Hari ini, aku ingin berhenti sejenak.
Bukan untuk memeriksa kesalahan orang lain, melainkan untuk memeriksa hatiku sendiri.
Sebab aku mulai bertanya, jangan-jangan ketika begitu banyak orang tampak salah di mataku, yang sebenarnya sedang kehilangan kejernihan bukanlah mereka, melainkan hatiku.
Betapa mudah lidah ini mengomentari.
Betapa cepat pikiran ini menilai.
Betapa ringan jari ini menuliskan pendapat.
Namun, sudahkah hati ini cukup jujur untuk menilai dirinya sendiri?
Allah SWT berfirman:
_”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)._
Ayat ini bukan melarang kita berpikir kritis. Islam adalah agama yang memuliakan akal, ilmu, dan kebenaran. Kritik yang disampaikan dengan ilmu, adab, dan niat memperbaiki adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Namun, Al-Qur’an mengingatkan agar hati tidak berubah menjadi tempat tumbuhnya prasangka, kebencian, dan kegemaran mencari-cari kesalahan.
Sebab ada perbedaan besar antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran.
Orang yang mencari kebenaran siap menerima nasihat, meskipun datang dari orang yang tidak disukainya.
Sedangkan orang yang mencari pembenaran hanya akan menerima sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
Ketika hati mulai dikuasai ego, semua orang tampak keliru.
Ketika hasad mulai tumbuh, keberhasilan orang lain terasa menyakitkan, lalu hasut pun jadi pilihan.
Ketika kesombongan menguasai jiwa, pendapat sendiri selalu dianggap paling benar.
Allah SWT berfirman:
_”Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)._
Betapa agung ayat ini.
Bahkan terhadap orang yang kita tidak sukai, Allah tetap memerintahkan kita berlaku adil. Artinya, kita tidak boleh menutup mata terhadap kebaikan hanya karena berbeda pandangan, sebagaimana kita tidak boleh membenarkan keburukan hanya karena menyukai seseorang.
Rasulullah SAW bersabda:
_”Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)._
Perhatikanlah, Rasulullah tidak mengatakan bahwa orang cerdas adalah yang paling pandai menemukan kesalahan orang lain. Beliau justru menyebut orang yang paling cerdas adalah yang paling sering menghisab dirinya sendiri.
_Al-Ghazali mengibaratkan hati seperti cermin. Apabila cermin itu tertutup oleh karat kesombongan, iri hati, ujub, dan hawa nafsu, ia tidak lagi memantulkan kenyataan sebagaimana adanya. Yang terlihat bukan lagi kebenaran, melainkan bayangan yang dibentuk oleh penyakit hati._
Bukankah itu yang sering terjadi dalam kehidupan hari ini?
Kita hidup di zaman ketika setiap orang dapat berbicara, mengomentari, dan menghakimi hanya dengan sentuhan jari. Kadang kita lebih sibuk mengawasi kehidupan orang lain daripada mengawasi hati sendiri. Lebih mudah menemukan kekurangan orang lain daripada mengakui kelemahan diri.
Padahal perubahan besar selalu dimulai dari hati yang mau bercermin.
Sebelum memperbaiki dunia, perbaikilah niat.
Sebelum meluruskan orang lain, luruskan hati.
Sebelum meminta orang lain berubah, bertanyalah lebih dahulu: “Sudahkah aku berubah menjadi lebih baik hari ini?”
_”Orang bijak lebih sering bercermin ke dalam hati daripada menunjuk kesalahan orang lain.”_
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang bersih, yang mampu menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang berbeda pandangan; hati yang terbebas dari prasangka, hasad, hasut dan kesombongan; serta hati yang lebih sibuk memperbaiki diri daripada menghakimi sesama.
Karena ketika hati menjadi jernih, kita tidak lagi sibuk mencari siapa yang salah. Kita justru semakin sibuk memohon agar Allah tidak membiarkan hati kita menyimpang dari jalan-Nya.
*_Aamiin ya Rabbal ‘alamin._*
