Carrie Prejean Boller, a member of the White House Commission on Religious Freedom, was dismissed from her position after her remarks during a hearing on antisemitism went viral. During the session, she questioned whether opposition to Zionism should be equated with antisemitism.
read: 10 AI Tools That Will Change Your Life in 2026
The debate that unfolded during the hearing attracted widespread public attention and generated significant reactions on social media. Boller highlighted the distinction between criticism of the political ideology of Zionism and hostility toward Jewish communities. Her statements were considered controversial and ultimately led to her removal from the task force established under the administration of President Donald Trump.
Texas Lieutenant Governor Dan Patrick, who also serves as Chair of the White House Commission on Religious Freedom, announced Boller’s dismissal on Wednesday. He emphasized that no commission member is permitted to use official proceedings to promote personal or political agendas. According to Patrick, such conduct occurred during the commission’s hearing on antisemitism held earlier that week.
The White House Commission on Religious Freedom functions as a federal advisory body responsible for examining threats to religious freedom in the United States and providing policy recommendations related to the protection of First Amendment rights.
Tensions escalated during the hearing when Boller raised questions regarding religious perspectives on Zionism. Identifying herself as a Catholic, she asked whether all Catholics could be considered antisemitic for not adhering to Zionist ideology. This statement sparked intense debate within the forum.
During the same session, Boller also questioned whether Americans could oppose antisemitism while simultaneously criticizing Israel’s policies or military actions in Gaza without being labeled anti-Jewish. The question was directed at Yitzchok Frankel, the lead plaintiff in a federal lawsuit against the University of California, Los Angeles (UCLA), concerning pro-Palestinian campus protests following the Hamas-led attacks in October 2023 and the subsequent conflict in Gaza.
Footage of the hearing later circulated widely online, prompting criticism from various groups and intensifying discussions regarding the boundaries between political criticism of Zionism and expressions of antisemitism.
Baca:Rupiah Melemah terhadap Dolar AS pada Perdagangan Sore Ini
Anggota Komisi Gedung Putih Dipecat Usai Pertanyakan Zionisme
Seorang anggota Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, Carrie Prejean Boller, diberhentikan dari jabatannya setelah pernyataannya dalam sidang mengenai antisemitisme menjadi viral. Dalam forum tersebut, ia mempertanyakan apakah penolakan terhadap Zionisme dapat disamakan dengan sikap anti-Semit.
Perdebatan yang terjadi dalam sidang tersebut menarik perhatian publik dan memicu berbagai reaksi di media sosial. Boller menyoroti perbedaan antara kritik terhadap ideologi politik Zionisme dengan sikap kebencian terhadap kelompok Yahudi. Pernyataannya dinilai kontroversial dan menjadi alasan pencopotannya dari gugus tugas yang dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
Wakil Gubernur Texas Dan Patrick, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, mengumumkan pemberhentian Boller pada Rabu. Ia menegaskan bahwa tidak ada anggota komisi yang diperbolehkan menggunakan sidang resmi untuk kepentingan pribadi atau agenda politik tertentu. Menurutnya, tindakan tersebut terjadi dalam sidang mengenai antisemitisme yang berlangsung sebelumnya.
Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih merupakan badan penasihat federal yang bertugas mengkaji ancaman terhadap kebebasan beragama di Amerika Serikat serta memberikan rekomendasi kebijakan terkait perlindungan Amandemen Pertama.
Ketegangan dalam sidang meningkat ketika Boller menyampaikan pertanyaan terkait pandangan agama terhadap Zionisme. Ia menyebut dirinya sebagai penganut Katolik dan mempertanyakan apakah semua umat Katolik dapat dianggap anti-Semit karena tidak menganut Zionisme. Pernyataan tersebut memicu perdebatan sengit dalam forum.
Dalam kesempatan yang sama, Boller juga menanyakan apakah masyarakat Amerika dapat menentang antisemitisme sekaligus mengkritik kebijakan atau tindakan Israel dalam konflik di Gaza tanpa diberi label anti-Yahudi. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Yitzchok Frankel, penggugat utama dalam gugatan federal terhadap University of California, Los Angeles (UCLA), terkait aksi pro-Palestina di kampus setelah serangan Hamas pada Oktober 2023 dan konflik yang terjadi setelahnya.
Cuplikan perdebatan dalam sidang tersebut kemudian menyebar luas di internet dan memicu kritik dari berbagai pihak, terutama terkait perdebatan mengenai batas antara kritik politik terhadap Zionisme dan sikap antisemitisme.
