Luwu Utara — Viral Jagat media sosial mendadak gempar! Sebuah video viral yang menampilkan ambulance di tengah aksi demonstrasi di Jembatan Baliase memicu gelombang kemarahan publik, tudingan tak berperikemanusiaan, hingga kecaman tajam terhadap massa aksi.
Viral Narasi Bergulir
Narasi yang berkembang menyebut ambulance “diputar balik” secara paksa oleh demonstran, seolah-olah nilai kemanusiaan telah runtuh di tengah perjuangan aspirasi rakyat. Namun, benarkah demikian? Tokoh Pemuda Mappedeceng, M. Yusuf, akhirnya angkat bicara dan membongkar fakta sebenarnya yang selama ini tertutup oleh opini liar dan informasi sepihak di media sosial.
Terkait beredarnya video ambulance yang disebut-sebut diputar balik saat aksi demonstrasi di Jembatan Baliase, M. Yusuf menegaskan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Ia menyebut bahwa narasi yang berkembang telah membentuk persepsi publik yang keliru dan berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap gerakan penyampaian aspirasi yang selama ini berlangsung damai.
Baca:CPNS 2026 Segera Dibuka? Ini Syarat, Jadwal, Simulasi Tes, dan Prediksi Formasi yang Dibuka
M. Yusuf dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada satu pun peserta aksi demonstrasi yang menyuruh ambulance untuk kembali atau melarang kendaraan darurat tersebut melintas. Menurutnya, video yang beredar telah dipotong konteksnya, sehingga memunculkan kesan seolah-olah massa bertindak tidak manusiawi.
“Ambulance itu bukan disuruh putar balik oleh peserta aksi. Yang terjadi sebenarnya, ambulance hanya diarahkan oleh masyarakat setempat untuk melalui jalur alternatif yang telah disiapkan,” jelas M. Yusuf kepada Tim Media, Sabtu (24/1/2026).
Baca:Lowongan PPNPN BPPK 2026: Kesempatan Emas Karier Profesional Muda, Daftar Sebelum 30 Januari!
Ia menerangkan bahwa pengarahan tersebut dilakukan demi kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan bersama. Saat itu, kondisi di sekitar Jembatan Baliase sangat padat akibat konsentrasi massa aksi dan warga sekitar, sehingga jalur utama dinilai kurang aman bagi kendaraan darurat untuk melintas dengan cepat.
“Ini bukan soal menghalangi, tapi justru soal mempercepat dan mengamankan perjalanan ambulance. Jalur alternatif itu lebih longgar dan lebih cepat ditempuh,” tambahnya.
Lebih lanjut, M. Yusuf menegaskan bahwa sejak awal aksi, seluruh peserta demonstrasi telah memiliki komitmen moral untuk tetap memberikan akses prioritas kepada kendaraan darurat, termasuk ambulance, pemadam kebakaran, dan kendaraan yang membawa orang sakit.
“Aksi ini murni penyampaian aspirasi. Kami tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Tidak pernah ada niat, apalagi tindakan, untuk menghalangi ambulance atau kendaraan darurat lainnya,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan bagaimana narasi di media sosial sering kali berkembang tanpa verifikasi, sehingga membentuk opini publik yang tidak sesuai fakta. Menurutnya, potongan video tanpa konteks dapat menciptakan stigma buruk terhadap kelompok masyarakat tertentu dan mencederai semangat perjuangan kolektif.
“Sekarang ini, satu potongan video bisa membentuk opini besar. Padahal, kebenaran di lapangan sering kali jauh berbeda. Inilah yang berbahaya,” ujarnya.
M. Yusuf berharap klarifikasi ini dapat meluruskan informasi yang beredar luas di masyarakat dan menghentikan penyebaran narasi keliru yang berpotensi memecah belah solidaritas sosial. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi, tidak mudah terpancing emosi, dan selalu mencari klarifikasi sebelum membentuk opini.
“Kita semua ingin keadilan, kita semua ingin perubahan, tapi jangan sampai perjuangan itu dirusak oleh informasi yang tidak utuh dan tidak benar,” tutupnya.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan publik dapat melihat persoalan secara lebih objektif dan adil, serta tidak menghakimi secara sepihak. Peristiwa di Jembatan Baliase menjadi pelajaran penting bahwa di era digital, kebenaran sering kali kalah cepat dari viralitas, dan klarifikasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik serta nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap gerakan sosial.
(Erwin Saputra)
