Mataram – Usaha kuliner berbasis seafood kepiting lokal terus menunjukkan perkembangan signifikan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam dua tahun terakhir, bisnis ini telah menyebar di berbagai titik strategis Kota Mataram, mulai dari kawasan Jempong, Selagalas, Transmart dan LCC lainnya, Kota Mataram Lombok Barat, hingga sejumlah lokasi potensial lainnya yang ramai aktivitas masyarakat. Ini salah satu porsi olahan kepiting.

Olahan seafood kepiting saus pedas lengkap dengan jagung manis dan kerang,
Dari Owner seafood kepiting, Sudarto, mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya telah mengoperasikan 14 titik stand aktif yang tersebar di berbagai kawasan tersebut.
“Saat ini kita sudah punya 14 titik, di antaranya di Jempong, Selagalas, Transmart dan LCC lainnya, serta beberapa lokasi strategis lainnya. Insya Allah ke depan kami masih terus mencari lokasi baru,” ujar Sudarto.
Ia menjelaskan, pengembangan usaha selanjutnya akan difokuskan ke wilayah Lombok Tengah hingga Lombok Timur, sebagai langkah memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
Tak hanya berorientasi pada keuntungan, usaha seafood kepiting ini juga memberi dampak sosial nyata melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Saat ini tercatat lebih dari 14 karyawan, dengan sebagian di antaranya berasal dari kalangan mahasiswa.
“Sebagian karyawan kami mahasiswa. Setidaknya usaha ini bisa membantu mereka menambah uang kuliah,” jelas Sudarto.
Dari sisi produk, seafood kepiting ini menawarkan beragam pilihan isi yang menjadi daya tarik utama konsumen. Dalam satu paket, pembeli dapat menikmati kombinasi kepiting segar, udang, lobster, jagung manis, kerang, sosis, hingga aneka saus khas, dengan tingkat kepedasan yang bisa disesuaikan selera.
Harga menu pun bervariasi, mulai dari Rp60 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung isi, porsi, dan jenis seafood yang dipilih.
“Harga menyesuaikan isi. Semakin lengkap isinya, tentu harganya berbeda, tapi tetap kami sesuaikan agar terjangkau masyarakat,” tambahnya.
Meski baru berjalan sekitar dua tahun, usaha ini mampu menghasilkan omset harian jutaan rupiah per stand. Jika dikalikan dengan jumlah titik yang tersebar, perputaran ekonomi yang dihasilkan dinilai cukup signifikan dan berdampak langsung pada ekonomi lokal.
Ke depan, Sudarto berharap usahanya dapat terus berkembang dan menjangkau seluruh wilayah NTB.
“Insya Allah, target kami ke depan bisa menyangkut se-NTB dan membuka lebih banyak lapangan kerja,” tutupnya.
Pertumbuhan usaha kuliner lokal ini menjadi bukti bahwa UMKM NTB memiliki daya saing tinggi, tidak hanya dalam sektor makanan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.





































![Ilustrasi: dosen killer. Dok. [Pexels./bi]](https://i0.wp.com/www.lpkpkntb.com/wp-content/uploads/2025/12/Screenshot_2025-12-27-20-37-37-25_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122.jpg?resize=250%2C140&ssl=1)






































