Seminar Nasional JATMA Aswaja NTB dan UNU NTB Hadirkan Staf Ahli Kemendiktisaintek, Dorong Kolaborasi Kampus dan Pesantren

blank
Keterangan foto: Seminar Nasional PW JATMA Aswaja NTB bersama UNU NTB tentang penguatan kolaborasi pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB, Mataram, Sabtu (10/10/2026).
Keterangan foto: Seminar Nasional PW JATMA Aswaja NTB bersama UNU NTB tentang penguatan kolaborasi pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB, Mataram, Sabtu (10/10/2026).

MATARAM, 10 Oktober 2026 — Kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi keagamaan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat kualitas pendidikan, mengembangkan penelitian yang relevan, serta mendorong pemberdayaan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan tradisi keilmuan tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pengurus Wilayah JATMA Aswaja Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) menyelenggarakan Seminar Nasional di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB dengan tema “Sinergi Perguruan Tinggi dan JATMA Aswaja NTB dalam Penguatan Pendidikan, Riset, dan Pemberdayaan Masyarakat”. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi keagamaan, pesantren, dan berbagai elemen masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, penelitian yang relevan, serta program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Seminar nasional tersebut dihadiri oleh Dr. Muhammad Hasan Chabibie, S.T., M.Si., Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI). Turut hadir Rektor UNU NTB Dr. Hj. Baiq Mulianah, M.Pd.I., beserta jajaran, pengawas UNU NTB, Rektor Universitas Mataram (UNRAM) Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd., Wakil Rektor IV UNRAM, Ketua PW JATMA Aswaja NTB Gus Mislahuddin, M.Pd., beserta jajaran pengurus, serta sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor UNU NTB menegaskan pentingnya keterlibatan JATMA Aswaja NTB dalam mengawal perkembangan UNU NTB agar semakin maju dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, kerja sama antara perguruan tinggi dan JATMA tidak hanya menjadi hubungan kelembagaan, tetapi juga harus menjadi ikhtiar bersama dalam memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keterangan foto: Penyerahan cenderamata dalam rangkaian Seminar Nasional PW JATMA Aswaja NTB bersama UNU NTB di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB, Mataram, Sabtu (10/10/2026).
Keterangan foto: Penyerahan cenderamata dalam rangkaian Seminar Nasional PW JATMA Aswaja NTB bersama UNU NTB di Ballroom Atqia Kampus UNU NTB, Mataram, Sabtu (10/10/2026).

Rektor UNU NTB juga menitipkan tanggung jawab moral kepada JATMA Aswaja NTB untuk turut mendidik dan membentuk jiwa peserta didik melalui penguatan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah. Ia menekankan pentingnya kesinambungan perjuangan Aswaja dari generasi ke generasi, dengan menjadikan silaturahmi keilmuan dan silaturahmi ruhani sebagai fondasi dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan doa yang diijazahkan oleh TGH. Soleh Hambali, yaitu اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَنِينَا فُضَلَاءَ صُلَحَاءَ, yang bermakna, “Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami generasi yang utama dan saleh.”

Sementara itu, Wakil Ketua JATMA Aswaja NTB, Dr. TGH. Selamet Syukur, menyampaikan kesiapan JATMA untuk terus bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman. Ia berharap forum seminar nasional tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang dialektika, pertukaran gagasan, dan pengembangan pemikiran kritis yang melahirkan solusi bagi persoalan pendidikan dan masyarakat.

Semangat sabar, syukur, ikhlas, dan istiqamah juga menjadi nilai penting dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mataram menyoroti pentingnya membangun konsorsium dan menggerakkan seluruh mitra secara bersama-sama, terutama dalam bidang penelitian dan pengembangan desa. Menurutnya, kolaborasi lintas perguruan tinggi dan organisasi masyarakat perlu diarahkan pada program-program yang terukur, saling menguatkan, serta mampu menghasilkan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Rangkaian pembukaan seminar ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. H. Abdul Azis, M.Pd.I., Ketua Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Mataram. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor UNU NTB, Rektor Universitas Mataram, Rektor UIN Mataram, dan perwakilan JATMA Aswaja NTB.

Penandatanganan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat komitmen kemitraan kelembagaan, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kolaborasi Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Memasuki sesi utama, Dr. Muhammad Hasan Chabibie, S.T., M.Si., selaku Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kemendiktisaintek RI, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan aktivitas akademik, penelitian, dan pengabdian sebagai rutinitas kelembagaan. Seluruh aktivitas tersebut harus menghasilkan manfaat konkret dan memberikan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Ia menjelaskan bahwa selama ini berbagai aktivitas perguruan tinggi belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, semangat perguruan tinggi yang berdampak perlu diterjemahkan ke dalam program-program yang relevan, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, JATMA Aswaja NTB dinilai memiliki potensi strategis karena didukung oleh para tuan guru, kiai, akademisi, dan praktisi yang memahami kondisi sosial, kebutuhan keagamaan, serta denyut kehidupan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

Menurutnya, organisasi keagamaan dan perguruan tinggi harus mampu membangun kolaborasi yang saling melengkapi. Perguruan tinggi memiliki kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, metodologi penelitian, dan inovasi, sedangkan JATMA Aswaja NTB mempunyai jejaring sosial, tradisi keilmuan, serta kedekatan dengan masyarakat.

Jika kedua kekuatan tersebut dipadukan, akan terbuka peluang besar untuk melahirkan program pendidikan dan pemberdayaan yang lebih tepat sasaran.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ, yang berarti, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Prinsip ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan organisasi dan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Dr. Muhammad Hasan Chabibie juga mendorong terbentuknya semacam “mesin kolaborasi” yang memungkinkan perguruan tinggi dan JATMA bergerak dalam satu arah dan mencapai tujuan bersama.

Kolaborasi tersebut perlu dibangun melalui pembagian peran yang jelas, program kerja yang terintegrasi, serta mekanisme pelaksanaan dan evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berkembang menjadi kegiatan nyata yang menghasilkan perubahan positif.

Potensi Khas NTB sebagai Basis Pendidikan dan Riset

Dalam pemaparannya, ia turut menyoroti potensi khas Nusa Tenggara Barat yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku penelitian, inovasi pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Potensi tersebut meliputi peran tuan guru dan pesantren, pariwisata ramah Muslim, kearifan lokal masyarakat Sasak, ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, serta pengalaman diaspora pekerja migran. Berbagai potensi ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan pengembangan riset yang kontekstual, sekaligus memiliki keunikan yang sulit ditiru oleh daerah lain.

Ia juga menguraikan empat pilar kolaborasi JATMA Aswaja NTB, yaitu akses pendidikan, riset bersama, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan jejaring internasional.

Keempat pilar tersebut perlu berdiri di atas fondasi nilai-nilai tarekat, seperti adab, ikhlas, dan khidmah atau pengabdian, serta didukung tata kelola kemitraan yang profesional. Penguatan tata kelola dapat diwujudkan melalui penyusunan piagam kemitraan, pembentukan sekretariat bersama, dan pengembangan sistem data terpadu sebagai dasar perencanaan program.

Dalam konteks penguatan spiritual, ia mengingatkan bahwa perjalanan mendekatkan diri kepada Allah melalui bimbingan tarekat tidak semestinya ditunda hanya karena seseorang merasa masih muda atau belum memasuki usia lanjut. Tidak seorang pun mengetahui secara pasti batas usianya. Oleh sebab itu, pembinaan spiritual, pembentukan akhlak, dan penguatan karakter perlu menjadi bagian dari perjalanan pendidikan sepanjang hayat.

Lebih lanjut, ia mendorong pembangunan jalur pendidikan santri menuju perguruan tinggi secara terintegrasi. Pesantren dan kampus perlu membangun kesinambungan pendidikan, mulai dari kelas akhir di pesantren, proses penerimaan mahasiswa, pendampingan selama studi, hingga pengabdian kembali kepada masyarakat.

Dalam hal ini, jejaring JATMA Aswaja NTB dapat berperan membantu memperluas akses informasi pendidikan tinggi dan menjembatani santri yang memiliki potensi akademik untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Ia juga menekankan bahwa pesantren dengan tradisi pengajaran dan pengamalan tarekat memiliki peluang besar untuk mengembangkan peran yang lebih luas. Aktivitas pesantren tidak hanya berkaitan dengan zikir dan pembinaan spiritual, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung kemandirian ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan keterampilan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat menjadi pusat pengembangan ilmu, pembentukan karakter, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Membangun Kemitraan yang Berkelanjutan

Seminar nasional ini diharapkan menjadi titik awal bagi terbangunnya kolaborasi yang lebih konkret antara JATMA Aswaja NTB dan perguruan tinggi, khususnya UNU NTB, Universitas Mataram, dan UIN Mataram.

Sinergi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui agenda bersama yang berorientasi pada peningkatan akses pendidikan, pengembangan riset berbasis kebutuhan masyarakat, penguatan kapasitas pesantren, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Pada akhir pemaparannya, Dr. Muhammad Hasan Chabibie menegaskan bahwa pertemuan ini bukanlah akhir dari sebuah agenda, melainkan awal dari kerja sama yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Keberlanjutan menjadi kunci agar gagasan yang lahir dari seminar dapat diwujudkan menjadi program nyata, dievaluasi secara berkala, dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Melalui seminar nasional ini, PW JATMA Aswaja NTB dan UNU NTB meneguhkan komitmen untuk membangun ekosistem kolaborasi yang mengintegrasikan kekuatan akademik perguruan tinggi, tradisi keilmuan pesantren, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, dan potensi lokal NTB.

Harapannya, sinergi tersebut tidak hanya melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, kritis, dan siap mengabdi bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan agama.