. Allah SWT berfirman:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam mengajarkan bahwa amal kecil yang dilakukan dengan istiqamah dan ikhlas seringkali lebih bernilai daripada amal besar yang hanya dilakukan sesekali tanpa ketulusan.

Hukum berikutnya adalah Hanlon’s Razor, yang mengajarkan agar manusia tidak mudah menuduh keburukan orang lain, sebab bisa jadi kesalahan terjadi bukan karena niat jahat, melainkan karena kelalaian atau ketidaktahuan. Islam sangat menekankan husnuzan atau berbaik sangka. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah ﷺ pun mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seringkali, prasangka buruk membuat hati gelap, hubungan retak, dan persaudaraan hancur. Padahal, Islam mengajarkan agar manusia menenangkan hati dengan memahami bahwa tidak semua kesalahan adalah niat buruk.

Terakhir adalah Peter Principle, sebuah teori yang menjelaskan bahwa seseorang bisa gagal ketika naik jabatan, karena belum tentu ia mampu menjalankan tanggung jawab yang lebih tinggi. Islam menekankan bahwa amanah harus diberikan sesuai kemampuan dan keahlian. Allah SWT berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan Rasulullah ﷺ menegaskan:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Jabatan bukan sekadar penghargaan, melainkan ujian berat. Jika seseorang belum siap dengan ilmu dan akhlak, maka kenaikan kedudukan justru dapat menjadi sebab kehancuran dirinya.

Pada akhirnya, kelima hukum kehidupan ini menyimpan pesan besar yang sangat relevan bagi siapa pun: manusia harus mengenal dirinya, mengelola waktunya, menjaga kualitas amalnya, memperbaiki prasangkanya, dan memahami batas kemampuannya. Semua nilai itu telah terangkum sempurna dalam ajaran Islam. Maka, seorang Muslim bukan hanya memahami teori dunia, tetapi menjadikannya sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah SWT, memperbaiki diri, dan menebar manfaat bagi sesama.

Penulis: Muhtadi Hairi, Pensiunan