Lpkpkntb.com – Iran kini memiliki pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara yang memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah. Setelah melalui proses pemilihan oleh Majelis Ahli Iran, posisi tertinggi dalam Republik Islam Iran akhirnya diberikan kepada putra mendiang pemimpin tersebut, yaitu Mojtaba Khamenei.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dianggap sebagai tanda kuat bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali dalam struktur kekuasaan Iran. Majelis Ahli memilih Mojtaba sekitar sepekan setelah kematian ayahnya di tengah konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Baca:
5 Misteri Antartika dan Penafsiran Al-Qur’an: Fakta Menarik yang Jarang Diketahui
Salah satu anggota Majelis Ahli, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, menjelaskan bahwa pemilihan Mojtaba juga mengikuti arahan yang pernah disampaikan oleh Ali Khamenei sebelum wafat. Menurutnya, pemimpin tertinggi Iran seharusnya merupakan sosok yang tidak disukai oleh musuh negara.
Ia bahkan menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menolak kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran. Pernyataan tersebut justru dianggap sebagai bukti bahwa Mojtaba merupakan figur yang tepat bagi kelompok garis keras di Iran.
Tokoh Berpengaruh di Balik Layar
Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan ayahnya. Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, ia disebut memiliki kedekatan kuat dengan aparat keamanan serta jaringan bisnis yang memiliki hubungan dengan pemerintah.
Pengaruh Mojtaba semakin kuat karena hubungannya yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu institusi militer dan politik paling kuat di Iran. Kedekatan ini membuatnya memiliki pengaruh besar dalam sistem keamanan dan politik negara tersebut.
Beberapa pengamat menyebut Mojtaba sebagai sosok “penjaga gerbang” bagi ayahnya. Artinya, ia memiliki peran penting dalam mengatur akses terhadap pemimpin tertinggi Iran serta mempengaruhi berbagai keputusan penting negara.
Selain itu, Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis di Iran. Kelompok reformis umumnya mendukung hubungan yang lebih terbuka dengan negara-negara Barat dan mendukung pembatasan program nuklir Iran. Sebaliknya, Mojtaba lebih condong kepada kelompok konservatif yang mempertahankan kebijakan keras terhadap Barat.
Latar Belakang Kehidupan
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota Mashhad, salah satu kota suci bagi umat Syiah di Iran. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat terlibat dalam perjuangan politik melawan pemerintahan Shah Iran sebelum Revolusi Iran tahun 1979.
Saat masih muda, Mojtaba juga pernah terlibat dalam perang Iran-Irak yang berlangsung pada 1980-1988. Pengalaman tersebut turut membentuk pandangan politiknya yang kuat terhadap isu keamanan dan kedaulatan negara.
Setelah perang, ia melanjutkan pendidikan agama di kota Qom, pusat pendidikan teologi Syiah di Iran. Di sana ia belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif. Mojtaba kemudian memperoleh gelar keagamaan Hojjatoleslam.
Meskipun memiliki pengaruh besar di kalangan elite politik, Mojtaba jarang tampil di depan publik. Ia hanya beberapa kali terlihat dalam acara dukungan terhadap pemerintah, dan jarang memberikan pidato secara langsung.
Kontroversi Politik Dinasti
Kemunculan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi juga menimbulkan kontroversi di dalam negeri. Beberapa pihak menilai bahwa penunjukannya mencerminkan adanya politik dinasti dalam sistem pemerintahan Iran.
Hal ini dianggap bertentangan dengan semangat Revolusi Iran tahun 1979 yang menggulingkan monarki yang didukung oleh Amerika Serikat. Para kritikus menilai bahwa Iran seharusnya tidak kembali pada sistem kekuasaan yang diwariskan dalam satu keluarga.
Selain itu, sebagian pengamat juga meragukan kredensial keagamaan Mojtaba. Gelar Hojjatoleslam yang dimilikinya berada satu tingkat di bawah gelar Ayatollah yang dimiliki oleh ayahnya dan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.
Pernah Dijatuhi Sanksi Amerika Serikat
Pada tahun 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei. Pemerintah AS menuduh bahwa Mojtaba mewakili kepentingan pemimpin tertinggi Iran dalam berbagai kegiatan meskipun tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan.
Amerika Serikat juga menilai bahwa Mojtaba bekerja sama dengan komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi serta milisi Basij. Kedua kelompok tersebut merupakan bagian penting dari struktur keamanan Iran.
Menurut pemerintah AS, aktivitas tersebut dilakukan untuk mendukung ambisi regional Iran serta memperkuat kontrol pemerintah terhadap masyarakat di dalam negeri.
Tantangan di Masa Depan
Sebagai pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei kemungkinan akan menghadapi berbagai tantangan. Selain tekanan dari negara-negara Barat terkait program nuklir Iran, ia juga harus menghadapi dinamika politik di dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran mengalami berbagai gelombang demonstrasi besar yang menuntut kebebasan politik dan sosial yang lebih luas. Demonstrasi tersebut sering kali dihadapi dengan tindakan keras oleh aparat keamanan.
Situasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Mojtaba tidak hanya akan diuji oleh konflik internasional, tetapi juga oleh tuntutan perubahan dari masyarakat Iran sendiri.
Dengan latar belakang pengaruh politik yang kuat, kedekatan dengan institusi militer, serta posisi strategis dalam pemerintahan Iran, Mojtaba Khamenei kini memegang salah satu jabatan paling berpengaruh di Timur Tengah. Namun masa depan kepemimpinannya masih akan sangat ditentukan oleh bagaimana ia menghadapi tekanan dari dalam maupun luar negeri.
