Internasional Konflik militer antara Israel dan Iran yang berlangsung selama enam hari terakhir terus memicu perhatian dunia. Akademisi asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Zakir, turut memberikan analisis kritis terhadap dinamika konflik tersebut.
Dalam keterangannya, Zakir menyebut bahwa jika ditinjau dari indikator capaian militer dan kerusakan strategis di medan tempur, Iran dapat dikatakan mengalami kekalahan sementara. Namun, ia juga menegaskan bahwa peluang Iran untuk membalikkan keadaan tetap terbuka—asal mampu menerapkan strategi yang tepat dalam jangka panjang.
“Jika kita ukur dari hasil serangan dan efek yang ditimbulkan terhadap masing-masing pihak, maka dapat disimpulkan Iran mengalami kekalahan dalam dimensi strategis jangka pendek,” ujar Zakir kepada lpkpkntb.com, Selasa (24/6/2025).
Empat Indikator Kekalahan Strategis Iran:
-
Serangan Israel Tepat Sasaran
Serangan tahap pertama Israel menyasar titik-titik vital sistem pertahanan Iran secara presisi. Fasilitas radar, sistem rudal permukaan-ke-udara, dan pusat komando komunikasi hancur dalam gelombang pertama. -
Eliminasi Tokoh Kunci
Beberapa jenderal utama dan ahli nuklir Iran dilaporkan tewas dalam serangan yang terkoordinasi. “Ini bukan hanya kehilangan figur militer, tetapi juga kehilangan fondasi keilmuan dari program nuklir mereka,” kata Zakir. -
Dominasi Udara oleh Israel
Iran gagal mengamankan ruang udaranya. Dominasi ini memungkinkan Israel melakukan serangan lanjutan tanpa hambatan berarti. -
Fasilitas Nuklir Rusak Parah
Serangan ke fasilitas uranium di Natanz dan Isfahan menunjukkan keberhasilan Israel menembus lapisan pertahanan terdalam Iran. Meski Iran mengklaim pemindahan aset vital, kerusakan tetap terjadi dan signifikan.
Peluang Iran: Perang Jangka Panjang
Namun, di balik tekanan tersebut, Zakir mengingatkan bahwa Iran masih memiliki potensi membalikkan keadaan bila memilih strategi perang jangka panjang.
“Iran masih bisa menang jika memaksimalkan kekuatan asimetris, memainkan strategi perang berlarut (war of attrition), dan memanfaatkan jaringan aliansi di kawasan seperti Hizbullah, milisi Syiah di Irak, serta pengaruhnya di Suriah dan Yaman,” ujar Zakir.
Ia menambahkan, perang jangka panjang dapat menguras sumber daya dan opini publik Israel, terlebih jika konflik berlarut meluas ke berbagai front. Iran juga disebut memiliki keunggulan dalam perang proksi dan kemampuan intelijen regional yang kuat.
“Israel kuat dalam pukulan cepat dan presisi. Tapi untuk konflik berlarut dengan banyak front, Iran punya pengalaman panjang dan jaringan luas,” pungkasnya.
Kesimpulan:
Meskipun dalam enam hari pertama Iran terlihat berada di posisi defensif dan mengalami kerugian besar, namun secara geopolitik dan kapasitas jaringan non-konvensional, Iran dinilai masih memiliki peluang membalikkan keadaan jika mampu memainkan strategi jangka panjang secara cermat dan konsisten.
