Di Balik IPAL Komunal Bilebante, Ada Paradoks yang Bisa Jadi Bom Waktu

blank
blank

LOMBOK TENGAH – Pendekatan Ekonomi Hijau kini bukan lagi sekadar wacana atau tren global, melainkan kebutuhan nyata untuk menjawab tantangan keberlanjutan lingkungan, termasuk dalam pengelolaan sanitasi di wilayah perdesaan. Hal ini dapat dilihat pada keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di Dusun Tapon Timur, Desa Bilebante, yang melayani 74 sambungan rumah. Infrastruktur ini menjadi aset penting dalam menjaga daya dukung lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, keberhasilan IPAL komunal tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik semata, melainkan oleh keseimbangan antara manfaat ekonomi, pengelolaan teknis, serta ketegasan penerapan standar lingkungan.

Secara teori, keberadaan IPAL komunal seharusnya memberikan manfaat ekonomi langsung maupun tidak langsung, seperti menekan biaya pengobatan akibat penyakit berbasis lingkungan, mengurangi risiko pencemaran air tanah, hingga meningkatkan nilai kawasan permukiman. Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya persoalan mendasar: variabel ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sebagai manfaat yang nyata. Studi yang dilakukan di Tapon Timur memperlihatkan bahwa faktor ekonomi secara parsial tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap performa operasional IPAL. Temuan ini mengindikasikan adanya ketidaksinkronan antara investasi yang telah dikeluarkan dengan nilai tambah ekonomi yang diterima langsung oleh warga.

Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah kesenjangan antara standar kualitas yang ditetapkan pemerintah dengan kondisi faktual di lapangan. Berdasarkan regulasi, air hasil olahan (effluent) wajib memenuhi baku mutu sesuai Peraturan Menteri LHK Nomor 68 Tahun 2016, sebagai langkah pencegahan pencemaran badan air. Namun, di banyak lokasi IPAL komunal sering mengalami penurunan efektivitas dalam mereduksi parameter pencemar seperti BOD, COD, dan amonia, terutama akibat keterbatasan biaya operasional serta lemahnya pengawasan berkala.

Kesenjangan ini menciptakan paradoks yang ironis: infrastruktur yang seharusnya menjadi solusi pencemaran justru berpotensi menjadi sumber masalah baru apabila efisiensi lingkungan tidak dikelola secara ketat. IPAL yang tidak optimal dapat menyebabkan air buangan tetap mencemari saluran air, merusak kualitas tanah, bahkan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Selain itu, tantangan utama yang kerap muncul dalam pengelolaan IPAL perdesaan adalah partisipasi masyarakat dalam pembiayaan berkelanjutan. Meskipun masyarakat umumnya mempersepsikan kinerja IPAL dalam kategori “baik”, variasi kontribusi iuran yang rendah menunjukkan bahwa sistem pendanaan belum berjalan optimal untuk menopang pemeliharaan jangka panjang. Ketika manfaat ekonomi tidak dirasakan secara langsung, keterikatan warga untuk menjaga fasilitas pun menjadi lemah. Kondisi ini menjadikan IPAL rentan berhenti beroperasi di tengah jalan, bukan karena kerusakan besar, tetapi akibat kelalaian kecil yang menumpuk tanpa perawatan.

Menariknya, hasil analisis statistik dalam studi ini menunjukkan bahwa efisiensi lingkungan merupakan prediktor tunggal paling dominan, dengan pengaruh sangat signifikan (p = .002) terhadap kinerja IPAL. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan sanitasi di Lombok Tengah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan teknis IPAL dalam menekan kadar polutan dibandingkan sekadar besarnya biaya atau persepsi manfaat ekonomi.

Model regresi yang digunakan juga menunjukkan bahwa efisiensi ekonomi dan efisiensi lingkungan secara simultan mampu menjelaskan 52,2% variasi kinerja IPAL, sementara 47,8% sisanya dipengaruhi faktor lain seperti dinamika sosial masyarakat, kepemimpinan pengelola, kapasitas kelembagaan KSM, serta dukungan kebijakan lokal. Kendati variabel ekonomi tidak signifikan secara parsial, ia tetap berkontribusi jika digabungkan dengan aspek lingkungan. Artinya, investasi ekonomi dalam sanitasi baru akan bermakna apabila diarahkan secara spesifik untuk memperkuat teknologi pengolahan dan sistem pemantauan kualitas air.

Jika dianalisis melalui lensa ekonomi lingkungan, maka perbandingan dampaknya dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Sebelum ekosistem terjaga (kondisi statis): sistem hanya berfokus pada pembuangan, sehingga nilai ekonomi cenderung negatif akibat beban biaya kesehatan, pencemaran air tanah, dan rendahnya kepatuhan iuran.
  • Sesudah ekosistem terjaga (kondisi berkelanjutan): efisiensi lingkungan yang tinggi mampu meningkatkan kualitas hidup. Air hasil olahan yang stabil bahkan dapat dimanfaatkan kembali untuk irigasi non-pangan, sehingga menghemat kebutuhan air bersih dan meningkatkan nilai tambah lingkungan secara signifikan, bahkan diperkirakan hingga 66,3% lebih efektif dibandingkan pola pengelolaan konvensional.

Karena itu, solusi utama yang perlu dilakukan adalah memperkuat monitoring effluent secara berkala agar pengolahan tetap memenuhi baku mutu. Pengelola IPAL di Dusun Tapon Timur perlu menggeser orientasi dari sekadar penggalangan dana menjadi penguatan kualitas proses teknis pengolahan. Ketika air hasil olahan benar-benar bersih dan aman, kepercayaan masyarakat akan tumbuh, sehingga dukungan ekonomi dalam bentuk iuran pun lebih mudah dimobilisasi.

Lebih jauh, manfaat ekonomi dapat diperluas melalui pendekatan ekonomi sirkular, misalnya pemanfaatan lumpur (sludge) hasil olahan menjadi pupuk organik. Inovasi ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru bagi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pengelola IPAL. Transformasi limbah menjadi komoditas dapat menutup celah kelemahan ekonomi yang selama ini menjadi hambatan utama dalam keberlanjutan sistem.

Sebagai penutup, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) perlu menempatkan efisiensi lingkungan sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan sanitasi. Kolaborasi antara pemerintah desa, akademisi, dan masyarakat harus diperkuat agar IPAL Komunal Bilebante tidak hanya berfungsi sesaat, tetapi berkelanjutan dalam jangka panjang. Dengan menempatkan aspek lingkungan sebagai prioritas, kita tidak hanya menjaga kesehatan warga hari ini, tetapi juga mewariskan ekosistem yang lestari bagi generasi mendatang di Lombok Tengah.

OPini: Wan Azizah
Pemerhati lingkungan