Jombang — Suasana di Pesantren Tebuireng mendadak menghangat setelah Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyampaikan pernyataan yang langsung mengguncang publik. Di hadapan para kiai dan santri, ia mengusulkan agar konsesi tambang yang sebelumnya diberikan pemerintah kepada PBNU dikembalikan saja demi menghindari mudarat yang kian membesar.
Dilansir dari Killer.id, Kiai Said menjelaskan bahwa sejak awal ia melihat pemberian konsesi tersebut sebagai bentuk penghargaan negara terhadap peran besar NU. Namun perkembangan situasi yang penuh polemik dalam beberapa bulan terakhir justru menimbulkan perdebatan internal dan kegaduhan publik yang dinilai merugikan jam’iyah. “Konflik melebar, kegaduhan makin besar, dan itu jelas lebih banyak mudaratnya. Jalan terbaik adalah mengembalikannya ke pemerintah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa NU sebagai organisasi besar memiliki mandat sosial-keagamaan yang jauh lebih penting ketimbang terlibat dalam urusan bisnis tambang. Menurutnya, jika terus dibiarkan, polemik ini dapat mengganggu marwah organisasi, menciptakan polarisasi kader, hingga menyeret NU ke risiko-risiko politik dan persepsi negatif publik. “NU ini rumah besar umat. Jangan sampai terseret pada hal-hal yang menjauhkan kita dari khittah,” katanya.
Kiai Said menutup pernyataannya dengan menyebut bahwa kemajuan NU tidak pernah bertumpu pada konsesi tambang. NU, menurutnya, akan tetap kuat melalui pendidikan pesantren, ekonomi kerakyatan, layanan kesehatan, beasiswa kader, dan digitalisasi pelayanan umat. “Keberkahan NU itu dari amanah, keilmuan, dan ketulusan. NU bisa maju tanpa tambang,” tegasnya.
