TGH. L. M. TURMUDZI BADARUDDIN: ULAMA KHARISMATIK LOMBOK, PENGASUH PONPES QOMARUL HUDA BAGU DAN TOKOH NU

blank
blank

BAGU, LOMBOK TENGAH — Kabar wafatnya Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, yang dikenal luas dengan sapaan Datuk Bagu atau Tuan Guru Bagu, menjadi kabar duka bagi keluarga besar Pondok Pesantren Qomarul Huda, Nahdlatul Ulama (NU), serta masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan pengumuman belasungkawa RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, almarhum mengembuskan napas terakhir di ruang ICU RSUD Provinsi NTB pada pukul 13.37 WITA. Kepergian beliau meninggalkan jejak pengabdian panjang dalam bidang pendidikan Islam, dakwah, dan perjuangan keumatan.TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatik di Pulau Lombok. Pengabdiannya melalui Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu menjadikannya sosok penting dalam perkembangan pendidikan keagamaan dan tradisi keilmuan Islam di Nusa Tenggara Barat.

Lahir dan tumbuh dalam lingkungan keagamaan

TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin lahir di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, pada 1 April 1936. Beliau merupakan putra pasangan TGH. Lalu Badaruddin dan Hj. Aminah binti Haji Ridwan.

Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan kehidupan keagamaan. Pendidikan dasar agama diperolehnya dari sang ayah, terutama dalam membaca Al-Qur’an dan membiasakan diri menjalankan ibadah.

Lingkungan keluarga dan masyarakat yang religius turut membentuk perjalanan hidupnya sebagai seorang santri yang kemudian tumbuh menjadi ulama, pendidik, dan pengasuh pesantren. Riwayat kelahiran dan pendidikan awal tersebut dicatat dalam sejumlah profil tentang kehidupan beliau. (Sumber: Sekretariat Negara RI dan NU Online).

Menimba ilmu di Pesantren Darul Qur’an

Perjalanan keilmuan TGH. Turmudzi Badaruddin berlanjut ke Pondok Pesantren Darul Qur’an di Bengkel, Lombok Barat, yang diasuh oleh TGH. Muhammad Sholeh Hambali, ulama yang dikenal luas dalam tradisi keilmuan Islam di Lombok.

Di pesantren tersebut, beliau memperdalam ilmu agama dan membangun fondasi keilmuan yang kelak menjadi bekal dalam menjalankan dakwah serta mendidik generasi penerus.

Setelah menempuh pendidikan di Bengkel, beliau melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Makkah, Arab Saudi. Pengalaman belajar di Tanah Suci menjadi bagian penting dalam pembentukan kapasitas keilmuan dan pengabdiannya sebagai seorang ulama.

Perjalanan pendidikan tersebut memperlihatkan kuatnya tradisi menuntut ilmu yang menjadi salah satu landasan kehidupan beliau.

Mengembangkan Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu

Salah satu warisan terpenting TGH. Turmudzi Badaruddin adalah pengabdiannya dalam pengembangan Pondok Pesantren Qomarul Huda di Desa Bagu, Lombok Tengah.

Pesantren ini berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang menaungi berbagai jenjang pendidikan. Kehadirannya turut memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan agama dan pendidikan formal di lingkungan mereka sendiri.

Di bawah kepemimpinan dan pengasuhan beliau, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, kemandirian, serta tanggung jawab sosial.

Perjalanan pengembangan Qomarul Huda merupakan bagian penting dari kontribusi beliau bagi masyarakat Bagu dan wilayah Lombok pada umumnya. Lembaga pendidikan yang tumbuh di bawah naungan yayasan pesantren tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kesinambungan perjuangan pendidikan yang beliau bangun.

Pengabdian panjang di Nahdlatul Ulama

Selain dikenal sebagai pengasuh pesantren, TGH. Turmudzi Badaruddin juga memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Beliau pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah di tingkat lokal dan wilayah serta menjadi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di lingkungan NU Nusa Tenggara Barat, beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh senior yang memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan dan organisasi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengabdian beliau tidak terbatas pada lingkungan pesantren. Beliau turut mengambil bagian dalam menjaga tradisi keagamaan, memperkuat kelembagaan ulama, dan merawat hubungan antartokoh masyarakat.

Pada Februari 2023, Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin menyempatkan diri mengunjungi beliau di Pondok Pesantren Qomarul Huda. Kunjungan tersebut menjadi salah satu gambaran penghormatan terhadap kedudukan beliau sebagai sesepuh NU dan tokoh agama di NTB. (Sumber: Sekretariat Negara RI, 9 Februari 2023).

Teladan keilmuan dan pengabdian

Dalam perjalanan hidup seorang ulama, warisan tidak hanya tercermin dari jabatan atau kedudukan yang pernah diemban, tetapi juga dari ilmu yang diajarkan, generasi yang dididik, dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada masyarakat.

TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin merupakan figur yang perjalanan hidupnya lekat dengan dunia pesantren, pendidikan Islam, dan pengabdian kepada umat. Ketekunannya menuntut ilmu, kiprahnya dalam mengembangkan lembaga pendidikan, serta keterlibatannya dalam organisasi keagamaan menjadi bagian dari rekam jejak yang patut dikenang.

Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu dan lembaga pendidikan yang berkembang di bawah naungannya menjadi bagian penting dari kesinambungan perjuangan tersebut. Melalui pendidikan, nilai-nilai keislaman dan tradisi keilmuan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berpulang dengan meninggalkan warisan perjuangan

Kabar wafatnya TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin, sebagaimana diumumkan dalam poster belasungkawa RSUD Provinsi NTB, menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang seorang ulama yang mengabdikan hidupnya bagi agama, pendidikan, dan masyarakat.

Kepergian beliau bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan para santri, melainkan juga bagi masyarakat yang selama ini mengenal dan menghormati kiprahnya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilaf dan kesalahannya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan, para santri, dan seluruh masyarakat yang berduka diberikan ketabahan dan kekuatan.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga ilmu, keteladanan, dan perjuangan beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir serta menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.